-->

Pages

Showing posts with label books. Show all posts
Showing posts with label books. Show all posts

Friday, June 29, 2018

Home at June

Bulan ini bulan mudik. Saya, Mr. Coffeeholic dan anak-anak jelas mudik setiap tahun, karena orang tua kami tinggal di kota yang berbeda dengan tempat kami tinggal saat ini. Jadi ya kami selalu menjadi bagian dari rombongan besar arus pemudik negara ini. Sebelum lebaran mudik dari ibukota ke kampung halaman, dan setelah lebaran kembali lagi ke ibukota. Jam-jam yang dihabiskan untuk bermacet ria di jalan juga mau tidak mau sering kami alami dalam perjalanan menuju dan kembali dari kampung. Manteppp pokoknya. Pun tahun ini, nggak kalah top macetnya ๐Ÿ˜…. Pokoknya sampai rumah pingin nyari tukang pijet aja rasanya ๐Ÿ˜.



Nggak banyak foto yang bisa diposting, sebenarnya hari-hari hanya dihabiskan dengan silaturahmi, makan masakan mama, muter-muter kota tempat dibesarkan, serta nguber-nguber balita yang sekarang sudah makin mirip sama gasing, muterrrr terus nggak bisa diem ๐Ÿ˜ƒ. Wis pokoknya boro-boro bisa lama megang hape, emaknya ini sibuk diajak olahraga lari sana-sini sama adek.

Saya nyaris nggak bawa macam2 printilan craft selama mudik. Kami packing seringkas mungkin karena biasanya nanti barang-barang bawaan akan "beranak-pinak" di kampung. Misalnya nih, setiap pulang hampir pasti mama akan membawakan sekarung beras. Sekarung beras lumayan memenuhi bagasi mobil mungil kami, jadi untuk memastikan tempatnya aman buat karung beras (dan berbagai jajanan khas kampung halaman yang pasti bakal dibawa juga), kami berusaha nggak bawa banyak bagasi dari rumah. Saya hanya bawa WIP rajutan simpel, yang gak selesai juga di sana wong banyak mondar mandirnya daripada duduk diem ๐Ÿ˜.

Tapi eh dasar kebanyakan hobi, sampai sana tetep juga pingin ini itu. Berhubung di kampung susah banget nyari toko craft (atau saya yang nggak tau karena kudet), jadi paling banter untuk happy happy shopping saya ngacir ke toko buku. Hasil dari ngacir ke toko buku itu adalah buku Kamus Rasa-nya Sarah Diorita. Belakangan baru saya tahu kalau mbak Sarah Diorita adalah istrinya Eross gitaris Sheila on 7, band yang mengiringi masa galau gundah gulana saya (ketahuan angkatannya yak?! ๐Ÿ˜‚) Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk mengambil bukunya. Saya udah jatuh hati sejak melihat tampilan covernya di rak toko buku. Gambar ilustrasi keluarga dengan tema memasak. I do loooooove any books with cooking, food, or family theme. Gak mikir dua kali langsung angkut. Daaaan... ternyata saya sukaaaa banget dengan bukunya. Empat bintang deh! Nanti kalau ada waktu saya review di blog sebelah yang khususon urusan perbukuan yaak..




Selama di kampung, saya juga belajar hal baru dari mama. Belajar bikin sambel terasi jos mantep ala mama. Harusnya dari dulu sih, tapi namanya anak pemalas mah baru belajar belakangan ketika sudah kepepet dan didesak sama Mr. Coffeeholic yang pingin makan sambel terasi enak macam di kampung ๐Ÿ˜. Karena tau menantunya ini pemalas, jadi mama ngajarin langsung large cooking batch, masak sambel porsi besar jadi bisa untuk stok yang disimpen di kulkas. Jadi ngga perlu bikin every single day. Dan satu lagi jalan pintas yang dikasi khususon buat saya: blender aja. Mungkin mama gak sanggup melihat saya ngulek, yang ada bukannya ngulek, malah sibuk ngambilin potongan cabe ama bawang yang lompat dari cobek karena kehantam ulekan ๐Ÿ˜‚ Udahlah diblender aja!




Dengan modal ikut workshop sambel selama di kampung, sampe rumah kemarin saya langsung recook. Dan woohooo! Jos mantep, berhasil berhasil berhasil horee! Nampak jelas dari Mr. Coffeeholic happy tongue and tummy ๐Ÿ˜. Oh, dan sambel terasi ini sungguh mempermudah urusan menyiapkan makanan. Sambel terasi enak itu meng-upgrade menu sederhana. Tinggal bikin lauk goreng dan sayur simpel, siapkan sambel, menunya langsung "naik kelas". Apalagi buat Mr. Coffeeholic yang lidahnya seratus persen Sunda. Dipakai untuk bumbu nasi goreng juga praktis dan enaaak... gak perlu lagi pake bawang. Kayanya saya bakal rajin nyetok nih ๐Ÿ˜.




Oh iya, saya juga sempet bikin coret-coretan di jurnal karena terinspirasi ilustrasi lucu-lucu di buku Kamus Rasa. Rasanya menyenangkan dan puas ya melihat hasil corat-coret sendiri, semoga punya lebih banyak waktu deh untuk melakukan journaling lagi.



Sekarang libur sudah usai, dan sudah kembali ke rutinitas normal. Ketemu kantor dan KRL lagi. Tapi lebih fresh karena sudah recharge, ganti suasana pas mudik kemarin. Jaga kesehatan yaa semua, apalagi cuaca masih nggak menentu begini. Dan tidak lupa kami sekeluarga mengucapkan :


"Taqabbalallahu minna wa minkum
Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H
Mohon maaf lahir dan batin"

Wednesday, January 15, 2014

Book Review : The Kitchen House

Akhirnya selesai juga buku pertama di tahun 2014. Butuh sekitar 9 hari untuk membacanya, hoho. Lama yaa.. :D Tapi untunglah selesai. Saya sendiri bahkan tadinya nggak yakin bisa menyelesaikan buku ini, karena udah lamaaa sekali nggak baca buku bahasa Inggris. Terakhir baca buku bahasa Inggris ya Eat, Pray, Love-nya Elizabeth Gilbert, jaman dahulu kala waktu masih lajang. Sementara sekarang udah punya buntut yang udah sekolah dan ceriwis pisan. Bertaun-taun yang lalu berarti yak.

Sebenernya nggak niat mengawali Reading Challenge taun ini dengan buku ini. Ceritanya, pas lagi pacaran jalan-jalan sama Mr. Coffeeholic ke Gramedia, bengonglah saya di depan rak buku impor. Tadinya maksudnya cuma lihat-lihat aja, eh tetiba Mr. Cofeeholic (yang mungkin kasihan melihat saya bengong) mencetuskan pertanyaan retorik, "Mau?"

Hah?? Nanya saya mau apa enggak?
Lah ya jelas mauu.. pakek nanya :D :D 
Tanpa banyak ba bi bu lagi dengan riang gembira pun saya langsung nyaut The Kitchen House, yang sudah membuat kepincut hati dari sejak pertama bengong di depan rak buku impor. 

Membaca halaman-halaman awal buku ini lumayan penuh perjuangan karena udah lama nggak baca novel bahasa Inggris, jadi perlu adjustment karena belum terbiasa. Setelah satu bab terlewati baru mulai terbiasa, mulai enak mengalir bacanya, dan seterusnya sampai selesai.

Ok, enough chit chat :D 
Sekarang mari kita mulai tujuan utama postingan ini, yaitu mereview buku The Kitchen House.



Judul : The Kitchen House
Pengarang : Kathleen Grissom
Bahasa : Inggris
Penerbit : Touchstone

Tebal : 365 halaman
Diterbitkan pertama kali : Februari 2010

Format : Paperback
Target : Dewasa

Genre : Historical fiction
Beli di : Gramedia








Sinopsis :
When a white servant girl violates the order of plantation society, she unleashes a tragedy that exposes the worst and best in the people she has come to call her family. Orphaned while onboard ship from Ireland, seven-year-old Lavinia arrives on the steps of a tobacco plantation where she is to live and work with the slaves of the kitchen house. Under the care of Belle, the master's illegitimate daughter, Lavinia becomes deeply bonded to her adopted family, though she is set apart from them by her white skin.

Eventually, Lavinia is accepted into the world of the big house, where the master is absent and the mistress battles opium addiction. Lavinia finds herself perilously straddling two very different worlds. When she is forced to make a choice, loyalties are brought into question, dangerous truths are laid bare, and lives are put at risk.


Review :

"Abinia," he said, pointing toward the chickens, "you look at those birds. Some of them be brown, some of them be white and black. Do you think when they little chicks, those mamas and papas care about that?"

Hal pertama yang membuat saya jatuh hati dan memilih buku ini adalah kavernya. Kenapa kavernya? Karena kavernya menggambarkan setting yang melatarbelakangi sepanjang jalan cerita The Kitchen House, yaitu Amerika pada akhir abad ke 18 dimana perbudakan masih merupakan hal yang lazim. Novel dengan setting yang khas seperti ini, apalagi melibatkan sejarah di masa lalu, sungguh merupakan my-cup-of-tea genre.

The Kitchen House mengisahkan tentang Lavinia, gadis kecil berusia 7 tahun yang menjadi yatim piatu dalam perjalanan berlayarnya dari Irlandia ke Amerika. Setelah kapal berlabuh di Amerika, kapten kapal membawa Lavinia pulang ke rumah besarnya di sebuah perkebunan tembakau di Virginia, dan menempatkan Lavinia sebagai pembantu di rumah dapur (the kitchen house). The kitchen house yang digunakan para budak untuk memasak makanan bagi penghuni rumah besar berada di bawah pengawasan seorang gadis berdarah campuran negro dan kulit putih bernama Belle. Belle sebenarnya adalah anak yang tidak diakui hasil hubungan antara kapten dengan salah satu budak negro wanitanya. Cerita The Kitchen House dituturkan dari sudut pandang dua orang tokoh utama yaitu Lavinia dan Belle. 

The Kitchen House menceritakan kehidupan sehari-hari Lavinia, Belle dan para tokoh lainnya. Lavinia, gadis berkulit putih tersebut, kemudian tumbuh besar bersama keluarga barunya, para negro kulit hitam budak Kapten pemilik rumah besar. Lavinia mencintai keluarga negronya, namun status mereka sebagai budak kulit hitam telah menorehkan garis pembatas dengan dirinya yang berkulit putih. Novel ini mengungkap sisi gelap perbudakan, perbedaan harga seorang manusia hanya karena warna kulitnya, sekaligus juga mengungkap sisi humanis melalui cinta yang tulus dalam keluarga.

Sebagaimana dikatakan Lavinia :

"...but the day I was awakened to a new realization and made aware of a line drawn in black and white."

Selain setting yang kuat dalam penggambaran lokasi, kostum, kebiasaan maupun makanan yang berasal dari kitchen house yang merupakan keseharian pada masa itu, setting yang kuat dan menarik dibangun pula dari bahasa yang digunakan para budak negro. Jika diperhatikan, gaya bahasa budak negro ini berbeda dengan bahasa yang digunakan Lavinia. Bahasa negro menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang tidak menggunakan grammar dengan seksama.  Iyalah, namanya juga budak. Mana ada sekolah bahasa untuk budak. Kemampuan membaca dan menulis saja merupakan barang mewah bagi mereka. :D

Contohnya pada dialog Mama Mae, budak negro yang bijak dan turut membesarkan Lavinia bersama Belle :
"this I know. What the color is, who the daddy be, who the mama is don't mean nothin'. We a family, carin' for each other. Family make us strong in times of trouble. We all stick together, help each other out. That the real meanin' of family. When you grow up, you take that family feelin' with you."

Tokoh antagonis dalam cerita ini adalah Marshall, anak lelaki kapten, pewaris tunggal perkebunan tembakau Tall Oaks yang temperamen dan alkoholik. Marshall menganggap para budaknya tidak lebih berarti dari kuda-kudanya. Ia melakukan hal-hal keji dan sewenang-wenang, yang menjadi awal konflik di Tall Oaks hingga berlarut-larut dan mencapai puncaknya dengan kematian orang yang sangat dicintai dan dihormati Lavinia.

Plot The Kitchen House berjalan lambat. Bagi yang suka cerita dengan plot cepat dan dinamis, cara bertutur The Kitchen House mungkin bisa jadi membosankan. Pada separuh jalan cerita pertama, konflik masih cenderung datar tidak meruncing, setiap konflik yang muncul tak lama kemudian  selalu memiliki jalan keluar. Baru pada separuh cerita terakhir konflik mencapai klimaksnya. Tapi bagi saya ini adalah keuntungan, karena di awal cerita kita bisa menikmati dan membayangkan kehidupan di Virginia pada masa akhir abad 17 tanpa perlu ngelap keringat karena bombardir masalah yang bertubi-tubi. Di separuh awal novel saya rasanya seperti berjalan-jalan di masa kehidupan Little Missy (yang angkatan 90-an mungkin tahu serial Little Missy, telenovela klasik yang tayang di TVRI setiap hari Minggu. Little Missy juga berlatar belakang masa-masa perbudakan.)



Salah satu adegan dalam Little Missy. Picture taken from here.


Yah, kurang lebih saya membayangkannya seperti di atas lah. :D

Tokoh favorit saya adalah Mama Mae tentunya, karena bijak sekali, so wise lah pokoknya, cekatan, dan sepertinya apa-apa bisa. :D Ia yang mendidik dan membesarkan hampir semua tokoh dalam The Kitchen House dan mengajarkan mereka berbagai hal. Saya membayangkan Mama Mae seperti Whoppie Goldberg. :D

Tuu...pantes kan? Picture taken from here.

Kalau tokoh yang kurang saya sukai, malah pemeran utamanya sendiri, Lavinia. Duh mbak Lavinia, jadi cewek kok ya lemah dan rapuh amat. Bukan salah Lavinia sepenuhnya sih, mungkin karena merasa tidak punya siapa-siapa, maka Lavinia tumbuh besar dengan merasa bahwa bila ia ingin diterima maka ia harus selalu berusaha menyenangkan orang lain, kadang tanpa mempertimbangkan perasaan sendiri. Tapi bagi saya rasanya Lavinia ini nggak-saya-banget. Setiap orang punya hak untuk berjuang, mengungkapkan pendapat dan berbahagia. Pasrah nrimo tanpa berbuat apa-apa padahal di dalam hati sangat tertekan sampai depresi, bukannya malah menyiksa diri sendiri? Rugi amat ya. Lho, kok malah jadi saya yang emosi.. :D :D :D

Secara keseluruhan saya menikmati buku ini. Kalau ada beberapa kritik ya pada beberapa scene yang plotnya rasanya lambat, walaupun ini termasuk wajar karena novel ini mengisahkan kehidupan keseharian seorang gadis sampai dia dewasa, and Kathleen Grissom do pay attention to the details.

Di Goodreads sendiri rating buku ini cukup bagus, yaitu 4.14. Saya sendiri memberikan rating 4 bintang untuk buku ini. Karena walaupun tokoh utamanya tidak terlalu saya sukai, tapi genre novel ini adalah genre saya sekaliii...jadi membacanya pun mengalir menyenangkan. :D

Dengan selesainya novel The Kitchen House ini, saya jadi pede untuk membaca buku bahasa Inggris lagi. Dan moga-moga kali ini ada lagi yang menawarkan diri dengan sukarela untuk menjadi donaturnya. *lirik Mr. Coffeeholic*

Tuesday, January 7, 2014

New Authors Reading Challenge 2014 [Master Post]

Terkait postingan yang kemarin, yang lagi-lagi dalam rangka meningkatkan kuantitas (dan kualitas haha) bacaan saya, akhirnya bergabung juga dengan salah satu Reading Challenge. Reading Challenge (RC) adalah suatu event yang bertujuan memberikan tantangan kepada para pesertanya untuk memenuhi syarat membaca sejumlah buku sesuai tema RC tersebut.

Hasil dari kemarin browsang-browsing gegara terjebak macet Senin pagi yang cetar membahana itu (pas hari pertama anak masuk sekolah setelah libur panjang), nyasarlah saya ke situsnya Ren atau yang lebih dikenal dengan Ren's Little Corner. Wah, ini si empunya situs bener-bener ahli baca kelas kakap. Goodreads 2014 Reading Challenge-nya aja 100 buku, bandingkan dengan saya yang cuma 12 buku. :D

Nah, kebetulan Ren menjadi host dari event New Authors Reading Challenge 2014. Sebagaimana namanya, RC ini bertujuan untuk membaca buku-buku karya pengarang yang belum pernah kita baca. Jadi untuk kita, pengarang itu terbilang baru, karena baru ini kita membaca karyanya. Misalnya, kita belum pernah baca bukunya Dewi Lestari sama sekali, maka bukunya bisa kita deretkan dalam list RC ini. Tapi hanya satu buku saja, karena kalau buku kedua, namanya bukan pengarang yang belum pernah kita baca, kan udah baca buku pertamanya. :D
Ada empat level dalam RC ini :
Easy : 1 - 15 buku
Middle : 15 - 30 buku
Hard : 30 - 50 buku
Maniac : > 50 buku

Seperti biasa, nggak muluk-muluk, saya ambil level Easy aja. Namanya juga pemula :D

Ada beberapa persyaratan dalam RC ini, di antaranya :

1. Durasi RC ini adalah setahun mulai 1 Januari 2014 - 31 Desember 2014.

2. Harus buku fiksi dengan jumlah halaman minimal 200 halaman. Ini menguntungkan saya, karena saya memang sukanya buku fiksi. Kurang tertarik pada buku-buku nonfiksi :D

3. Harus karya pengarang baru (dalam artian baru bagi kita karena belum pernah baca bukunya), satu pengarang satu buku, juga tidak boleh re-read.

4. Boleh digabung dengan RC lain. Nah, ini keuntungan karena bisa digabung dengan RC-nya Goodreads ini. (Ketahuan orang males :D)

Persyaratan dan penjelasan lebih rinci bisa langsung cek di website nya Ren.

Jadi akhirnya saya pasang juga banner New Authors Reading Challenge 2014, dan mari sumangat RC-nya Kakaaa..........

Monday, January 6, 2014

Goodreads 2014 Reading Challenge

Ah... Akhirnya saya bergabung juga dengan Goodreads 2014 Reading Challenge. Ini sebenarnya dalam upaya memperbaiki tingkat kuantitas bacaan saya. Kenapa kuantitas? Kalau minat baca sih, melimpah ruah, karena pada dasarnya sukaaaa baca.

Cuma ya itu, kadang tinggal sebatas wacana saja, ujung-ujungnya minat itu tenggelam oleh kesibukan ngurus anak, kecapean di perjalanan Jakarta-Bogor PP saban hari jadi alih-alih baca di KRL, malah tidur sepanjang perjalanan :D, belom kalau di rumah yang dipegang malah jarum sama benang, hahaha.... Intinya kebanyakan alasan, sehingga akhirnya, gak jadi-jadi juga buat baca.

Padahal dulu waktu masih muda (masih lajang dan nebeng orang tua, maksudnya :D), tempat main favorit saya salah satunya ya rentalan buku (berhubung kantong masih cekak). Saya beruntung karena di kota tempat saya dibesarkan, bisnis rental buku cukup menjamur dan mudah ditemukan. Bahkan ada rental buku yang isinya buku-buku bagus dan berkualitas loh. Saya membaca Raumanen, salah satu buku paling berkesan yang pernah saya baca, ya hasil dari nge-rental di situ. :D

Dulu, karena belum banyak ang ing ung eng ong, kerjanya cuman sekolah-makan-tidur doang sama disuruh-suruh Ibu :D jadi reading speed saya lumayan lah, misalnya untuk buku komik jepang-jepangan gitu (manga), semalem bisa 10 buku. Sampai diancam sama Ibu, buku-bukunya bakal disita kalau saya nggak kunjung tidur. Kalau untuk novel, tergantung ceritanya. Kalau gak gitu suka bisa cepat, karena pingin cepat selesai dan ganti bacaan :D. Tapi kalau suka, malah justru lebih pelan bacanya, kayanya pingin meresapi setiap kalimat.

Nah, berhubung hidup saya sekarang sok banyak acara dan sok ribet, yang ujung-ujungnya jadi kesempatan (dan kemauan) membaca buku anjlok drastis, akibatnya reading speed pun ikut ndlosor. Untuk And The Mountains Echoed kemarin saja, dua minggu baru kelar deh kayanya. (-___-")

Jadi dengan niatan ingin memperbaiki tingkat baca, saya bergabung di Goodreads 2014 Reading Challenge. Gak muluk-muluk dulu, wong mulai dari awal lagi, jadi set target 12 buku aja untuk tahun 2014, artinya satu bulan satu buku. Itu juga rada ragu2, takut kumat-kumatan, haha.... Anyway, at least I'm trying ;p. Tuh, Goodreads widget-nya bahkan udah ditaroh di sidebar, jadi udah diumumkan kepada khalayak :D

Dan semoga setiap selesai buku yang dibaca, berakhir juga dengan menulis review-nya. Paling males ya bok kalo urusan nulis review ini, karena harus berbasis mood. Harus suam-suam kuku dari selesai bacanya, jadi feeling-nya masih dapet. Kalau kelamaan, kadang suka ilfil dan bingung mau gimana nge-review-nya. Padahal yang namanya ngupdate blog juga angot-angotan :D Yah, mungkin ini juga menjadi suatu pertanda bagi saya untuk lebih rajin juga mengisi halaman di sini dan menyingkirkan potensi angot jauh-jauh.

So, let's start with the first book.

Sumangat, kakaaaaaa......


Saturday, January 4, 2014

Gott Nytt ร…r!

is the way Swedish say, "Happy New Year!"

It's been quite a year, and so much things happen. And the new year is coming, bringing more things into life. As I didn't spend specific attention to set last year resolution, so I can't review it when 2013 ended yesterday. Learn from that, I think it's good to set my resolution in the beginning of the year, so I can see how far I can go when the year ends. Besides, it's easy to forget what I plan at first, and writing it down may keep me stay on the right track.

Here are my resolutions for 2014 ( well, fingers crossed :p ) :

1. Be a better wife for Mr. Coffeeholic, and a better mom for my little girl. It means being more patient, spending more quality time, and enjoy more moments with my two precious. It might include cooking for Mr. Coffeeholic or taking my little girl on a vacation, in weekend.

2. Be more green. Related to that "green things" I think it's time to make my meal habits a little bit greener. Don't count my little girl in this case, she has ideal portion and varian of homemade menus. We are talking about me, this lazy and lack of nutrition mommy -___- who lay her daily veggies intake on a capsule of herbal supplement.  Being greener in menu for me is trying to put at least one portion of real vegetable or fruit in my meals in a day. Let's start with making fruit juice as a habit, because it's the easiest way for me to swallow that kind of healthy food, based on my experience.

3. Read more books. I love reading, really. This is my hobby since I was an elementary school student. But when you have your own family to take care and your office related work to manage, it looks like you're getting lack of time to read. Or even if you have time, you choose to do something else which you think more important. My reading speed has decreased because I am rarely have a book in my hand to read. This year I'll try to read more books, I already bought some and they're now silently and patiently queueing to be read.

4. Write more things, story, article, blog post. On 2013 I joined a very supportive mom bloggers group, Kumpulan Emak Blogger (KEB). It's a great group consists of smart and active Indonesian women. They are inspiring and adorable, and they're blogging because it's their passion. Joined them is right choice since they are encouraging me to write more blog post. I even joined their competition, 30daysblogchallenge, where I must make 4 week-posting related to each week theme. I didn't win it, of course ;p, but it's really a challenging experience and I really enjoyed it. The competition is over now, but I sometimes miss the feeling, both exciting and thrilling, especially when it came to deadline.

Last year I alse sent two articles to Mommies Daily and they published it.


1st article published on Mommies Daily


2nd article published on Mommies Daily

In 2014 I hope I'll be able to do more updates on my blog, write more articles, and maybe I could extend the length of my fiction story (this is multi years project since I'm never be able to finish it. ;p)

5. Doing more craft. I've been a little bit more crafty lately. I do crochet and cross stitch. I do knit when I was college student. And now, my new sewing machine is calling me to do more things with fabric. I'm still a very beginner in sewing, but really enjoying it. I've made some simple project : box bag for Mr. Coffeeholic and express hat for my little girl.


This is my new crafty friend, Singer Simple Series.


White box bag, I follow the tutorial by Truly Myrtle. She wrote such an amazing tutorial, thank you!


Second attempt using green flowery fabric, much neater. I use it to keep my cable plug.


This is the express hat, my little girl asked me to make it.


She loves it, doesn't she?


Sewing is immensely enjoyable. I plan to do more sewing this year. I want to make more box bag because Mr. Coffeeholic want it too, he even choose his own fabric. I also want to make my little girl a peasant dress, Jamie wrote a tutorial of it in her site Scattered Thought of a Crafty Mom.  And for me myself, I want to sew something too! I fall in love for this Mathilde blouse and the blog and the owner (Tilly), she's so talented girl.


It seems so cute, doesn't it?


Well, with so much plan and exciting things waiting this year, I wish everybody a very Happy New Year and a great time ahead! Gott Nytt ร…r!


Saturday, December 7, 2013

Book Review : And The Mountains Echoed

"Apa mimpiku malam ini, Baba?" -Pari




Setelah menghabiskan beberapa hari dalam perjalanan pulang pergi menggunakan KRL Commuter Line Jakarta-Bogor, tempat dimana saya menghabiskan waktu dengan membaca, akhirnya selesai juga 512 halaman novel ini.

And The Mountains Echoed (Dan Gunung-Gunung Pun Bergema) adalah tulisan Khaled Hosseini, salah satu pengarang favorit saya. Ini merupakan novel ketiganya setelah The Kite Runner dan And A Thousand Splendid Suns yang sama-sama sukses dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Terbitnya novel ketiga ini berselang enam tahun dari novel keduanya, sehingga kehadirannya sangat ditunggu oleh para penggemar Hosseini, termasuk saya. :D

Sebagaimana novel pertama dan kedua, And The Mountains Echoed masih dilatarbelakangi kehidupan Afganistan yang keras, serta konflik dalam negeri yang memecah belah penduduk, saudara, keluarga.

Cerita diawali dengan Abdullah dan Pari, dua kakak beradik yang seolah tak terpisahkan, yang satu saling bergantung dengan yang lainnya. Pada suatu malam, Baba, demikian mereka memanggil ayahnya menceritakan dongeng kepada mereka. Dongeng itu tentang seorang div, monster bertanduk yang menyeramkan, yang mengambil anak-anak dari rumah-rumah yang atapnya diketuk olehnya. Ketika div mengetuk atap sebuah rumah, maka sang ayah harus menyerahkan satu anaknya untuk sang div, karena bila tidak, maka ia akan mengambil seluruh anak di rumah tersebut. Seruas jari harus dipotong untuk menyelamatkan tangan.

Ternyata dongeng ini merupakan dongeng terakhir yang diceritakan Baba sekaligus merupakan kiasan tentang apa yang terjadi esok harinya. Esok harinya, Baba, Pari dan Abdullah (yang bersikeras untuk ikut walaupun telah dilarang ayahnya), pergi ke Kabul, yang belakangan diketahui Abdullah untuk menyerahkan Pari kepada pasangan keluarga kaya yang tidak memiliki anak. Baba menjual Pari untuk mendapatkan sejumlah uang untuk membeli keperluan musim dingin, untuk menyelamatkan keluarganya. Musim dingin yang brutal di Afganistan telah merenggut nyawa salah seorang adik mereka, karena ketidakmampuan Baba untuk memberikan perlindungan yang lebih baik : makanan, pakaian tebal, dan rumah dengan pemanas untuk menghangatkan udara. Seruas jari harus dipotong untuk menyelamatkan tangan.

Dunia Abdullah limbung tanpa kehadiran Pari. Pari adalah belahan jiwanya, orang yang paling dekat dengannya dan paling dicintainya.

Secara keseluruhan, novel ini berkisah tentang hubungan antara manusia, yang sebenarnya saling mencintai, namun karena berbagai alasan maka orang-orang yang saling mencintai tersebut justru terpisahkan, atau terasa begitu jauh satu sama lain dan tak saling memahami.

Ada kisah antara Pari dan ibu angkatnya (yang Pari anggap sebagai ibu kandungnya selama berpuluh-puluh tahun). Ibunya, Nila Wahdati, penyair berbakat yang selalu merasa tak bahagia. Nila Wahdati membebani Pari dengan harapan-harapan agar putrinya dapat menambal lubang-lubang yang kosong yang dirasakannya, namun Pari dianggapnya gagal melakukan tugasnya, sekalipun Pari tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar. Pukulan terkeras bagi Nila Wahdati datang ketika Pari memutuskan untuk menjalin hubungan dengan mantan kekasih ibunya. Nila Wahdati tenggelam dalam depresi yang kian parah hingga akhirnya bunuh diri, membebani Pari dengan rasa bersalah seumur hidupnya. Pari akhirnya berpisah dengan kekasihnya tersebut. Walaupun kemudian Pari menemukan orang yang tepat untuknya, menikah, memiliki anak, pekerjaan yang baik dan membangun hidupnya, Pari selalu merasakan ada bagian yang kosong dalam hatinya, kekosongan akan sesuatu atau seseorang yang penting dalam hidupnya. Dan jauh bertahun-tahun kemudian, melalui pertolongan karakter-karakter lainnya, Pari mengetahui penyebab kekosongan tersebut, dan nasib akhirnya mempertemukan Pari kembali dengan kakak yang sangat dicintainya, belahan jiwanya, Abdullah.

Ada juga kisah tentang Markos Varvaris, dokter bedah kelahiran Yunani yang menjadi sukarelawan internasional di Kabul pada masa setelah perang usai. Markos Varvaris menuturkan kisahnya bersama Thalia, anak perempuan yang pada suatu hari berkunjung ke rumahnya untuk tinggal selama beberapa waktu dengan mereka. Thalia, yang walaupun dikaruaniai kecerdasan mengagumkan dan minat terhadap sains, namun memiliki cacat fisik karena sebagian wajahnya rusak akibat diterkam anjing semasa ia kecil. Cacat fisik tersebut menjauhkan Thalia dari kehidupan normal dan orang-orang. Di rumah Markoslah, bersama dengan ibu Markos yang tegas, Thalia diterima dengan tulus untuk pertama kalinya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah itu selamanya. Markos, yang karena ketidakcocokan dengan ibunya, telah memilih untuk meninggalkan rumah, berkelana mengelilingi dunia hingga akhirnya memilih untuk menetap di Kabul, pada akhirnya menyadari bahwa orang-orang terdekat yang paling dicintainya justru adalah orang-orang yang selama ini ditinggalkannya, ibunya dan Thalia.

Ada pula kisah tentang Pari, Pari yang satunya, yang tumbuh besar di Amerika masa kini. Pari yang kehilangan kesempatan untuk masuk sekolah seni dan menikah karena harus mengurus orang tuanya yang sakit. Pari yang akhirnya, menjadi simpul penutup cerita, yang mempertemukan keluarga yang tercerai berai berpuluh tahun lamanya.

Novel ini memiliki banyak karakter utama, yang masing-masing menjadi penutur dalam setiap bab. Setiap karakter memiliki masalah dan pendapatnya masing-masing, dan berada dalam setting yang berbeda-beda baik dalam tempat maupun waktu. Membaca novel ini rasanya kita berada dalam mesin waktu melintasi berbagai negara, berbagai kota, dan dalam berbagai kurun masa.

Dalam setiap babak Hosseini menghadapkan kita pada kepingan-kepingan puzzle yang saling berhubungan, terjalin sedemikian rupa, di antara tokoh-tokoh yang baik jauh maupun dekat saling terkait, hingga akhirnya membentuk satu kerangka kisah.

Saya sudah menduga sejak kisah dibuka, bahwa kisah akan ditutup dengan pertemuan Pari - Abdullah, namun Hosseini menuturkan dengan lincah, melalui mata, mulut dan hati berbagai karakter, cukup untuk membuat kita bertanya-tanya, siapa dia dan apa hubungannya dan bagaimana nanti akhirnya, sehingga terhindar dari kebosanan untuk menyelesaikan 512 halaman novel tebal ini. Memang ada beberapa bagian yang membuat saya sedikit mulai dirayapi kebosanan, di antaranya pada bab Markos Varvaris bercerita. Rasanya penulisan masa muda Markos yang menghambur-hamburkan uang warisan Thalia untuk berkeliling dunia dan melepaskan tanggung jawabnya terlampau panjang, sehingga membuat saya tidak sabar, "Terus kapan nih orang tobatnya?" Tapi tepat ketika kebosanan mulai merayapi, Hosseini memberikan jawaban dan melanjutkan alur cerita.

Dalam novel ini, Hosseini berkisah dengan plot maju mundur yang lumayan sering. Sehingga saya harus benar-benar membaca dan mengingat di awal bab, babak itu diceritakan dalam kurun waktu kapan, agar tidak membuat kebingungan di tengah-tengah bab, karena lompatan jarak waktu yang dibuatnya dengan sebelumnya seringkali begitu jauh.

Satu yang mengganjal bagi saya adalah tersisanya satu teka-teki, satu jari yang masih terpisah dari tangannya, satu keluarga yang masih tercerabut dari lainnya, padahal merupakan salah satu bagian dari karakter utama novel ini. Iqbal, adik tiri Abdullah dan Pari, bersama anak lelakinya Gholam dan anggota keluarganya yang lain, kembali ke Afganistan dari kamp pengungsian mereka di Pakistan. Iqbal dan Gholam menemukan bahwa di atas tanah yang mereka tinggalkan sekian lama, kini dimiliki oleh seorang mantan komandan perang Afganistan yang kaya raya, yang tinggal di sana bersama anak lelakinya, Adel, yang seusia Gholam. Adel dan Gholam dalam waktu singkat menjadi sepasang kawan rahasia.

Cerita berikutnya menuturkan bahwa Iqbal dan Gholam gagal mengambil kembali tanah mereka karena dokumen resmi tanah mereka dimusnahkan oleh hakim yang disuap oleh ayah Adel. Iqbal yang merasa frustrasi kemudian mendatangi rumah ayah Adel dan melemparinya dengan batu, yang membuat mantan komandan berang, kemudian bersama-sama para pengawalnya mereka membawa Iqbal pergi dan tak pernah kembali. Adel, yang sejak saat itu tak pernah lagi melihat Gholam, akhirnya menyadari siapa sebenarnya ayahnya, sang mantan komandan. Sepeninggal Iqbal, Gholam harus menjadi tulang punggung keluarganya dan membawa ibu, adik dan neneknya mencari tempat tinggal baru.

Di sinilah yang menjadi ganjalan bagi saya, sampai akhir tidak dikisahkan bagaimana nasib Gholam dan keluarganya. Hanya disebutkan bahwa Pari sempat berusaha mencari Iqbal dalam suatu perjalanannya ke Afganistan, namun tidak menemukan petunjuk. Rasanya tidak adil membiarkan Gholam tersesat sendirian, sementara unsur-unsur keluarga yang lain satu persatu akhirnya bertemu dan berkumpul kembali.

Tapi inilah hidup, bukan? Tidak semuanya selalu sejalan dengan apa yang kita impikan. Setiap orang harus bertahan dengan caranya masing-masing, demikian pula Gholam. Mungkin, di masa depan nanti, nasib akan mempertemukannya kembali dengan Adel. Mungkin pula, kelak Adel, yang telah memahami siapa sebenarnya ayah kandung yang dibangga-banggakannya, yang tak lain adalah seorang dedengkot penjahat perang dan gembong narkotika, mungkin saja akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupan sebuah keluarga yang telah dirusak oleh ayahnya.

Setelah menyelesaikan novel ini, saya masih merasakan pesona Hosseini seperti ketika selesai membaca A Thousand Splendid Suns dan The Kite Runner, malah saya lebih bisa menikmati novel ketiganya ini. Banyak review yang mengatakan bahwa novel ketiganya ini bagus, namun tidak secemerlang novel pertama dan kedua. Saya justru merasa paling bisa menikmati And The Mountains Echoed. Mungkin karena pada masa novel pertama dan kedua dulu saya masih muda :D, sehingga belum sabar membaca serta meresapi apa yang coba dituturkan oleh pengarang.

Hosseini adalah pendongeng yang hebat dengan ciri khas penulisan yang kaya detail dan bersuasana muram. Dia gemar menunjukkan hidup dari sisi yang keras, sulit dan penuh lubang. Dia ahli mematahkan hati, jadi siap-siap untuk anda yang punya perasaan sensitif seperti saya :D berisiko sesak di dada. Namun, khas Hosseini, selalu ada titik terang dan senyum di beberapa tempat, yang mencoba menyampaikan kepada kita, bahwa akan selalu ada harapan.

Karena menurut saya novel ini (sungguh) bagus, dan diterjemahkan dengan baik pula, saya memberikan 4 dari 5 bintang.

Hosseini masih favorit saya, dan semoga kita tidak perlu menunggu sampai enam tahun berikutnya (lagi) untuk membaca karya berikutnya.