-->

Pages

Tuesday, February 13, 2018

Simple Home Life

Setelah berdadah-dadah dengan tahun 2017 di postingan yang telah berlalu ini, dan berniat semakin semangat ngeblog di tahun yang baru, apa daya realita berkata lain 😅 Sejak awal tahun bergulir, deadline pekerjaan juga datang segabruk-gabruk, yang mengakibatkan waktu saya tersita untuk urusan kantor dan mondar-mandir kesana kemari. Sampai-sampai neneknya harus diimpor dari kampung halaman untuk menemani anak-anak karena emaknya statusnya otw melulu 😔.


Oke lah, untuk urusan satu ini saya harus belajar memanajemen waktu dengan baik, dengan lebih efisien, tidak menunda-nunda kewajiban, dan menentukan prioritas mana yang lebih penting dibanding yang lainnya. Ah, PR sepanjang masa ini mah...

Karena status yang otw melulu itu, saya jadi punya waktu untuk membaca. Yah, secara pakai moda transportasi publik, ada banyak momen bengong yang hanya bisa dihalau dengan musikan, atau hapean nonton korea, atau membaca. Saya lebih banyak memilih opsi terakhir, lebih hemat kuota dibanding harus strimingan sepanjang jalan 😅.

Saya sedang tertarik dengan gaya hidup simple living. Saya sangat terinspirasi dengan Rhonda Jean Hetzel melalui blognya Down To Earth. Oma Rhonda adalah mantan jurnalis yang pernah menghabiskan hari-hari menjadi bagian dari rat race, kesibukan para pekerja di kota besar. Gaji besar dan dunia kerja yang akrab dengan konsumerisme merupakan bagian dari kehidupan Rhonda semasa bekerja. Sekarang di usianya yang sudah lanjut dan memasuki masa pensiun, Rhonda dan suaminya menerapkan simple living di rumah mereka di daerah pedesaan. Simple living adalah gaya hidup yang memanfaatkan semaksimal mungkin sumberdaya yang dimiliki saat ini, baik itu berupa uang, waktu, maupun barang. Simple living mendorong kita untuk menghindari konsumerisme dan berupaya mencukupi kebutuhan sendiri dengan produksi sendiri, misalnya membuat produk handmade untuk sehari-hari, memasak sendiri, atau berkebun sayuran.

"Make do with what you've already got. Repurpose and recycle. Focusing on budgets, buying and growing food, cooking, baking, cleaning. Get your spending under control, work to use less of everything - less electricity and water, fewer products, less waste and packaging." -Rhonda Jean



Saya menyukai ide tersebut. Self sufficient life, berusaha mencukupi kebutuhan sendiri. Ide yang ramah lingkungan, ramah anggaran, dan berorientasi pada rumah dan keluarga. Tertarik dengan idenya, saya bahkan membeli buku yang ditulis Rhonda, Down to Earth. Saya membeli edisi ebooknya karena jauh lebih murah daripada versi cetaknya. Saat ini saya sedang membacanya, dan sangat menikmatinya sejauh ini. Banyak informasi dan tips, bagaimana mengatur pengeluaran rumah tangga agar bijaksana dalam membelanjakan uang. Cocok banget nih buat saya.

Tips-tips yang Rhonda berikan sangat bisa dipraktekkan dalam keseharian, contohnya nih:

  • membawa bekal ke kantor/sekolah dibanding beli makan siang


Kecuali yang susah untuk dibikin sendiri, seperti martabak atau lumpia rebung. Martabak karena wajannya khusus bok, bedaaa kalo bikinnya pake teflon di rumah. Atau lumpia rebung yang susah nyari rebungnya 😅



  • bawa kopi sachet daripada beli kopi mahal di gerai kopi cantik (*uhukk* ini nih yang susah secara gerainya kelewatan saban hari di perjalanan rumah-kantor-rumah dan mampirable banget suasananya)
  • membuat produk handmade yang bisa digunakan untuk sehari-hari agar tidak perlu membeli. Ini bisa menjahit, memodifikasi barang yang sudah ada, atau kalau buat saya: merajut. Selain menghemat karena tidak perlu beli baru, juga melatih otak agar tidak mudah pikun (kata oma Rhonda nih). Asal nggak kebanyakan beli benang, ujung-ujungnya bisa boros juga kalau beli benang.


Kantong yang saya buat untuk Kakak, katanya untuk menyimpan barang-barang dari kakek dan neneknya. Bahkan Kakak sampai menulis surat juga untuk kakek dan neneknya 😁


  • mengubah belanja mingguan menjadi bulanan agar lebih hemat dan gak bolak-balik ke swalayan yang berpotensi bikin mata lapar buat bebelian yang gak diperlukan. Cara berhemat belanja bulanan ini banyak lho di yucub. Ibu-ibu muda homemaking youtuber banyak yang berbagi cara berhemat belanja dengan membeli grosiran. Ya, grosiran di luar negeri sono sih, tapi bisa diaplikasikan kok disini. Ini salah satu hobi baru saya yang boros kuota haha, jadi nggak boleh sering-sering strimingan.

  • mencatat setiap pengeluaran untuk bahan introspeksi diri, bahwa yang kita beli benar barang yang diperlukan atau sekadar hura-hura 😅
Dan satu lagi tips Rhonda untuk inspirasi simple life: berkebun. Yakkk, ini teguran *jleb* nih. Hidroponik udah sebulan nggak terurus karena saya patah hati gagal membibit brokoli, dan juga karena status yang otw melulu itu tadi. Kalau di rumah, waktu sudah fokus habis untuk anak-anak, jadi susah sekali mencari waktu untuk beres-beres hidroponik 😭 harus bisa memanage waktu dengan lebih baik nih... Mudah-mudahan segera punya waktu untuk beberes hidroponik dan beli bibit brokoli kualitas bagus biar berhasil disemai semuanya.

Teguran kedua juga untuk saya belajar lebih banyak makan sayur, huhuhu masih susah makan sayur dan buah nih padahal udah tua begini. Jangan sampai anak-anak ikut emaknya, harus rajin kasih contoh makan sayur ke anak-anak. PR banget ini...



Selain itu saya juga punya wishlist nih, hehe.. Lagi seneng baca buku-buku tentang simple life, gardening, homemaking, homesteading.. Apalagi setelah buku Rhonda yang menginspirasi banget di atas. Jadi pingin punya ini..


Ah.. nanti setelah buku Down to Earth selesai dibaca (dan direviu yak! Blog sebelah sampe berdebu gak pernah ditengok-tengok 😂). Okai, sekian dulu, see you at next post, sehat-sehat selalu ya semua walaupun cuaca semakin berhujan akhir-akhir ini. Semangat!


Friday, December 29, 2017

Catatan Akhir Tahun

Akhir tahun ini diwarnai dengan tanggal merah berjejer di kalender. Sebentar lagi waktunya mengganti kalender lama dengan angka tahun yang baru. Jatah 365 hari di tahun 2017 sudah hampir sampai di ujungnya. Dipikir-pikir, apa yang sudah saya kerjakan di tahun ini ya?


1. Lulus kuliah. Blessing banget ini. Sejujurnya saat memulai, saya sendiri ragu-ragu, bisa nggak menyelesaikannya nanti. Alhamdulillah semuanya dilancarkan dan dipermudah. Dukungan keluarga adalah support terbesar saya, terutama di waktu injury time.


2. Kembali ngantor lagi. :D Karena kontrak cuti sekolah berakhir, berakhir juga kontrak sebagai SAHM. Balik lagi jadi ibu bekerja. Saya bersyukur anak-anak sudah mulai bisa mengerti. Walaupun Adek masih suka demonstrasi kalau ditinggal berangkat ngantor, tapi demonstrasi itu tanda cinta, jadi saya menerimanya dengan penuh kasih sayang. "Hilang"nya jam-jam kebersamaan karena harus digantikan dengan jam kantor, membuat kami lebih menikmati momen berkumpul bersama. Sekarang setiap malam kami menikmati leyeh-leyeh bersama (Adek masih di usia yang seneng ndusel-ndusel, meluk dan ngelendotin ibunya) sambil menjalankan kesenangan masing-masing. Kakak biasa bercerita tentang sekolahnya hari itu, atau membaca, atau sekadar duduk menonton televisi bersama.


Kadang-kadang berebut atau bertengkar dengan Adek, membuat kami sibuk melerai dan membujuk untuk saling berbaikan, Sometimes it was easy, sometimes took longer time and more effort (and Batman voices, too). Keramaian yang selalu saya rindukan setiap kali berada di luar rumah. Saya sendiri biasa menghabiskan waktu untuk merajut, atau membaca, atau sekadar uwel-uwelan dengan anak-anak. My most precious time.


3. Menyelesaikan beberapa proyekan kreatif, the taraaa! moment, amigurumi Annie boneka matryoshka, Spice of Life blanket, tas rajut Hexagonal, dan atasan croptop Breanah. Banyak juga ya, saya jadi lumayan merasa bangga. :D Ah, lihat, instagram best nine (btw akunnya @astutibaning, monggo follow ;p) pun menunjukkan tahun yang kreatif. Walaupun nggak sebanyak suhu-suhu crochet/knit yang lain, tapi bagi saya setiap berhasil menyelesaikan satu project, itu prestasi. Saya menikmati setiap proses dalam membuat karya handmade, terutama merajut. Merajut menjadi semacam terapi untuk merilekskan pikiran yang sibuk dan bising sepanjang hari. Membuat karya handmade adalah momen me time  Walaupun sering tidak sempurna dan ada kesalahan/kekurangan di sana-sini, namun setiap sentinya dibuat dengan cinta.


4. Membaca kembali. Tahun belakangan, frekuensi membaca saya menurun drastis. Hobi yang lebih banyak saya tekuni adalah merajut. Progress di blog sebelah jadi nggak maju-maju, pun di Goodreads. Tapi akhir-akhir ini, saya mulai menikmati membaca kembali. Hanya kali ini tipe bacaan saya sedikit berubah. Saya saat ini cenderung memilih buku non fiksi, dengan tema sehari-hari seputaran diri sendiri dan lingkungan sekitar, keluarga, rumah, tentang hal-hal yang saya temui sepanjang hari. Saya juga sedang suka dengan buku yang memiliki banyak gambar indah, baik ilustrasi maupun foto. Gambar membantu otak saya mencerna apa yang ditulis, dan mengistirahatkan mata dari jenuh tulisan dengan menikmati warna dan foto/ilustrasi yang indah. Warna-warni cerah dan gambar yang indah seringkali menginspirasi.



5. Menulis kembali. Tahun ini saya juga mulai aktif menulis kembali di blog. Saya rindu menulis. Di sini saya bisa berbagi tentang cerita keseharian, hal-hal yang menyenangkan, dan hobi yang mungkin bisa menjadi inspirasi bagi yang lainnya. Saya ingin lebih banyak menulis dan berbagi. Saya senang membaca kembali apa yang saya posting di blog, mengingat kenangan yang ditulis di dalamnya, hal-hal yang menyenangkan, membuat tersenyum saat mengenangnya kembali.
"There are three keys to a successful blog and they are good content, a clear and simple layout and a spirit of generosity, tolerance, inclusion and kindness." Rhonda Hetzel (Down to Earth) 


Di akhir tahun ini, yang sarat dengan suasana festival (liburan, diskon di berbagai pusat perbelanjaan, harbolnas) saya mendapatkan bingkisan kado. Baik dari Mr. Coffeeholic, anak-anak, maupun yang saya beri untuk diri sendiri. Tempo hari saya mendapatkan waktu me time untuk sekadar creambath di salon langganan dekat rumah. Saya mengambil paket creambath ginseng serta massage bahu dan punggung. Tidak makan waktu lama, tapi sungguh-sungguh merilekskan otot leher, punggung dan kepala. Dan secangkir teh herbal hangat menutup rangkaian terapi. Rasanya pas keluar dari salon itu freeeeeshh...


Saya juga membeli setumpuk buku, ada buku-buku Kakak, dan ada juga buku-buku emaknya. Sebagian adalah traktiran Mr. Coffeeholic dan sebagian lagi traktiran Telkomsel poin di penghujung tahun sebelum poinnya hangus (alias tuker poin) :D Buat yang belum tahu bahwa Telkomsel poin bisa ditukar dengan voucher Gramedia, ada di sini cara penukarannya.


Lihat, saya bahkan berhasil mendapatkan sepasang komik versi bahasa Jepang dan Indonesia! Versi Jepangnya adalah hadiah pembelian beberapa waktu yang lalu (setiap pembelian komik terbitan MnC berhadiah satu komik terbitan Jepang). Tempo hari, saya berhasil mendapatkan versi terjemahannya. Ini wish list Kakak, nih.


Ada juga beberapa buku travel sketch, saya tertarik nih. Saya jadi ingat dengan Mbak Sheila, saya mengikuti feed beliau dan suka membaca dan melihat coretan-coretannya. Jarang-jarang ada buku travel sketch lokal, maka saya membelinya.


Saya juga sempat meluangkan waktu bersama Mr. Coffeeholic untuk berjalan-jalan. Ngabur dari kantor sebentar sih, maksudnya. :D Pergi nonton Star Wars. Walaupun saya bukan fans Star Wars (saya lebih suka Coco, sebetulnya), tapi filmnya cukup seru kok ditonton.


Ah.. ada banyak kenangan dan cerita di tahun 2017. Ada banyak kebahagiaan dan kebersamaan bersama orang-orang tercinta. Di tahun 2018 nanti, ada banyak doa dan harapan. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan semoga tahun yang akan datang menjadi tahun yang penuh keberkahan, lebih semangat, lebih kreatif, dan lebih bermanfaat bagi kita semua. Bismillahirrahmanirrahim.
"May your coming year be filled with magic and dreams and good madness. I hope you read some fine books and kiss someone who thinks you're wonderful, and don't forget to make some art -- write or draw or build or sing or live as only you can. And I hope, somewhere in the next year, you surprise yourself." - Neil Gaiman

Happy New Year! 


Wednesday, December 27, 2017

Panen Sayuran, Resep Cake Gandum Oatmeal dan Cake Gandum Madu

Wiken ini sungguh wiken nan mantap jaya. Mantap panjang liburannya. Cocok banget buat jalan-jalan piknik. Nah, piknik kemana dong kita? Ke dapur. :D Tadinya sih sempat berencana mau jalan-jalan yang agak jauhan, suer. Tapi ada kebutuhan primer yang lebih mendesak, jadinya ya apa mau dikata. Dari kemarin mau nyari tukang bangunan buat ngerapiin rumah gak dapet-dapet. Lha kok pas libur jejer-jejer begini baru dapet. Yaaa sudahlah. Kalau nggak sekarang dicicil, susah lagi nanti nyari tukang. Yes, we are slowly renovating our house. Pelan-pelan tambal sulam dikit di sana dan di sini. Pinginnya suatu hari nanti jadi rumah yang nyaman sesuai harapan.



Lagipula mau kemana-mana juga macet (alesan sih). Tiap libur panjang begini udah kebayang aja bentuk Bandung, Bogor dan Puncak, pasti wewww... muacehehehet... (tetep alesan sih) :D Jadi yaaa.. kita liburan di rumah aja. Bersih-bersih, cuci-cuci gorden, jemur-jemur. Daaan wisata kuliner. Di rumah. :D

Beneran. Saya ngedapur melulu dari kemarin. Hidup berputar antara kompor, rak perkakas, rak bahan makanan, kulkas, sama tempat cucian piring. Rasanya kemarin masak melulu sama cuci piring melulu :D Tapi memasak untuk keluarga saat liburan (kalau hari kerja mah, suka nggak sempattt...) selalu membawa kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Memasak dengan cinta ♥♥.


Biasanya nih, penyakit libur panjang adalah tukang sayur keliling ikut libur. Suka malas keluar komplek ke warung sayur. Pagi di hari libur itu adalah waktu sakral buat mager. Jadi ya kemarin kita berdayakan apa yang ada aja. Apa yang ada di jemuran hidroponik saya. :D Paaas banget kebetulan tanamannya udah bisa dipanen, horeeeee... Tempo hari udah dibuat postingan tentang hidroponik ini ya. Di atas itu foto tumis tempe pokcoy hasil panenan kemarin. ENAK. Seriyes. Renyah krenyes-krenyes.



Hidroponik ini lebih daripada sekadar kebon ringkes buat yang kepingin jadi petani kota, tapi juga sebuah lingkungan ekosistem. Selain tanaman, ada satu ekor ikan cupang yang hidup di tempat penampungan air hidroponik untuk membersihkan jentik-jentik nyamuk. Saya juga sering menemukan belalang hinggap di tanaman hidroponik. Kadang-kadang malah ulat. Kalau ulat pasti langsung saya buang. Makan daun yang lain aja yaaa, jangan makan daun sayuran sayaaa...


Pagi beberapa hari belakangan ini saya modal baskom, pisau sama gunting, trus ke teras depan. Cekres cekres cekres. Panen. Udah deh, dapat bahan buat menu hari itu. Hari pertama, kangkung. Sempat panen sedikit bayam, tapi kami memutuskan untuk memasak tumis kangkung hari itu, jadi panen bayam tidak dilanjutkan.



Tumis kangkung belacan dengan terasi yang murah hati. Saya sukaaa harum terasi hmmm... :) Cuma saya nggak suka ngulek sambelnya. Karena kemarin blendernya mau dipakai untuk blender makanan adek, dan saya males nyuci blender dua kali (apalagi bekas terasi, adek pasti ngga mau makanannya bau terasi), terpaksa saya keluarkan perkakas andalan bibik. Ulekan. Hasilnya? Sambelnya enak. Tapi saya kapok. Saya amatir banget kalau udah soal ulekan. Selalu berantakan kemana-mana dan lama banget dapat tekstur yang dimaui. Pegel book... salut sama ibu-ibu yang bisa efektif efisien dan bersih rapi memakai ulekan *salim satu-satu*. Besok-besok jelas pakai blender saja. Saya punya rasa cinta dan kasih sayang yang besar pada blender saya yang selama ini selalu menggantikan peran ulekan. Ada yang bilang lain rasanya bumbu blenderan dan ulekan. Buat saya mah sama saja. :D Mr. Coffeeholic juga nggak masyalah. Daripada bete perkara ngulek, bisa-bisa batal jadi masakan penuh cinta. :D


Tumis kangkung terasi nyam nyam. Kata temen ini lebih cocok jadi bobor kangkung daripada tumis kangkung saking banyak airnya :D Tadinya ya nggak begini. Ini berhubung udah tinggal sisa karena kangkungnya udah diambilin :D Saking lapernya pada langsung ngambil dan makan, lupa belom dipoto haha... Lauknya ditemenin stok kulkas: telor asin. Nyam nyam.


Hari kedua kami panen bayam, ada bayam merah dan bayam hijau. Yang simpel-simpel aja, andalan sepanjang masa, pecel. Berhubung nggak ada tukang sayur, males keluar, dan kangkung udah abis dipanen kemarin, jadi bayamnya cuma ditemenin bahan yang tersisa di kulkas aja : taoge. Pecel simpel bin ngirit :D Yang penting enakk..


Untuk lauknya, rikuwes Mr. Coffeeholic minta tempe bacem. untungnya tetangga kami pengrajin tempe, jadi cukup ngesot aja kami sudah bisa dapat tempe. Tempe dibeli sehari sebelumnya pas baru saja dibuat, jadi masih bentuk kacang kedelai yang belum tumbuh jamur. Didiamkan semalam, paginya sudah berwarna putih cantik dan siap dimasak.


Dan tadi pagi kami panen pokcoy. Saya menemukan ulat di daun pokcoy yang membuat beberapa daun berlubang kecil-kecil. Tapi tak apalah, memang non pestisida kan, wajar kalau ulat nangkring di situ, enak dan aman dimakan soalnya :D


Tumis lagi. Bosen makan tumis pokcoy ala chinese food, jadinya dibikin tumis terasi (lagi) :D :D Anti mainstream ini namanya. Ah, saya jadi ngeces lagi nih bikin postingan ini. No no no, tak boleh makan lagi, sudah melewati batas waktu makan, kecuali kalau mau sukarela nambah kilogram berat badan (lagi).



Udah itu aja? Belooom... Itu baru main course :D Belom cemilan. Libur 4 hari nggak ada cemilan garing juga. Jadi sekalian kemarin nggak cuma cooking-cooking, tapi baking juga. Memberdayakan tepung gandum yang masih sisa banyak dari Cake Zucchini tempo hari. Karena nggak punya stok zucchini, jadi pakai resep lain. Trus ngeliat resep Cake Gandum Oatmeal ini bagus reviewnya, dan easy peasy. Wah, cocok nih. Saya males kalau baking yang susah-susah, sadar bukan ahlinya, ntar malah bantat gak jadi makan cake.


Bahannya kebetulan ada di rumah semua, jadi praktis tinggal cemplung-cemplung. Resepnya menggunakan takaran cup/teaspoon/tablespoon. Dan saya males (lagi) konversi ke ukuran gram, jadi saya keluarkan measuring cup/spoon sakti andalan untuk resep-resep US macam begini. Tinggal sendok, cemplung, sendok, cemplung. Praktisss... Ini ada link tentang measuring cup/spoon, monggo yang mau membaca lebih lanjut.


Resepnya sendiri mirip-mirip dengan Cake Zucchini tempo hari. Kuenya mengembang sempurna walaupun banyak menggunakan bahan yang berbeda dari resep cake pada umumnya. Mentega diganti dengan olive oil. Gula diganti dengan madu. Bahkan pengocokan juga seadanya saja dengan whisk, nggak menggunakan mikser listrik.


Hasilnya? Menurut Mr. Coffeeholic wuenak. Nggak berhenti nyemil tuh. Teksturnya cenderung kasar tidak selembut cake yang dibuat dengan tepung terigu serba guna. Oatmeal membuat kue jadi berasa nutty, kacang-kacangan gitu. Saya juga bingung, kok oatmeal kalau dipanggang jadi cake begini rasanya nutty? Rasa nutty oatmealnya inilah yang bikin kue ini enak.


Selera Mr. Coffeeholic yang jelas rendah lemak, rendah gula, rendah kalori sebenarnya kurang pas dengan selera saya. Dan kebetulan masih ada sisa tepung gandum yang jumlahnya pas banget untuk bikin satu resep lagi. Dan liburnya juga kan lama, butuh banyak cemilan :p Akhirnya gelar loyang lagi bikin satu cake lagi yang pake margarin, gula, sama susu: Cake Gandum Madu.


Yang ini baru cocok dengan saya :D Penggunaan madu dikombinasikan dengan gula memberikan cita rasa klasik untuk kue ini. Kalau yang kurang cocok dengan kue manis, bisa mengurangi takaran gula/madu dalam resepnya. Cake yang manis, legit, dan pas untuk teman minum kopi. Anybody?

Wuih.. Banyak juga ya hasil ngedapur liburan ini *lap keringet*. Membicarakan tentang makanan, apalagi makanan rumahan, selalu memberi perasaan nyaman yang menyenangkan. Membayangkan suasana rumah, berkumpul bersama keluarga dan makan masakan yang dibuat dengan penuh cinta. Ah, saya sangat bersyukur karenanya. Dan di akhir liburan, jemuran hidroponik saya sudah habis dipanen. Waktunya menyemai kembali.

♥♥ CAKE GANDUM OATMEAL ♥♥

Resep diadaptasi dari Genius Kitchen

Bahan :
2 cup tepung gandum
1 cup cooking oatmeal
2 teaspoon baking powder
1 teaspoon baking soda
1 teaspoon pala bubuk
1⁄2 cup madu
1⁄4 cup extra virgin olive oil
1 cup lemon juice (dari fresh lemon yang diperas airnya)
1 tablespoon ekstrak vanilla
3 butir telur ayam

Cara Membuat :

  • Panaskan oven (saya pakai oven tangkring tanpa indikator suhu, jadi azas kira-kira aja, api sedang agak kecil).
  • Lapisi loyang loaf dengan margarin agar cake tidak lengket, sisihkan.
  • Dalam mangkok besar, campurkan extra virgin olive oil dan madu. Kocok lepas dengan whisk sampai tercampur rata. 
  • Masukkan telur, kocok dengan whisk, sampai telur tercampur rata dengan adonan olive oil dan madu.
  • Masukkan lemon juice, baking powder, baking soda, vanilla, dan pala bubuk, kocok dengan whisk sampai tercampur.
  • Ganti whisk dengan sendok kayu besar, masukkan tepung gandum, aduk rata. Selanjutnya masukkan oatmeal, aduk rata.
  • Tuangkan adonan ke loyang.
  • Panggang selama kurleb 50 menit, sampai tes tusuk gigi keluar dari cake dalam kondisi bersih.
  • Biarkan cake mendingin dalam loyang selama 15 menit, baru keluarkan dari loyang dan dinginkan sempurna.


♥♥ CAKE GANDUM MADU ♥♥

Resep diadaptasi dari Joy The Baker

Bahan :
2 1/4 cup tepung gandum
2 teaspoon baking powder
3/4 teaspoon garam
12 tablespoon margarin
1 cup gula pasir
1/2 cup madu
2 teaspoon ekstrak vanilla
3 butir telur ayam
1 cup yoghurt plain

Cara Membuat :

  • Panaskan oven (sama kaya di atas lah, azas kira-kira :D)
  • Olesi loyang dengan margarin dan taburi tepung. Karena adonan ini jadinya banyak, nggak cukup pakai loyang loaf, jadi saya pakai loyang bolu yang berbentuk lingkaran dengan lubang di tengah.
  • Campurkan bahan kering: tepung gandum, baking powder dan garam dalam mangkuk, sisihkan.
  • Dalam mangkuk mikser, kocok margarin, gula dan madu sampai ringan dan mengembang. Tambahkan ekstrak vanilla. Tambahkan telur, satu-persatu, kocok sekitar satu menit untuk tiap telurnya. 
  • Turunkan kecepatan mikser. Tambahkan bahan kering dan yoghurt dalam tiga tahap, mulai dan akhiri dengan bahan kering. Kerok sisi mangkuk dengan spatula bila perlu agar semua adonan teraduk sempurna. 
  • Tuangkan adonan ke loyang.
  • Panggang selama kurleb 55 menit, sampai tes tusuk gigi keluar dari cake dalam kondisi bersih.
  • Biarkan cake mendingin dalam loyang selama 15 menit, baru keluarkan dari loyang dan dinginkan sempurna.

Oh, I love holiday baking, especially the big mug of milk coffee and cake that follows.