-->

Pages

Saturday, October 23, 2010

Blues oh Baby Blues

Iya, saya sempat disambangi sama si-bayi-biru a.k.a the famous baby blues syndrome.

Buat yang belum tau apa itu baby blues, ini yaa saya kasi tau..

Baby blues syndrome atau yang lebih dikenal dengan postpartum distress syndrome adalah semacam depresi yang dialami wanita pasca melahirkan. Penelitian menunjukkan bahwa 50-80% wanita yang baru melahirkan mengalami hal tersebut.


Hehe.. saya yang gahar ini kok bisa kena baby blues?

Iya ya, tadinya juga nggak percaya. Kok bisa?

Tapi ternyata hal tersebut normal lhoo...


Banyak faktor yang mengakibatkan sindroma si-bayi-biru ini datang berkunjung, di antaranya :

1. Perubahan Hormon
2. Stress
3. ASI tidak keluar
4. Frustasi karena bayi tidak mau tidur, nangis dan gumoh
5. Kelelahan pasca melahirkan, dan rasa sakit akibat jahitan
6. Suami yang kurang memahami perasaan istri
7. Problem dengan Orangtua dan Mertua
8. Takut kehilangan bayi
9. Sendirian mengurus bayi, tidak ada yang membantu
10. Bayi sakit
11. Rasa bosan si Ibu (tidak punya waktu untuk diri sendiri)


Nah cobaa buat para buibus, pasti pernah ngalamin minimal satu aja dari poin-poin tersebut di atas. Kalau saya yang paling kena nomor 1, 2, 4, 5, 9, 11 hiyaaaaah lha kok semua? :D Tapi emang begadangnya itu yang paling super. Tiap malem tau. Langsung turun 15 kilogram di bulan pertama pasca melahirkan. Padahal selama ini saya tenar sebagai jagoan membolor. Paling gampang tidurnya, paling susah bangunnya. :D Ya jelas stress berat, wong selama ini tidur adalah moment me time favorit saya, dan sekarang si putri kecil cantik demonstrasi tiap malem karena nggak setuju sama kebiasaan bundanya.


Apa sih tanda-tandanya baby blues ituh?

Ada macem-macem sih.

1. Mudah marah dan tersinggung
2. Gembira dan sedih secara berlebihan
3. Seringkali menangis tanpa sebab yang jelas
4. Terlalu banyak makan atau sebaliknya tidak ada nafsu makan
5. Susah berkonsentrasi, sulit mengingat dan tidak bisa membuat keputusan
6. Menjauhkan diri dari teman dan keluarga
7. Paranoid atau takut berlebihan bayinya akan celaka

 
Kalo yang saya rasain sih, suka ujug-ujug suka menye-menye tanpa sebab yang jelas. :D Di antara jeritan hati, “I just wanna have some sleep pleaseee.....” Tapi ngga ada momen marah-marahnya, lagian mana bisa marah-marah sama putri cantik, lha wong hati langsung luluh tiap kali ngeliat wajahnya. Jadinya ya stress sendiri. Salah sih, mestinya dari awal dikomunikasikan sama keluarga, atau cerita dengan teman-teman yang udah pernah ngalamin momen ini. Dengan berbagi dan mengetahui bahwa orang lain pernah berada di tempat yang sama, rasanya lebih ringan. Akhirnya emang berbagi juga sih, tapi telat, pas udah ngga tahan ditanggung sendiri :D.


Sekarang sih udah jauh mereda. Biasanya baby blues berlangsung kurang dari sebulan, dan umumnya teratasi saat sang ibu sudah mampu beradaptasi dengan peran barunya, dan bayi juga beradaptasi dengan dunia barunya, and responds with adequate amounts of sleep. Ya nggak adequate-adequate banget lah, sebenernya itungannya masih kurang juga dibanding dulu pas tidurnya masih ala kebo :D, tapi lumayanlah..



Ada beberapa tips untuk meredakan baby blues :

* Belajar tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi
* Tidurlah ketika bayi tidur
* Berolahraga ringan
* Ikhlas dan tulus dgn peran baru sebagi ibu
* Tidak selalu perfeksionis dalam hal mengurusi bayi
* Bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
* Bersikap fleksibel
* Bergabung dengan komunitas ibu yang juga pernah mengalami momen tersebut
* Usahakan me time untuk diri sendiri, misalnya luluran, creambath, mandi berendam, pijat


Dan bagi para misuwa, halooo... anda-anda bisa banget lhoooo membantu istri yang sedang berjuang dengan peran barunya, nih saya kasih contoh :

* Bikinin minuman hangat kesukaan istri
* Nemenin begadang
* Memberikan perhatian lebih, banyak dipeluk, dihibur, diusap-usap kepalanya (halah :D)
 

Yang terpenting dari semuanya, BERSYUKUR, BERSYUKUR dan selalu BERSYUKUR atas anugerah terindah sebagai ibu yang telah diberikan kepada kita. Semua yang nampaknya berat itu pasti akan terlewati kok. Dan melihat putri cantik tumbuh sehat, rasanya semua susah payah itu terobati begitu saja. :)



Thursday, August 12, 2010

Dearest, welcome to the world.

Di Rumah Sakit Muhammadiyah Roemani Semarang, Selasa, 10 Agustus 2010, pukul 08.10 WIB, putri pertama kami lahir dengan berat 3,8 kilogram melalui persalinan normal.



Kami menamakannya Najwa Faiza Abdurrahim.

Selamat datang, sayang. :)
Putri cantik yang telah dinanti oleh Ayah dan Bunda.
Semoga tumbuh sehat, salihah, cerdas dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Amiin.

Wednesday, August 4, 2010

Sempurnaa..

Mestinya ini diposting waktu kita (kiitaaa..? 'Sebagian dari kita' kalee.. ^_^) masih aktif di kampus, jaman muda belia :D. Masa-masa rajin nongkrong di unit kegiatan mahasiswa, banyak bikin acara ini itu dan ngundang2 narasumber ya..


Tapi gak papalah, wong emailnya baru dapet sekarang.


Saya bacanya sampe ngakak, ngebayanginnya agak-agak gubrak (lebay si..). Ya gimana engga, yang diundang ni narasumber kampiun, penulis, sekaligus wartawan. FYI, saya dapet ini via milis Forum Lingkar Pena, dikirim oleh Bung Tasaro GK.


Ini share nya beliau di milis. Lucu plus prihatin2 gimana gitu.. :)

---

Akhir pekan lalu saya ke Jakarta. Salah satu kampus mengundang saya. Undangan yang nyaris batal gara-gara panitia mau mengundur jadwalnya. Saya katakan, kalau lewat tanggal 30 saya sulit menjadwal ulang. Sebab, agenda di beberapa kota sudah menunggu. Panitia beralasan tidak ada bujet. Saya menjawab, “Saya mau datang bukan karena duit.” Deal, saya tetap berangkat. Dari sehari sebelumnya, panitia terus-menerus sms untuk memastikan keberangkatan.

Biasanya, saya membawa kendaraan kantor untuk acara-acara yang tidak terlalu jauh dari Bandung. Sekalian mengunjungi sanak keluarga tentu saja. Tapi, kali ini tidak. Saya naik kendaraan umum. Travel. Panitia menjanjikan, sampai ke travel langsung dijemput dibawa ke kampus. Saya lega. Sebab, saya tak hapal Jakarta.


Sampai pool travel di bilangan Blora saya menunggu. Ada perempuan muda, saya tebak dia mahasiswa, bolak-balik di depan saya sembari mengobrol dengan temannya. Dia datang dengan motor. Ada feeling sebentar, jangan-jangan dia yang jemput saya? Naik motor di panasnya Jakarta sesiang itu? Saya usir kemungkinan tadi. Mudah-mudahan bukan.


Panitia dari kampus menelepon lagi. Memastikan penjemput sudah datang. Ternyata memang perempuan muda tadi dan satu lagi temannya. Okey, saya mencoba mengatur mood saya. Anggap saja bertualang di ibu kota naik motor… dan … wuuuussss. Saya mencoba membuang rasa mood yang jatuh drastis dengan mengajak bicara mahasiswa yang saya boncengi. Bertanya-tanya tentang kampusnya. Tidak mulus. Sebab, si pengendara ini sibuk berkomunikasi (baca; berteriak-teriak) dengan perempuan muda yang tadi menjemput saya bersama-sama. Habis bensin, rute yang salah, hingga masuk jalur yang di situ sepeda motor dilarang masuk. Alis saya terangkat dua-duanya.


Okey, saya berusaha keras untuk membuat mood saya tetap baik. Meski sumpah, saya salah kostum! Berjas, berkemeja putih, meski bawahannya jeans. Lha, kan ini acara kampus? Sapa tau bapak dan ibu dosen ikut datang. Saya kan harus sopan (sopan kok sombong).


Maka, sepanjang perjalanan yang lebih dari satu jam, saya sibuk dengan laptop di samping badan, khawatir tergencet bus atau kendaraan lain yang bersliweran. Sempurna. Saya kembalikan lagi memori saya ke masa mahasiswa. Ah, harus maklum, mahasiswa ya beginilah. Panas, macet, dan sport jantung sepanjang perjalanan. Masih ditambah rasa kasihan saya kepada mahasiswi yang menjemput saya tadi. Eaaalaaah, ke mana sih ketua panitia dan para lelaki di dunia ini? Mosok akhwat nan shalihat disuruh kebut-kebutan jemput saya yang hina dina dari ujung ke ujung kota.

Sampai sudah ke kampus megah nan banyak mahasiswanya itu. Persisnya di masjid kampus yang tak kalah gelegarnya. Wah, mood saya agak naik. Setidaknya acaranya akan seru. Begitu masuk ruangan, dengan wajah yang merah kehitaman, saya dipersilakan langsung naik panggung. Haiyyyah….bukan minum dulu, duduk dulu, santai dulu? He….he…he..


Okey, saya ikuti mau panitia. Sampai di atas panggung, kebengongan berlanjut. Audiensnya beragam. Beragam dari arti sebenarnya. Anak-anak TPA, siswa SMK, dan mahasiswa. Hmmm…. Tantangan. Bahasa apa yang saya pakai untuk menerangkan bedah buku Muhammad (Lelaki Penggenggam Hujan) sementara pesertanya begitu beragam? Ya, sudahlah. Pokoknya jalan. Berusaha tetap enerjik, tapi susah bukan main. Pandangan saya silau karena ruang terlalu terbuka dan menghadap cahaya. Badan saya masih lemas, karena terakhir sarapan sekadarnya dan perut belum terisi sama sekali. Minum saja akhirnya banyak-banyak. Karena tidak mungkin saya ngemil gorengan di atas panggung. Tapi saya tetap berusaha berbicara dengan semangat.


Terselamatkan oleh azan Ashar. Break dulu. Saya sudah jamak di perjalanan. Jadi, masuk ruang tunggu saja akhirnya tanpa harus naik masjid untuk bersembahyang. Karena kursinya cuma satu, saya memilih duduk di lantai. Panitia mengobrolkan agenda training setelah bedah buku. Saya sampaikan, situasi tidak mendukung. Saya butuh ruangan tertutup, layar LCD dan proyektor. Baru panitia sibuk kemudian. Mencari adakah ruangan yang bisa dipakai. Sejak awal, padahal, saya sudah wanti-wanti perihal ini. Request yang tidak pernah saya lupa kepada panitia adalah: ruang tertutup, kabel ke speaker dari notebook, layar LCD, dan proyektor. Saya tidak pernah mensyaratkan amplop seisinya dalam pelatihan menulis saya. Tapi, empat komponen itu tidak boleh kurang.
 Ternyata panitia tidak memerhatikan hal ini. Ruangan terbuka, mana bisa visual layar LCD terlihat optimal. Mereka mencari alternatifnya sementara bedah buku berlanjut. Akhirnya saya bisa mengembalikan semangat bicara saya. Kembali meletup-letup seperti biasa. Penanya pun bermunculan. Hingga dengan sekonyong-konyong panitia datang ke panggung dan memberitahukan, ada ruangan kosong untuk pelatihan. Lho, bukannya biasanya informasi seperti itu ditulis di secarik kertas lalu diserahkan ke moderator? Saya sedang berbicara di atas panggung, pastilah jadi terdiam, mendengarkan. Terpotong diskusi itu jadinya.


Ya, sudahlah…. Namanya juga mahasiswa. Bedah buku selesai, berlanjut ke pelatihan. Sebelumnya saya minta kepastian panitia, dengan apa saya pulang nanti. Sebab, travel sudah sold out tiketnya. Tinggal bus atau kereta. Akhirnya saya nitip dibelikan tiket kereta. Saya ambil inisiatif itu, karena saya ragu apakah panitia sudah memikirkan bagaimana saya pulang malam itu. Sewaktu di perjalanan ke kampus pun, ketika saya bertanya dengan apa saya pulang? Sebab, travel sudah full booking. Panitia menjawab, “Wah, tidak tahu, Kang?” Saya balas lagi sms, “Kalau tidak tahu terus apa solusinya?” Dia menjawab apa entah, saya sudah malas membacanya.
 Pelatihan dimulai, dan saya bengong untuk kali ke sekian. Tidak ada persiapan seperti yang saya pesan. Akhirnya peserta mesti menunggu lumayan lama sementara panitia mengulik ini itu. Paling fatal, tidak ada kabel laptop ke speaker.


“Pakai mic bisa kan, Kang?” kata pantia. Saya mengelus dada (tidak dalam arti sebenarnya). Bukan soal bisa atau tidak. Ini perkara apa yang saya pesan tidak dilaksanakan. Kalau memang ndak siap, ngapain dipaksakan. Mending saya pulang.


Tapi, ya sudahlah. Pelatihan dimulai. Tentu kualitas speaker laptop disambung mic tidak optimal. Saya pun mesti memegangi mic sepanjang audio training berjalan. Artinya, saya harus duduk terus di belakang meja. Sesuatu yang paling tidak pernah saya lakukan di pelatihan menulis mana pun. Feed back sound …. Nguiiiing … nguiiiiing, panitia bersliweran, layar LCD tertutup bayangan panitia. Ahai …. Saya geleng-geleng kepala (dalam arti sebenarnya).


Sudahlah, yang penting selesai. Begitu saya pikir akhirnya. Pukul setengah tujuh malam, saya harus lari ke Gambir. Kereta berangkat ke Bandung, pukul 07:00 malam. Naiklah saya motor babak kedua. Lagi-lagi sport jantung karena nyaris menghajar angkot yang seenaknya nyelonong ke pinggir jalan (atau kita yang salah hendak menyalip dari kiri?).


Sampai juga ke Gambir. Terjadilah kemudian tragedi itu (lebay ini mah). Saya yang tidak hafal Jakarta masuk ke Stasiun Gambir yang terkenal itu dan melihat ratusan hingga ribuan orang terlantar tanpa mendapat kereta. “Kereta anjlok di Manggarai. Semua jadwal perjalanan ditunda,” kata seseorang yang saya tanya.


Apaaaaaaaaaaaa! (gaya Opera van Java). Gimana dunk? Tanya sana-sini, akhirnya tahu bahwa rute ke Bandung dan semua kota dialihkan ke Statsiun Senen. Di mana pulak itu Senen? Dekatkah dengan Statsiun Selasa, Rabu, atau Kamis?


Sudah mau mencegat taksi, tapi saya ragu, karena ini Jakarta. Kalau saya dibawa kabur gimana? (wakakaka). Saya sms panitia tadi. “Halooo….. kereta anjlok, semua pemberangkatan dialihkan ke Senen. Gimana ni?” Jawabannya, “Yang ngantar udah pulang, ya, Kang?”


Apaaaaaaaaaaaaaaaa! Itu saja usahamu, Nak? Saya malas jawab kemudian. Saya cuma berpikir, panitia ini memang ndak paham sama sekali bagaimana menerima tamu dan memenej acara. Lalu berpikir lagi, pokoknya pulanglah. Naik angkot juga hayo (nggak segila itu juga, sih). Akhirnya, saya tanya satpam, dan ikut bergerombol dengan ratusan orang yang berebut naik bus Damri yang disiapkan PJKA. Haiyyah, kayak lebaran saja.


Sampai Senen, antrean sudah tak terkira. Kereta yang berangkat sekitar pukul 21:00 adalah kereta yang dijadwal berangkat pukul 16:00 sore. Bisa dihitung, saya yang harusnya berangkat pukul 19:00 jadi mundur berapa jam.


Selesai. Saya naik kereta menuju Bandung tanpa kursi. Berdiri saja berjubel dengan yang lain. Kelelahan, entah sampai mana itu, saya ndeprok … selonjor kaki di lantai kereta. Sama sekali tidak macthing kostum yang saya pakai. Berjas, bawa laptop, kemeja putih, lesehan di lantai kereta. Biarin.

Sepanjang perjalanan saya menunggu sms panitia. Tidak ada. Kok beda, ya? Sewaktu berangkat, dikit-dikit sms, “Sampai di mana, Kang?” “Berangkat jam berapa, Kang?” dan “kang-kang” yang lain. Giliran pulang ndak ada sms apa gitu.


Kalo saya ndak sampai di rumah gimana? Kalau saya dirampok di jalan gimana? Kalau saya nginep di stasiun gimana? Wong posisi terjebak di Gambir saya pajang di status FB saja, banyak yang nawarin nginep di kost atau rumah-nya. Ini panitia malah cuek tiada tara.


Sepanjang perjalanan itu juga saya berpikir. Ini apa yang terjadi sebenarnya? Apakah saya sebagai pembicara yang tidak ikhlas, sehingga berharap mendapat perlakuan yang lebih, atau memang panitia yang luar biasa ter … la … lu?


Bentar … bentar. Dengar-dengar penulis lain bahkan mematok fee segala kalau sudah bicara. Besarnya bisa bilangan juta. Saya tidak lho. Aseli Dagadu buatan Jogja.


Denger-denger, penulis lain pasang kelas minimal penginepan jika mereka diundang ke luar kota. Halah, saya nginep di Mesjid juga mau. Di Surabaya setahun lalu, saya diinapkan di asrama mahasiwa yang busyet, dah, berantakannya. Kamar mandinya asoy geboy berjejal segala kejorokan. Tapi saya enjoy-enjoy saja. Wong panitianya menerima saya dengan penuh etika (halah!). Pukul 01:00 dini hari mereka menunggui saya dan mengantar sampai asrama.


Di salah satu kota di Jawa Barat, saya juga ndak dibayar sama sekali. Padahal tempatnya di ujung dunia begitu deh. Tapi ampuuun. Melihat wajah-wajah itu yang begitu ingin belajar bagaimana menulis, semangat mereka, kesungguhan panitia, saya ndak masalah dengan tidak adanya bujet atau jenis layanan yang memikat.


Meski jujur, saya pun tidak menolak jika panitia memberikan apresiasi yang lebih. Misalnya saat mengisi acara di Jakarta, Solo, atau Bogor. Perjalanan kelas eksekutif, hotel bintang, konsumsi , dan fee yang lebih dari cukup. Tapi itu bukan standar saya.


Heran juga. Saya menandai sesuatu yang mungkin juga bukan sesuatu yang standar.


Saya diundang berulang-ulang oleh organisasi pelajar dan diperlakukan jauh lebih baik. Iya … mereka anak-anak SMP dan SMA. Beberapa kali; di Bandung, Kuningan, Cirebon, Jember, dan lain-lain. Setidaknya saya tidak perlu memikirkan makan di mana, naik kendaraan apa. Tapi, diundang mahasiswa, di luar kasus mutakhir ini, acapkali saya diperlakukan tidak mengenakkan.


Jadi, ini persoalan saya tidak ikhlas atau panitia yang ter … la … lu, ya?
 Orang boleh saja komentar, ah, kalau ikhlas ngapain juga ditulis, diungkit-ungkit?


Jawabnya, yang mengalami seperti ini tidak hanya saya, tentu saja. Ini bukan perkara ingin diistmewakan, tapi ajaran kepada kita bagaimana baiknya memuliakan tamu.


Atau begini saja. Para pembicara; penulis, pendakwah, dll, belajar lagi bagaimana mengkhlaskan diri. Pada lain sisi, para panitia (bener gak tuh?) juga berupaya belajar lagi, bagaimana memuliakan tamu dan memenej sebuah acara?


Ah, entahlah. Menurutmu, bagaimana?

***
 Epilog; sampai Bandung, karena sudah “lewat tengah malam” (jadi inget film Suzanna), saya terpaksa naik taksi sampai rumah yang ongkosnya tiga kali lipat biaya kereta itu sendiri. Menyanyilah saya lagu “Sempurna” versi Gita Gutawa yang nadanya melengking tak ada tandingannya: Sempurnaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

Friday, July 30, 2010

Arti Sebuah Nama

We named her "Najwa Faiza Abdurrahim".

Kegiatan mencari nama ini lumayan bikin puyeng dan menghabiskan jam kerja. Loh, kok jam kerja? Iya, soalnya saya nyarinya pas jam kerja, browsang-browsing sampe mabok. Hehehe, biasa lah..memanfaatkan akses internet yang super cepat. Kalau pake modem GSM di rumah, suka leleeet, apalagi kalau Fair Usage nya abis. Yah, maklumlah karena si Ayah kan hobi meng-abuse Fair Usage, padahal dah punya modem sendiri-sendiri, tapi masih ngembat Fair Usage orang juga.. -_-"


Abdurrahim tuh dapet dari nama Ayah. Ayah dapetnya dari nama Kakek. Supaya keliatan nasabnya gitu kali dulu maksudnya. :D Tapi ga tau kenapa, waktu lulus kuliah tiba-tiba nama belakang itu nggak dicantumin di ijazah. Padahal kita nyari kerja dan ngurus segala macam pakai ijazah kuliah. Mikir mau revisi ijazah, deuh ribetnya gak kebayang. Ya udah, hilang deh tuh nama belakang. Makanya waktu saya hamil, si Ayah semangat banget mau ngebalikin nama belakang keluarga itu di nama anaknya *obsesi pribadi*. :D


Faiza ini juga titipan Ayah yang disetujui Bunda. Artinya, prosperity. Makmur, sejahtera. Ya iyalah saya setuju banget, mudah-mudahan berkecukupan segalanya, both physically and mentally. Semoga lapang jalanmu dan rizkimu ya Nak.. Amiin.
Nah, yang susah nyari nama depannya nih. Pingin yang unik, sekalian bisa buat nama panggilan. Secara Bundanya punya pengalaman, nama panggilannya nyempil di tengah, agak-agak susah pula spellingnya, walhasil orang suka salah sebut. Ada yang panggil pakai nama depan, ada pula yang panggil pake nama tengah. Suatu ketika dapet paket dari online store pake nama lengkap, satpam kantornya gak ngenalin tuh nama, akhirnya tuh paket muteeerrrr seantero kantor gak ketahuan punya siapa, padahal sini udah komplen pake esmosi ke tuh online store, kirain kagak nyampe paketnye. Pan aye jadi maluu..

Yah, dengan semangat 45, mulai hamil 3 bulan saya berburu nama. Dan seperti pada umumnya, penyakit orang yang kebanyakan referensi, akhirnya bingung sendiri. Stok nama bejibun, bingung mau milih yang mana, cakep-cakep dan artinya bagus semuah. Sampe akhirnya memutuskan, udah ah, stop dulu nyari nama, rehat otak dulu. :D
Menjelang lairan (7-8 bulanan lah), baru arsip nama-nama itu dibukain lagi satu-satu. Yah udah waktunya kali ya, tau-tau ada yang catchy aja, langsung sreg, ngga pake bingung kaya pertama-tama dulu. Si Ayah juga setuju. Kami memilih "Najwa".

Kalau disimpulkan, Najwa bisa berarti rahasia, bisikan, tempat yg tinggi, cinta, keselamatan. Termasuk nama-nama yang baik dalam Islam dan disebut dalam Al-Qur'an di antaranya dalam surat 58 ayat 8.
Berikut arti Najwa dalam surat dan ayat tersebut, yang terdapat dalam Tafsir Al-Mishbah jilid 14 :

Kata Najwa terambil dari kata Najah yang pada mulanya (asal kata aslinya) berarti 'terpisahnya sesuatu'. Kata An-Najwah atau An-Najah berarti "tempat yg tinggi". Tempat yang tinggi, apalagi pada masa lalu (masa-masa ayat tersebut turun) dimana banjir dan binatang buas merupakan ancaman, dimaksudkan sebagai tempat berlindung. Dari sini, kata An-Najah dipahami dalam arti 'keselamatan'. Tempat yang tinggi juga berarti tempat yang sukar dijangkau sehingga dapat merupakan tempat persembunyian. Dari kata An-Najwa juga dipahami dalam arti 'menyampaikan sesuatu di tempat yg tinggi atau tersmbunyi' atau 'menyampaikan sesuatu secara rahasia guna menyelamatkan diri'.

Penulis Tafsir Al-Mishbah adalah DR. Quraish Shihab, sekaligus ayah dari Najwa Shihab, penyiar MetroTV, yang secara pribadi saya ngefans sama beliau, moga-moga Najwa besok juga cantiik dan pintaar sepertinya. Amiin..

Sunday, June 20, 2010

My First Project in Sewing

Last week I made this mini dress. It's not usual mini dress, I mean usual 'mini' that describe a very short dress. It's really 'mini', made for the size of doll. :) I made this as miniature for my next dress project. I started to learn sew again last couple of days, after finding a very inspiring site about sewing and crafting : http://verypurpleperson.com. I like her site a lot, she is so talented and everything she made is so cute and precious. She sewn her wardrobe : dresses, bags, shoes, wallets, and much more cute stuff. She even made some sewing tutorials.





I've ever learned about sewing, some years ago, but still at beginner level. My aunt took short sewing course class and often brought her homework to our home. Usually I accompany her finishing it. We made blouse and skirt with the classic sewing machine (the black one, not yet arm-free). We even made kebaya (javanese traditional cloth) and bedcover. Not very neat, with many mistakes here and there, but I'm so proud. After I married and followed my husband here, I never sew anymore, first because my real life is busy enough and second because I don't have any sewing machine here.



But this talented verypurpleperson is so inspiring, she woke my desire up to start sewing again. Her sewing is so cute so I can't stand to try making it by myself, more simpler pattern then her of course. (Hey, I'm still a beginner! ^_^).

I try to implement her tutorial at making gold dot dress, it seems easy. I made the miniature dress first, so I can expect the problems I will face when I make the real-size dress, and finding solutions to solve it. It's better to have mistake in this trial and error mini project than to have it on the real-size project. Here is the result! Not so bad I hope. At least it shaped a dress. ^_^



 


Since my pattern worked for the mini dress, I'm going to make it in real-size dress. But it will take a long time to finish it, I'm still doing it with hands. Yes, full hand stitch. -_-" I don't have sewing machine, and before pursuing my husband to buy it for me, I should prove him that I really-really can make something from it. And hopefully this dress will show him.


Ok, enough with talking. Time to act. Wish it won't take too long until I post the new dress (I doubt it, I'm a kind of lazy person *sigh). But still, I'm so enthusiastic, go go girl, you can do that!


Friday, June 18, 2010

HUNBABA Mei Tai Baby Carrier Guest Giveawayy

Have just find this giveaway promo. I need baby carrier, for the upcoming baby, especially this cute one (really, it's soooooo... cute ^_^).


The Hunbaba Mei Tai baby carrier combines comfort, excellent weight distribution, beauty and stylish design. Every piece is handmade from top quality fabric, with lots of fun and love.

It can be used with babies from 3 months to toddlers in front and back carries.




And.. it has beautiful hand stitched embroidery. Anyone who win it will be very happy (wish it me! :D). Thank's Kathleen for this giveaway promo.


If you like sewing, crafting, designing, or want to win such a giveaway, just check her nice blog at :


HUNBABA Mei Tai Baby Carrier Guest Giveawayy

Tuesday, June 15, 2010

Panti Jompo

Lama nggak blogging, posting lagi ah..



*lagi senggang ^_^



Kali ini cerita tentang suami.



Suamiku (bekerja sebagai staf IT) kadang dipanggil ke bagian lain buat bantuin kalo ada masalah komputer (kalau urusan beginian, jenis kelamin laki-laki lebih disukai, jadi aku jarang dipanggil-panggil, syukurlah ^_^).


Nah,


Ada satu bagian di kantor sini yang isinya mayoritas (hampir semua stafnya) ibu-ibu. Bukan sembarang ibu-ibu, tapi ibu-ibu yang udah mau masuk masa pensiun. Walopun udah pada kasepuhan, tapi tetep pada semangat, dan pada bisa ngetik di komputer. Takjub lho aku waktu pertama ngeliat, pada bisa make word (mengingat aku pernah ngajarin ibuk ku caranya make word, yang berakhir dengan depresi dan putus asa).
Cumaaa.. ya itu, karena udah pada kasepuhan, jadi banyak masalah. Segudang troubleshooting. Suamiku suka dipanggil dan dimintai tolong.

"Dek, kok tombol undo nya ilang?"


"Dek, kemarin file nya ibu simpan di mana ya?"


"Ibu print yang ini kok keluarnya itu?"


"Ibu mau hurufnya kayak huruf di KK (red: kartu keluarga) itu lho." (maksutnya font Arial)


"Kok pinggirnya njeglong-njeglong ya dek?" (dan perlu waktu untuk menyadari njeglong-njeglong itu maksutnya rata kiri, bukan justify)

Pas lagi suamiku pontang-panting benerin ini-itu, ibu-ibu itu (sambil nunggu dibenerin), ngumpul dan nggosip Ariel. "Iiih.. ariel tu kok bisa-bisanya ya. Liat ndak kemarin di cek en ricek?" "Eeh.. aku bawa tabloid bintang yang baru lho, ini ada beritanya."

My husband called that section as "panti jompo".

Suatu hari habis pulang kantor suami bilang gini, "Bunda, bisa buatin ayah badge enggak."


"Badge apa?"


"Kaya pin tu lho." Secara dia tau istrinya punya hobi baru bikin pernak-pernik dan jait-menjait.


"Pin? Buat apaan?"


"Pin, tulisannya assisting elderly badge. Nanti ayah pakai tiap kali tugas di panti jompo."


Mau nggak mau jadi ngakak. Assisting elderly badge itu kan yang dipakai Russel (tokoh anak kecil pramuka di film kartun Up).

Panti jompo. Iya si, coba kalau aku yang disitu, pegel dah.. :D

Thursday, May 20, 2010

dari 'Roker' ke 'Rotol'

Akhirnya setelah sekian lama jadi bagian 'roker' ('rombongan kereta', istilah untuk para pelaju yang menggunakan jasa KRL jabodetabek), saya dan suami memutuskan untuk berpindah ke 'rotol' ('rombongan tol' *ngasal.com). Hehe.. maksutnya rutenya pindah, dari atas rel ke atas jagorawi.



Sebelum berpindah model alat angkut, saya sudah lama berdiskusi dengan suami tentang ini. KRL yang biasa kami naiki, KRL Ekspres, sebenarnya cukup nyaman. Ber-AC, pedagang tidak masuk, dan hanya berhenti di stasiun tertentu saja (tidak semua stasiun) dengan harapan waktu tempuhnya bisa lebih singkat dibandingkan KRL ekonomi.


Tapi apa daya, KRL, sebagaimana transportasi publik yang lain, sering berhadapan dengan 'gangguan'. Ada KRL ekonomi mogok lah, anjlok lah, gangguan sinyal lah, sampai gangguan-gangguan lain yang bahkan saya tidak pernah tahu jenis gangguannya atau dimana persis lokasinya. Masalahnya, satu titik terganggu, seluruh jadwal KRL yang melintasi titik itu pun ikut terganggu. Gangguannya bukan cuma hitungan menit, tapi seringkali hitungan jam. Saya pernah terperangkap 3 jam di dalam kereta karena gangguan. Capek sekali rasanya. Belum lagi kondisi saya yang sedang hamil makin memperparah keadaan.



Ada sih, courtesy seat (tempat duduk prioritas) di setiap sudut gerbong, yang tertulis diutamakan bagi ibu hamil, orang sakit/cacat, dan lansia. Tapi prakteknya tidaklah semudah yang tertulis. Saat hamil muda, morning sickness sedang parah-parahnya, saya pernah naik KRL ekspres yang penuh sekali. Dengan susah payah di antara desakan penumpang, saya menuju ke courtesy seat. Courtesy seat terisi penuh oleh ibu-ibu, hanya ada satu bapak-bapak yang duduk di situ. Asumsi saya, kalau bapak-bapak kan nggak mungkin hamil. Lagipula nampaknya segar bugar begitu. Saya bilang ke bapak itu, "Pak, maaf saya hamil. Boleh saya duduk di situ?" Bapak itu melihat saya sekilas dan bilang, "Nggak kelihatan hamil tuh, kalo mau duduk nanti dulu, gantian, saya juga baru aja duduk."


Gdubrak. Bisa-bisanya dia bilang begitu.

Setelah tragedi demi tragedi tersebut berulang, dan sepertinya dalam waktu dekat belum akan ada perbaikan, akhirnya kami memutuskan untuk beralih ke jalan tol jagorawi. Nyaris setiap orang yang tahu rencana kami bilang bahwa pilihan naik mobil sendiri, Bogor-Jakarta PP saban hari, adalah pilihan yang melelahkan dan boros. Jauh lebih lelah dan boros dibandingkan naik KRL.

Tapi ternyata, setelah mencobanya selama beberapa hari, rasanya jauh lebih nyaman. Bagi kami paling tidak. Waktu tempuh antara 1,5 sampai 2 jam yang stabil. Memang lebih lama dibandingkan KRL ekspres yang normalnya hanya 1 jam, tapi waktu tempuh dengan mobil itu stabil. Ya segitu-gitu aja, nggak ada gangguan sampai berjam-jam yang nggak bisa diprediksi seperti KRL. Dari segi biaya, setelah dihitung-hitung sama juga. Saya dan suami naik KRL ekspres pulang-pergi, dari rumah ke stasiun dan stasiun ke kantor masih disambung bajaj pulang-pergi. Jadi jatuhnya ya sama aja. Apalagi saya dan suami berkantor di kompleks yang sama, pulang pergi bisa barengan. Dan lebih utama lagi, saya jatuh cinta pada fleksibilitasnya. Tidak ada cerita panik diuber-uber jadwal kereta. Tidak lagi terbirit-birit. Tidak lagi ketinggalan kereta dan harus menunggu bermenit-menit, bahkan berjam-jam untuk kereta berikutnya. Rasanya lebih rileks dan tenang.

Memang ada biaya tambahan, biaya perawatan mobil yang harus dialokasikan lebih dari biasanya, karena mobil dipakai jarak jauh setiap hari. Apalagi mobil kami tergolong mobil tua. Memang harus berhemat, karena dengan naik KRL saja kami sudah repot mengalokasikan dana transportasi, sekarang dengan naik mobil dana yang harus dialokasikan jadi bertambah.


Tapi rasa rileks dan tenang, juga kenyamanan, adalah hal berharga. Waktu bersama keluarga juga terasa lebih berkualitas karena stres di atas kereta tidak lagi dibawa pulang ke rumah.

Jika suatu hari kalau angkutan umum kita menjadi lebih baik dan lebih nyaman, tentu dengan senang hati saya akan berpindah alat angkut lagi. Tapi sepertinya tidak dalam waktu dekat ini. :) Mudah-mudahan saja suatu hari nanti.