-->

Pages

Sunday, July 22, 2018

Stitch Along (SAL) Harta Karun Juni 2018: Netherlands

When life gives you lemons, make lemonade.
When life gives you hands, make handmade.


Selamat siang, apa kabar semua? Kabar dari sini berhembus agak sedikit kelabu. Yeah, that kind of life-throws-you-curve-but-you-learned-to-swerve things. Enihooo, I finally made to fill my days with things that make me happy, which involved LOTS of crafting, writing and spending time with my dear sweetest little family. I am so very thankful of having them right by my side.

Apa kabar Plastic Free July? Udah berjalan setengah bulan lebih sejak postingan lalu. Masih semangat kok, saya akan tulis lagi tentang event ini di postingan berikutnya ya, kalau nggak lupa 😁😁

Bai de wei baswei, bulan kemarin saya nggak posting progress SAL ya. Karena setoran SALnya baru selesai persis sebelum deadline jam 12 malam berdentang dan kereta kencana Cinderella berubah jadi labu kembali. Nyarissss banget lewat sih, sebenarnya 😁 Untung teman saya yang baik hati dan tidak sombong yang sedang rajin-rajinnya mainan benang tapi males banget ngapdet craft blognya ini, mengingatkan pas malem hari H, "Bulan Juni cuma sampek tanggal 30 mbaak..." di saat saya mengira dengan girang hati bahwa masih ada sehari lagi waktu buat ngelembur setoran SAL.



Akhirnya berhasil setor juga sih, setelah panik berusaha nyelesaiin kristikan dengan kecepatan cahaya, sampek jari ketubles-tubles jarum πŸ˜‚ Belom selesai bagian backstitch-nya, tapi dimaafkan kok. Yang penting gak telat setoran. Alhamdulillaah... Adminnya galak soalnya πŸ™ˆ, wahahaha... piss mbak-mbak admin πŸ˜† Di sini kita bisa lihat ya, bahwa backstitch yang sederhana itu (hanya berupa garis hitam saja) punya dampak signifikan dalam mempercantik hasil kristikan akhir.


Tema bulan ini : Netherlands



Lihat ni mbak-mbak Dutch Lady-nya (setelah saya selesaikan semua backstitch-nya), imut sekali yaaa... Soda stich memang paling jago bikin karakter imut ala komik. Sukaaaa banget 😍. Imutnya ini yang bikin saya semangat mengerjakan proyekan ini. Warna di pola Netherlands nggak sebanyak Korea sih, jadi pengerjaannya relatif lebih cepat selesai asal nggak dikerjain mepet waktu deadline.

Tapi yang namanya manusia tiada lepas dari salah dan khilaf mah kagak ada kapok-kapoknya yaaa.. tetep juga buat setoran SAL saya baru mulai buka kitnya hari belakangan ini 😁 Semoga kali ini nggak perlu Bandung Bondowoso buat mendatangkan seribu jin untuk lembur semaleman di malem hari H yak 😁.


Kembali ke our quote of the day :




.................. I chose to make Lemon Drizzle Cake.



Jadi intinya, bersemangatlah kita semua! Sampai jumpa di postingan berikutnya!


Saturday, July 7, 2018

Plastic Free July

Plastic Free July
Ide utama dari Plastic Free July adalah selama satu bulan berusaha untuk menghindari atau mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Kita bisa memilih bergabung dengan tantangan ini selama sebulan penuh, atau hanya seminggu. Kita juga bisa memilih untuk menghindari secara total penggunaan plastik sekali pakai atau hanya tantangan TOP 4 (kantong plastik, botol plastik kemasan minuman sekali pakai, gelas minum kemasan sekali pakai dan sedotan plastik).


Mengapa Plastic Free July?  
Plastik adalah material yang membutuhkan waktu sangat lama untuk hancur. Ketika kita menggunakannya sebagai kemasan sekali pakai, plastik tidak akan terurai dan berakhir menjadi sampah yang memenuhi daratan dan lautan. Kita dapat berupaya mengurangi kecepatan arus penumpukan sampah plastik dengan mulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Bergabung dengan Plastic Free July
Bulan ini saya bergabung dengan event global Plastic Free July. Saya dari dulu tertarik dengan gaya hidup zero waste, simple and sustainable living, yaitu gaya hidup yang berupaya mengurangi penggunaan individu atau kelompok terhadap sumber daya alam dan sumber daya pribadi. Gaya hidup ini berupaya menggunakan sumber daya alam maupun pribadi secara bijaksana, serta menggunakan sebaik-baiknya apa yang dimiliki. Salah satunya adalah dengan mengurangi sampah. Namun untuk meniadakan sampah plastik sama sekali dalam keseharian, kami belum mampu. Di rumah kami plastik masih cukup sering digunakan. Saat ini kami baru dalam tahapan mengurangi jumlah plastik sekali pakai yang kami gunakan.

Menggunakan kotak makan dan botol minum isi ulang
Saya dan anak-anak punya kebiasaan membawa bekal jika bepergian. Baik ke sekolah, ke kantor, maupun pergi main/jalan-jalan. Apalagi adek masih belum bisa jajan sembarangan, jadi di dalam tas harus selalu tersedia makanan/minumannya. Kami punya banyak stok kotak makanan, jadi wadah bekal bukan masalah. Bahkan saya suka memasukkan kotak cadangan yang kosong, jadi andai pun kami makan di luar, kalau tidak habis sisanya bisa dibawa pulang tanpa perlu dibungkus ulang. Karena ini maka saya punya kebiasaan menimbun kotak makanan 😁 baik beli sendiri, beli karena ditawarin teman, atau mengumpulkan kotak makan hadiah (yang suka jadi bonus pembelian susu/keju/dsb). Anak saya terbiasa membawa bekal ke sekolah karena saya tidak pernah memberikan uang jajan kecuali kalau market day. Di kantor, saya sendiri juga anggota Perbanas (Perkumpulan Bawa Nasi πŸ˜†). Akhir-akhir ini, Mr. Coffeeholic juga mulai masuk menjadi anggota pasukan perbekalan, katanya lebih enak masakan istrinya (uhuk!).



Kami juga selalu membawa botol air kemana-mana, saya bahkan kadang bawa dua: satu untuk air putih dan satu untuk kopi. Mr. Coffeeholic yang senang mampir kedai kopi di jalan ke kantor untuk beli doping pagi (baca: brew coffee) juga selalu membawa reusable tumblernya. Satu dua kali kalau lupa kami masih menggunakan wadah minuman plastik kemasan sekali pakai. Tapi sejak bergabung dengan Plastic Free July ini, saya berusaha sebisa mungkin menghindari, kecuali kalau dapat karena diberi (misalnya meeting snacks/drink).

Tidak membeli makanan dalam kemasan sekali pakai
Sebagian besar take away food dikemas dalam wadah plastik sekali pakai. Bulan ini kami mencoba mengurangi pembelian makanan dalam kemasan sekali pakai. Salah satu bentuknya, ya, mengurangi jajan dan lebih banyak memasak sendiri.



Sisi baiknya adalah sekaligus menghemat pengeluaran yang biasanya dipakai untuk jajan di luar. Kadang-kadang kami masih jajan, tapi diupayakan tidak terlalu sering. Saat membeli jus di kantor, belakangan ini saya membawa mug untuk wadah jus, jadi tidak perlu lagi menggunakan gelas jus dari plastik.



Kami juga mencoba menanam sayuran sendiri. Di postingan ini, saya menulis pengalaman menanam sayuran di media hidroponik. Saat ini kami sedang mencoba menanam brokoli, lumayan subur, tapi pertumbuhannya tidak secepat brokoli yang biasa ditanam di media tanah. Sampai sekarang kami masih harap-harap cemas menunggu "kepala hijau"nya muncul, doakan ya supaya kami bisa segera panen.




Berbelanja menggunakan tas belanja sendiri
Nah, untuk satu ini masih tricky. Untuk belanja bulanan di supermarket, saya masih menggunakan kantong plastik supermarket yang besar. Kantong plastik itu saya gunakan untuk kantong sampah rumah tangga. Saya belum bisa menggantikan penggunaan kantong plastik sebagai pelapis tempat sampah. Di dalam rumah, saya menggunakan tempat sampah ukuran sedang yang dilapis kantong plastik. Kalau sudah penuh, baru kami ikat dan buang ke tempat sampah besar di depan rumah yang diambil tukang sampah dua kali dalam seminggu. Ini yang susah dicari alternatifnya. Kalau tempat sampah dalam rumah tidak dilapis plastik, sisa sampah basah bakal menempel di tempat sampah. Kalau tidak diikat dalam kantong plastik, sampah akan berserakan dan pada saat diangkut ke truk sampah sering berantakan, tercecer/tertinggal. Penggunaan tas belanja sendiri baru saya praktekkan untuk ke tukang sayur. Tukang sayur kan suka nempatin belanjaan terpisah-pisah di kantong kecil-kecil tuh (tomat sendiri, terong sendiri, dsb) , jadi saya bilang ke tukang sayur untuk langsung cemplung saja ke tote bag yang saya bawa. Kecuali untuk yang kecil-kecil macam rebon/teri, kalau ingat saya bawa wadah, tapi seringnya sih lupa πŸ˜“. Akhir-akhir ini, saya upayakan untuk sebisa mungkin menyisipkan tas belanja/tote bag kosong di dalam ransel.

Reading List
Ada beberapa link yang menarik untuk dibaca berkaitan dengan Plastic Free July ini, cukup menambah informasi, sila mampir bila berkenan :

The Issues - Plastic Free JulyPlastic Free July - Eight Acres
100 Steps to a Plastic-Free Life
Looking to Reduce Your Waste?
Reusable Bag to Reduce Plastic While Grocery Shopping

Saya masih newbie dalam hal-hal seputar zero waste ini. Masih perlu banyak belajar. Tapi lebih baik berupaya memulai daripada tidak sama sekali. Senang sekali rasanya menjadi bagian dari gerakan positif ini. Belum terlambat untuk bergabung dalam Plastic Free July, ikutan yuk!

Friday, June 29, 2018

Home at June

Bulan ini bulan mudik. Saya, Mr. Coffeeholic dan anak-anak jelas mudik setiap tahun, karena orang tua kami tinggal di kota yang berbeda dengan tempat kami tinggal saat ini. Jadi ya kami selalu menjadi bagian dari rombongan besar arus pemudik negara ini. Sebelum lebaran mudik dari ibukota ke kampung halaman, dan setelah lebaran kembali lagi ke ibukota. Jam-jam yang dihabiskan untuk bermacet ria di jalan juga mau tidak mau sering kami alami dalam perjalanan menuju dan kembali dari kampung. Manteppp pokoknya. Pun tahun ini, nggak kalah top macetnya πŸ˜…. Pokoknya sampai rumah pingin nyari tukang pijet aja rasanya 😁.



Nggak banyak foto yang bisa diposting, sebenarnya hari-hari hanya dihabiskan dengan silaturahmi, makan masakan mama, muter-muter kota tempat dibesarkan, serta nguber-nguber balita yang sekarang sudah makin mirip sama gasing, muterrrr terus nggak bisa diem πŸ˜ƒ. Wis pokoknya boro-boro bisa lama megang hape, emaknya ini sibuk diajak olahraga lari sana-sini sama adek.

Saya nyaris nggak bawa macam2 printilan craft selama mudik. Kami packing seringkas mungkin karena biasanya nanti barang-barang bawaan akan "beranak-pinak" di kampung. Misalnya nih, setiap pulang hampir pasti mama akan membawakan sekarung beras. Sekarung beras lumayan memenuhi bagasi mobil mungil kami, jadi untuk memastikan tempatnya aman buat karung beras (dan berbagai jajanan khas kampung halaman yang pasti bakal dibawa juga), kami berusaha nggak bawa banyak bagasi dari rumah. Saya hanya bawa WIP rajutan simpel, yang gak selesai juga di sana wong banyak mondar mandirnya daripada duduk diem 😁.

Tapi eh dasar kebanyakan hobi, sampai sana tetep juga pingin ini itu. Berhubung di kampung susah banget nyari toko craft (atau saya yang nggak tau karena kudet), jadi paling banter untuk happy happy shopping saya ngacir ke toko buku. Hasil dari ngacir ke toko buku itu adalah buku Kamus Rasa-nya Sarah Diorita. Belakangan baru saya tahu kalau mbak Sarah Diorita adalah istrinya Eross gitaris Sheila on 7, band yang mengiringi masa galau gundah gulana saya (ketahuan angkatannya yak?! πŸ˜‚) Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk mengambil bukunya. Saya udah jatuh hati sejak melihat tampilan covernya di rak toko buku. Gambar ilustrasi keluarga dengan tema memasak. I do loooooove any books with cooking, food, or family theme. Gak mikir dua kali langsung angkut. Daaaan... ternyata saya sukaaaa banget dengan bukunya. Empat bintang deh! Nanti kalau ada waktu saya review di blog sebelah yang khususon urusan perbukuan yaak..




Selama di kampung, saya juga belajar hal baru dari mama. Belajar bikin sambel terasi jos mantep ala mama. Harusnya dari dulu sih, tapi namanya anak pemalas mah baru belajar belakangan ketika sudah kepepet dan didesak sama Mr. Coffeeholic yang pingin makan sambel terasi enak macam di kampung 😁. Karena tau menantunya ini pemalas, jadi mama ngajarin langsung large cooking batch, masak sambel porsi besar jadi bisa untuk stok yang disimpen di kulkas. Jadi ngga perlu bikin every single day. Dan satu lagi jalan pintas yang dikasi khususon buat saya: blender aja. Mungkin mama gak sanggup melihat saya ngulek, yang ada bukannya ngulek, malah sibuk ngambilin potongan cabe ama bawang yang lompat dari cobek karena kehantam ulekan πŸ˜‚ Udahlah diblender aja!




Dengan modal ikut workshop sambel selama di kampung, sampe rumah kemarin saya langsung recook. Dan woohooo! Jos mantep, berhasil berhasil berhasil horee! Nampak jelas dari Mr. Coffeeholic happy tongue and tummy 😍. Oh, dan sambel terasi ini sungguh mempermudah urusan menyiapkan makanan. Sambel terasi enak itu meng-upgrade menu sederhana. Tinggal bikin lauk goreng dan sayur simpel, siapkan sambel, menunya langsung "naik kelas". Apalagi buat Mr. Coffeeholic yang lidahnya seratus persen Sunda. Dipakai untuk bumbu nasi goreng juga praktis dan enaaak... gak perlu lagi pake bawang. Kayanya saya bakal rajin nyetok nih 😁.




Oh iya, saya juga sempet bikin coret-coretan di jurnal karena terinspirasi ilustrasi lucu-lucu di buku Kamus Rasa. Rasanya menyenangkan dan puas ya melihat hasil corat-coret sendiri, semoga punya lebih banyak waktu deh untuk melakukan journaling lagi.



Sekarang libur sudah usai, dan sudah kembali ke rutinitas normal. Ketemu kantor dan KRL lagi. Tapi lebih fresh karena sudah recharge, ganti suasana pas mudik kemarin. Jaga kesehatan yaa semua, apalagi cuaca masih nggak menentu begini. Dan tidak lupa kami sekeluarga mengucapkan :


"Taqabbalallahu minna wa minkum
Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H
Mohon maaf lahir dan batin"