-->

Pages

Wednesday, August 4, 2010

Sempurnaa..

Mestinya ini diposting waktu kita (kiitaaa..? 'Sebagian dari kita' kalee.. ^_^) masih aktif di kampus, jaman muda belia :D. Masa-masa rajin nongkrong di unit kegiatan mahasiswa, banyak bikin acara ini itu dan ngundang2 narasumber ya..


Tapi gak papalah, wong emailnya baru dapet sekarang.


Saya bacanya sampe ngakak, ngebayanginnya agak-agak gubrak (lebay si..). Ya gimana engga, yang diundang ni narasumber kampiun, penulis, sekaligus wartawan. FYI, saya dapet ini via milis Forum Lingkar Pena, dikirim oleh Bung Tasaro GK.


Ini share nya beliau di milis. Lucu plus prihatin2 gimana gitu.. :)

---

Akhir pekan lalu saya ke Jakarta. Salah satu kampus mengundang saya. Undangan yang nyaris batal gara-gara panitia mau mengundur jadwalnya. Saya katakan, kalau lewat tanggal 30 saya sulit menjadwal ulang. Sebab, agenda di beberapa kota sudah menunggu. Panitia beralasan tidak ada bujet. Saya menjawab, “Saya mau datang bukan karena duit.” Deal, saya tetap berangkat. Dari sehari sebelumnya, panitia terus-menerus sms untuk memastikan keberangkatan.

Biasanya, saya membawa kendaraan kantor untuk acara-acara yang tidak terlalu jauh dari Bandung. Sekalian mengunjungi sanak keluarga tentu saja. Tapi, kali ini tidak. Saya naik kendaraan umum. Travel. Panitia menjanjikan, sampai ke travel langsung dijemput dibawa ke kampus. Saya lega. Sebab, saya tak hapal Jakarta.


Sampai pool travel di bilangan Blora saya menunggu. Ada perempuan muda, saya tebak dia mahasiswa, bolak-balik di depan saya sembari mengobrol dengan temannya. Dia datang dengan motor. Ada feeling sebentar, jangan-jangan dia yang jemput saya? Naik motor di panasnya Jakarta sesiang itu? Saya usir kemungkinan tadi. Mudah-mudahan bukan.


Panitia dari kampus menelepon lagi. Memastikan penjemput sudah datang. Ternyata memang perempuan muda tadi dan satu lagi temannya. Okey, saya mencoba mengatur mood saya. Anggap saja bertualang di ibu kota naik motor… dan … wuuuussss. Saya mencoba membuang rasa mood yang jatuh drastis dengan mengajak bicara mahasiswa yang saya boncengi. Bertanya-tanya tentang kampusnya. Tidak mulus. Sebab, si pengendara ini sibuk berkomunikasi (baca; berteriak-teriak) dengan perempuan muda yang tadi menjemput saya bersama-sama. Habis bensin, rute yang salah, hingga masuk jalur yang di situ sepeda motor dilarang masuk. Alis saya terangkat dua-duanya.


Okey, saya berusaha keras untuk membuat mood saya tetap baik. Meski sumpah, saya salah kostum! Berjas, berkemeja putih, meski bawahannya jeans. Lha, kan ini acara kampus? Sapa tau bapak dan ibu dosen ikut datang. Saya kan harus sopan (sopan kok sombong).


Maka, sepanjang perjalanan yang lebih dari satu jam, saya sibuk dengan laptop di samping badan, khawatir tergencet bus atau kendaraan lain yang bersliweran. Sempurna. Saya kembalikan lagi memori saya ke masa mahasiswa. Ah, harus maklum, mahasiswa ya beginilah. Panas, macet, dan sport jantung sepanjang perjalanan. Masih ditambah rasa kasihan saya kepada mahasiswi yang menjemput saya tadi. Eaaalaaah, ke mana sih ketua panitia dan para lelaki di dunia ini? Mosok akhwat nan shalihat disuruh kebut-kebutan jemput saya yang hina dina dari ujung ke ujung kota.

Sampai sudah ke kampus megah nan banyak mahasiswanya itu. Persisnya di masjid kampus yang tak kalah gelegarnya. Wah, mood saya agak naik. Setidaknya acaranya akan seru. Begitu masuk ruangan, dengan wajah yang merah kehitaman, saya dipersilakan langsung naik panggung. Haiyyyah….bukan minum dulu, duduk dulu, santai dulu? He….he…he..


Okey, saya ikuti mau panitia. Sampai di atas panggung, kebengongan berlanjut. Audiensnya beragam. Beragam dari arti sebenarnya. Anak-anak TPA, siswa SMK, dan mahasiswa. Hmmm…. Tantangan. Bahasa apa yang saya pakai untuk menerangkan bedah buku Muhammad (Lelaki Penggenggam Hujan) sementara pesertanya begitu beragam? Ya, sudahlah. Pokoknya jalan. Berusaha tetap enerjik, tapi susah bukan main. Pandangan saya silau karena ruang terlalu terbuka dan menghadap cahaya. Badan saya masih lemas, karena terakhir sarapan sekadarnya dan perut belum terisi sama sekali. Minum saja akhirnya banyak-banyak. Karena tidak mungkin saya ngemil gorengan di atas panggung. Tapi saya tetap berusaha berbicara dengan semangat.


Terselamatkan oleh azan Ashar. Break dulu. Saya sudah jamak di perjalanan. Jadi, masuk ruang tunggu saja akhirnya tanpa harus naik masjid untuk bersembahyang. Karena kursinya cuma satu, saya memilih duduk di lantai. Panitia mengobrolkan agenda training setelah bedah buku. Saya sampaikan, situasi tidak mendukung. Saya butuh ruangan tertutup, layar LCD dan proyektor. Baru panitia sibuk kemudian. Mencari adakah ruangan yang bisa dipakai. Sejak awal, padahal, saya sudah wanti-wanti perihal ini. Request yang tidak pernah saya lupa kepada panitia adalah: ruang tertutup, kabel ke speaker dari notebook, layar LCD, dan proyektor. Saya tidak pernah mensyaratkan amplop seisinya dalam pelatihan menulis saya. Tapi, empat komponen itu tidak boleh kurang.
 Ternyata panitia tidak memerhatikan hal ini. Ruangan terbuka, mana bisa visual layar LCD terlihat optimal. Mereka mencari alternatifnya sementara bedah buku berlanjut. Akhirnya saya bisa mengembalikan semangat bicara saya. Kembali meletup-letup seperti biasa. Penanya pun bermunculan. Hingga dengan sekonyong-konyong panitia datang ke panggung dan memberitahukan, ada ruangan kosong untuk pelatihan. Lho, bukannya biasanya informasi seperti itu ditulis di secarik kertas lalu diserahkan ke moderator? Saya sedang berbicara di atas panggung, pastilah jadi terdiam, mendengarkan. Terpotong diskusi itu jadinya.


Ya, sudahlah…. Namanya juga mahasiswa. Bedah buku selesai, berlanjut ke pelatihan. Sebelumnya saya minta kepastian panitia, dengan apa saya pulang nanti. Sebab, travel sudah sold out tiketnya. Tinggal bus atau kereta. Akhirnya saya nitip dibelikan tiket kereta. Saya ambil inisiatif itu, karena saya ragu apakah panitia sudah memikirkan bagaimana saya pulang malam itu. Sewaktu di perjalanan ke kampus pun, ketika saya bertanya dengan apa saya pulang? Sebab, travel sudah full booking. Panitia menjawab, “Wah, tidak tahu, Kang?” Saya balas lagi sms, “Kalau tidak tahu terus apa solusinya?” Dia menjawab apa entah, saya sudah malas membacanya.
 Pelatihan dimulai, dan saya bengong untuk kali ke sekian. Tidak ada persiapan seperti yang saya pesan. Akhirnya peserta mesti menunggu lumayan lama sementara panitia mengulik ini itu. Paling fatal, tidak ada kabel laptop ke speaker.


“Pakai mic bisa kan, Kang?” kata pantia. Saya mengelus dada (tidak dalam arti sebenarnya). Bukan soal bisa atau tidak. Ini perkara apa yang saya pesan tidak dilaksanakan. Kalau memang ndak siap, ngapain dipaksakan. Mending saya pulang.


Tapi, ya sudahlah. Pelatihan dimulai. Tentu kualitas speaker laptop disambung mic tidak optimal. Saya pun mesti memegangi mic sepanjang audio training berjalan. Artinya, saya harus duduk terus di belakang meja. Sesuatu yang paling tidak pernah saya lakukan di pelatihan menulis mana pun. Feed back sound …. Nguiiiing … nguiiiiing, panitia bersliweran, layar LCD tertutup bayangan panitia. Ahai …. Saya geleng-geleng kepala (dalam arti sebenarnya).


Sudahlah, yang penting selesai. Begitu saya pikir akhirnya. Pukul setengah tujuh malam, saya harus lari ke Gambir. Kereta berangkat ke Bandung, pukul 07:00 malam. Naiklah saya motor babak kedua. Lagi-lagi sport jantung karena nyaris menghajar angkot yang seenaknya nyelonong ke pinggir jalan (atau kita yang salah hendak menyalip dari kiri?).


Sampai juga ke Gambir. Terjadilah kemudian tragedi itu (lebay ini mah). Saya yang tidak hafal Jakarta masuk ke Stasiun Gambir yang terkenal itu dan melihat ratusan hingga ribuan orang terlantar tanpa mendapat kereta. “Kereta anjlok di Manggarai. Semua jadwal perjalanan ditunda,” kata seseorang yang saya tanya.


Apaaaaaaaaaaaa! (gaya Opera van Java). Gimana dunk? Tanya sana-sini, akhirnya tahu bahwa rute ke Bandung dan semua kota dialihkan ke Statsiun Senen. Di mana pulak itu Senen? Dekatkah dengan Statsiun Selasa, Rabu, atau Kamis?


Sudah mau mencegat taksi, tapi saya ragu, karena ini Jakarta. Kalau saya dibawa kabur gimana? (wakakaka). Saya sms panitia tadi. “Halooo….. kereta anjlok, semua pemberangkatan dialihkan ke Senen. Gimana ni?” Jawabannya, “Yang ngantar udah pulang, ya, Kang?”


Apaaaaaaaaaaaaaaaa! Itu saja usahamu, Nak? Saya malas jawab kemudian. Saya cuma berpikir, panitia ini memang ndak paham sama sekali bagaimana menerima tamu dan memenej acara. Lalu berpikir lagi, pokoknya pulanglah. Naik angkot juga hayo (nggak segila itu juga, sih). Akhirnya, saya tanya satpam, dan ikut bergerombol dengan ratusan orang yang berebut naik bus Damri yang disiapkan PJKA. Haiyyah, kayak lebaran saja.


Sampai Senen, antrean sudah tak terkira. Kereta yang berangkat sekitar pukul 21:00 adalah kereta yang dijadwal berangkat pukul 16:00 sore. Bisa dihitung, saya yang harusnya berangkat pukul 19:00 jadi mundur berapa jam.


Selesai. Saya naik kereta menuju Bandung tanpa kursi. Berdiri saja berjubel dengan yang lain. Kelelahan, entah sampai mana itu, saya ndeprok … selonjor kaki di lantai kereta. Sama sekali tidak macthing kostum yang saya pakai. Berjas, bawa laptop, kemeja putih, lesehan di lantai kereta. Biarin.

Sepanjang perjalanan saya menunggu sms panitia. Tidak ada. Kok beda, ya? Sewaktu berangkat, dikit-dikit sms, “Sampai di mana, Kang?” “Berangkat jam berapa, Kang?” dan “kang-kang” yang lain. Giliran pulang ndak ada sms apa gitu.


Kalo saya ndak sampai di rumah gimana? Kalau saya dirampok di jalan gimana? Kalau saya nginep di stasiun gimana? Wong posisi terjebak di Gambir saya pajang di status FB saja, banyak yang nawarin nginep di kost atau rumah-nya. Ini panitia malah cuek tiada tara.


Sepanjang perjalanan itu juga saya berpikir. Ini apa yang terjadi sebenarnya? Apakah saya sebagai pembicara yang tidak ikhlas, sehingga berharap mendapat perlakuan yang lebih, atau memang panitia yang luar biasa ter … la … lu?


Bentar … bentar. Dengar-dengar penulis lain bahkan mematok fee segala kalau sudah bicara. Besarnya bisa bilangan juta. Saya tidak lho. Aseli Dagadu buatan Jogja.


Denger-denger, penulis lain pasang kelas minimal penginepan jika mereka diundang ke luar kota. Halah, saya nginep di Mesjid juga mau. Di Surabaya setahun lalu, saya diinapkan di asrama mahasiwa yang busyet, dah, berantakannya. Kamar mandinya asoy geboy berjejal segala kejorokan. Tapi saya enjoy-enjoy saja. Wong panitianya menerima saya dengan penuh etika (halah!). Pukul 01:00 dini hari mereka menunggui saya dan mengantar sampai asrama.


Di salah satu kota di Jawa Barat, saya juga ndak dibayar sama sekali. Padahal tempatnya di ujung dunia begitu deh. Tapi ampuuun. Melihat wajah-wajah itu yang begitu ingin belajar bagaimana menulis, semangat mereka, kesungguhan panitia, saya ndak masalah dengan tidak adanya bujet atau jenis layanan yang memikat.


Meski jujur, saya pun tidak menolak jika panitia memberikan apresiasi yang lebih. Misalnya saat mengisi acara di Jakarta, Solo, atau Bogor. Perjalanan kelas eksekutif, hotel bintang, konsumsi , dan fee yang lebih dari cukup. Tapi itu bukan standar saya.


Heran juga. Saya menandai sesuatu yang mungkin juga bukan sesuatu yang standar.


Saya diundang berulang-ulang oleh organisasi pelajar dan diperlakukan jauh lebih baik. Iya … mereka anak-anak SMP dan SMA. Beberapa kali; di Bandung, Kuningan, Cirebon, Jember, dan lain-lain. Setidaknya saya tidak perlu memikirkan makan di mana, naik kendaraan apa. Tapi, diundang mahasiswa, di luar kasus mutakhir ini, acapkali saya diperlakukan tidak mengenakkan.


Jadi, ini persoalan saya tidak ikhlas atau panitia yang ter … la … lu, ya?
 Orang boleh saja komentar, ah, kalau ikhlas ngapain juga ditulis, diungkit-ungkit?


Jawabnya, yang mengalami seperti ini tidak hanya saya, tentu saja. Ini bukan perkara ingin diistmewakan, tapi ajaran kepada kita bagaimana baiknya memuliakan tamu.


Atau begini saja. Para pembicara; penulis, pendakwah, dll, belajar lagi bagaimana mengkhlaskan diri. Pada lain sisi, para panitia (bener gak tuh?) juga berupaya belajar lagi, bagaimana memuliakan tamu dan memenej sebuah acara?


Ah, entahlah. Menurutmu, bagaimana?

***
 Epilog; sampai Bandung, karena sudah “lewat tengah malam” (jadi inget film Suzanna), saya terpaksa naik taksi sampai rumah yang ongkosnya tiga kali lipat biaya kereta itu sendiri. Menyanyilah saya lagu “Sempurna” versi Gita Gutawa yang nadanya melengking tak ada tandingannya: Sempurnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!