-->

Pages

Friday, August 19, 2016

Sleep Behavior

Sebagian besar ibu-ibu pasti pernah punya kenangan begadang setelah melahirkan. Iya kan, Mak? Saya juga sama. Kenangan yang benar-benar terkenang selamanya :D karena mengubah total perilaku tidur yang sudah saya jalani selama bertahun-tahun dan perlu bertahun kemudian untuk mengembalikannya menjadi normal. :D

Tapi punya anak benar-benar mengubah hidup (baca: pola tidur) saya. Saya ini tipe pelor, nempel bantal-molor. Alias bukan ahli begadang karena saya pengikut paham bung Rhoma Irama, begadang itu tiada gunanya. Jam tujuh malam kadang sudah bobok manis meluk guling, nyenyak sampai pagi. Jarang banget begadang, kecuali di tengah keriaan pekerjaan yang memang menuntut jatah melek. Dulu ketika masih LDR (belum ikut suami ke kota tempatnya bekerja), suami yang kebalikannya saya: ahli banget begadang, sering menelepon di jam-jam absurd, jam di mana saya sedang pules-pulesnya tidur. Bayangkan saja, sedang enak-enaknya tidur, dibangunkan dering telepon dan diajak ngobrol. Ujung-ujungnya di tengah obrolan saya lanjut tidur ketiduran lagi, baru sadar pagi harinya ketika bangun. Dan menghabiskan hari itu dengan membujuk suami yang ngambek karena cerita panjang kali lebarnya tentang bagaimana ia menghabiskan hari, sama sekali ngga direspon berhubung yang diajak cerita sukses tidur.



Picture taken from here

Begitu anak pertama saya lahir, di antara jutaan kebahagiaan yang berlimpahan sebagaimana dirasakan para orang tua lainnya, tantangan besar saya hadir: anak saya pewaris tulen keahlian ayahnya. She is a nocturnal cutest baby girl ever. She swapped day with night. She slept all the day and awoke all the night. All the night, literally. Ibu saya yang berpengalaman puluhan tahun sebagai bidan senior dan mendampingi saya selama bulan-bulan pertama kelahiran cucunya sampai menyimpulkan lebih mudah dapat tugas jaga malam kamar bayi di rumah sakit yang satu kamar isinya bisa sampai 20 bayi daripada dapat tugas malam momong cucu bayinya pas emaknya akhirnya menyerah karena teler. Anak saya bisa benar-benar terjaga semalaman.


Pada masa-masa awal kelahiran itu, banyak orang yang saya sambati (halah apa ya bahasanya, curhatisasi dan keluhisasi begitu) menghibur bahwa punya bayi memang pasti begadang, tapi nanti sebulan sampai tiga bulan juga sudah normal pola tidurnya. Anak saya lewat sebulan, dua bulan, tiga bulan, masih begadang. Sampai setahun pun masih begadang! Padahal saya adalah ibu bekerja, tidak memiliki asisten menginap (asisten pulang hari), jadi tidak ada waktu untuk balas membayar tidur di siang harinya. Pernah suatu kali anak saya tidak mau tidur sampai pukul lima pagi, walhasil hari itu saya ngantor dengan linglung karena otak nggak bisa dipakai buat mikir. Sampai usia awal empat tahun, jam tidur normalnya masih antara jam 12 dan jam 1 malam, kadang malah jam 2 malam. Semua artikel saya baca dan rasanya semua daya upaya kayanya sudah saya coba. Mulai dari menyalakan musik lembut, tidak tidur siang supaya malam bisa tidur awal, meredupkan lampu (konon suasana sendu membuat lebih mudah tidur), sampai mematikan total semua lampu pun sudah saya coba. Hasilnya nihil. Bahkan di tengah rumah yang gelap gulita, tetap saja anak saya tidak tidur, eh malah mainan boneka, boneka saya umpetin dia mainan bantal, bantal saya singkirkan sampai di kasur nggak ada apa-apa, dia ngajak ngobrol bundanya, bundanya nggak nyaut pura2 tidur, dia ngecipris membuat cerita sendiri. Desperate. Akhirnya ya sudah, bukannya pola tidur anak yang berubah normal, pola tidur saya yang menjadi tidak normal. Terpaksa saya ikut begadang menemani. Ninggalin tidur jelas bukan opsi, nggak tega dan parno dengan berbagai kemungkinan semisal nyemplung ke ember atau kabur keluar pagar (ya nggak mungkin sih, buka pintu aja belom bisa, tapi namanya mak-mak mah parno aja).


Lalu pada suatu kesempatan, saya bertemu dengan sahabat dan ngobrol panjang lebar. Salah satunya tentang anak-anak. Dia bercerita tentang anaknya (yang lebih tua beberapa tahun dari anak saya) yang tadinya juga punya pola tidur terbalik. Wah, saya langsung antusias. Dari ceritanya, mirip kebiasaan anak saya banget nih. Bagian terbaiknya adalah di bagian akhir dia bercerita bahwa sekarang anaknya sudah kembali ke pola tidur normal. Saya berondong dia dengan pertanyaan, "Gimana sih kok bisa??" Dan jawabnya adalah, "Karena sekolah. Percaya deh, nanti kalau sudah masanya sekolah, sudah bisa dibilangin, tinggal kasih disiplin sedikit, bisa kok."


At that time, I doubted it.

But did you know? It worked. With some extra efforts, but it worked.

Setelah masuk masa sekolah, secara perlahan pola tidurnya berangsur normal. Iya memang perlu usaha ekstra, tapi berhasil. Usaha yang kurang lebih sama dengan yang saya lakukan ketika sebelum dia sekolah, bedanya dulu nggak ngaruh, sekarang pengaruh. Mungkin karena sekarang sudah bisa dibilangin, sudah bisa diajak berpikir, sudah tahu waktunya tidur harus tidur (walaupun sebelum sekolah sudah bisa diajak ngobrol juga, tapi belum mendapat hidayah). Mungkin karena banyak aktivitas di sekolah yang melelahkan sehingga waktu malam lebih mudah mengantuk (walaupun sebelum sekolah kalau siang juga main melulu dan nggak tidur siang). Mungkin. Entahlah. Yang jelas sekarang pola tidurnya sudah normal, jam 9 mulai digiring dan jam setengah 10 sudah tidur. Paling malam jam 10, itu juga jarang. 


Jadi kesimpulannya, dalam kasus anak saya rasanya kok itu sudah bawaan lahir ya :D Bawaan lahir yang sembuh setelah dia masuk sekolah, sama seperti yang dikatakan sahabat saya. Alhamdulillah adiknya enggak nurun bakat melek kakaknya, sejak lahir sudah bobo pules tiap malam, meninggalkan saya begadang bengong sendirian. Iya, anak pertama saya sudah sembuh dari kebiasaan begadang, tapi emaknya enggak :D :D Kekacauan pola tidur bertahun-tahun membuat saya sulit balik lagi ke pola awal waktu masih single: jam tujuhan sudah stand by di kasur untuk pergi ke pulau mimpi.


Buat emak-emak yang anaknya bakat begadang juga, jangan patah semangat ya mak. Kasus anak saya begitu, setelah masuk sekolah ia sembuh. Jangan lupa bahwa tiap anak berbeda, jadi mungkin ananda punya momen atau treatment sendiri yang berbeda. Ada beberapa hal yang saya jadikan rutinitas dan sangat membantu memperbaiki kebiasaan tidurnya :


1. Tentukan batas waktu aktivitas diselesaikan untuk mulai persiapan tidur.


2. Berulangkali mengatakan pada anak-anak (misalnya bahwa jam 9 malam adalah batas semua media rekreasi : tivi, games, buku, mainan, dsb diselesaikan). Jadi anak-anak sudah hapal dan nggak ngajak ribut pada waktu diminta selesai dan siap-siap tidur. Orang tua juga disiplin, pada jam tersebut menghentikan aktivitas dan ikut menggiring anak-anak untuk persiapan tidur.


3. Rutinitas sebelum tidur : buang air kecil, sikat gigi, ganti baju bila perlu.


4. Mematikan lampu dan hanya menyalakan lampu tidur (sudah pernah mencoba sebelumnya dan tidak ada pengaruh, kemudian setelah anak masuk sekolah dicoba lagi eh ternyata berhasil membantu persiapan tidur).


5. Setelah semua siap posisi tidur di kasur masing-masing, saya menerapkan quiet moment. No talking in quiet moment. Dan biasanya setelah beberapa menit quiet moment, anak-anak langsung tidur.


6. Disiplin, biarpun besok hari minggu, atau sedang libur sekolah, rutinitas tidur tetap seperti biasa di waktu yang sama. Walaupun sedang khusyuk menonton mas James McAvoy yang sungguh charming, kalau sudah waktunya persiapan tidur tetap harus dimatikan dan ikut menggiring anak-anak tidur. Hiks.


Memang terasa sih perbedaannya, waktu tidur yang lebih teratur membuat kita lebih sehat, bangun lebih segar dan bisa memanajemen waktu dengan lebih baik. Saya jadi punya waktu luang untuk sekedar baca-baca, browsang-browsing, nonton atau merajut. Demi kesehatan sekarang saya juga mulai berusaha memperbaiki pola tidur sendiri.


Megan Nielsen, salah satu crafter blogger favorit saya juga menulis bahwa disiplin mengatur pola tidur anak adalah kunci bagaimana ia dapat membangun bisnisnya di bidang sewing pattern dari rumah dengan tiga orang anak yang masih kecil. Postingannya bisa dilihat di Sinn, sharing story yang bagus banget menurut saya.


Semoga postingan ini bermanfaat ya. Thanks for stopping by. :)



Picture taken from here

Saturday, July 16, 2016

Risoles Roti Tawar

Mumpung anak sholeh lagi bobo pules, dan ada ide untuk ditulis di blog, buru-buru deh nyamber laptop. Sayang soalnya, ide dan waktu mahal harganya hihihi….






Jadi begini ceritanya, tempo hari pas acara buka bersama Pesantren Kilat anak-anak, salah satu snack menu berbukanya Risoles, tapi yang bikin sedikit lain risoles ini nggak pakai kulit risoles biasa melainkan pakai roti tawar. Pas dicoba enaaaaak.. saya sampai ngambil lebih dari sebiji :D Habis itu kepikiran terus pingin bikin. Mumpung kemarin ada banyak roti tawar di rumah, ya udah saya coba bikin. Resep isiannya diadaptasi dari Dapur Mama Aisyah (Terima kasih Mama Aisyah, resepnya recommended banget!) Saya pakai setengah resep jadi 10 risoles dan masih ada sisa ragout yang disimpen di kulkas, buat next time kalau mau bikin lagi.


Bahan :


10 roti tawar putih kupas (tanpa kulit), saya pakai Sari Roti

1 buah kentang ukuran besar, potong dadu kecil, rebus hingga agak empuk
1 buah wortel ukuran besar, potong dadu kecil, rebus hingga agak empuk
1/2 bawang bombay ukuran besar, cincang halus
3 siung bawang putih, cincang halus
2 sdm margarin untuk menumis
3 sdm munjung tepung terigu
125 ml susu cair
50 gram keju cheddar parut
2 butir telur, kocok lepas
tepung bread crumbs secukupnya (karena di rumah nggak ada stok tepung panir)
mayonaise secukupnya
air putih secukupnya
garam secukupnya
gula pasir secukupnya
merica secukupnya

Cara membuat :

Membuat ragout :
1. Panaskan margarin, tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum dan layu. Masukkan tepung terigu, aduk rata. Masukkan susu cair, tambahkan air secukupnya, aduk terus hingga tercampur dan mulus. 
2. Masukkan wortel dan kentang, masak hingga sayuran matang. Tambahkan keju parut, aduk hingga keju meleleh dan tercampur rata. Tambahkan bumbu (garam, gula pasir, merica). Aduk rata dan cicipi.

Membuat risoles :
1. Ambil selembar roti tawar, olesi mayonaise. Tambahkan satu sendok makan ragout, tekuk menjadi berbentuk segitiga. 
2. Celupkan ke dalam kocokan telur. Gulingkan ke tepung panir (saya pakai tepung roti/bread crumbs) sambil dipencet sedikit supaya menempel.
3. Panaskan minyak yang cukup untuk menggoreng risoles sampai terendam. Setelah minyak panas, masukkan risoles, goreng sampai kuning keemasan, tiriskan.



Kentang dan wortel dipotong dadu, rebus sampai empuk, lalu tiriskan.





Bawang bombay dan bawang putih ditumis sampai harum dan layu.



Ragout yang siap diisikan ke kulit risoles.




Setelah roti tawar diisi ragout, celupkan ke telur dan gulingkan di tepung panir/tepung roti.




Risoles siap untuk digoreng atau disimpan di kulkas.






Goreng risoles dengan minyak panas sampai kuning keemasan.


Kata anak-anak enyaaak, alhamdulillah… Bikinnya juga cepat, semalam sayuran diiris halus, masuk kulkas. Pagi tinggal cemplung-cemplung. Rasanya crunchy, creamy dan ngeju. Snack recommended ini buat cemilan keluarga sambil ngeriung di hari libur. :)




Happy snacking! :)



Thursday, March 24, 2016

Dompet Koin Gamaguchi

Beberapa waktu terakhir ini ada tren kekinian di kalangan para perajut lokal, yaitu rajutan dompet koin dengan behel. Tren ini pertama kali saya ketahui dari master perajut Mak Jibenk Hidayat, yang saya kagumi karena selalu berhasil menciptakan karya-karya unik dan cantik. Salah satunya adalah dompet koin ini yang beliau sebut dengan nama gamaguchi.

Gamaguchi adalah dompet koin khas Jepang yang menggunakan behel dan memiliki bentuk khas, biasanya berbentuk mini fat bottomed purse. Bodinya yang endut dengan alas lebar tapi mungil (susah juga bilangnya ya :D) membuat gamaguchi jadi terlihat imut. Saya pun tertarik untuk mencoba membuatnya. Walaupun demikian, niat itu baru sebatas niat saja sih, karena saya belum punya behel, spare part paling penting dari gamaguchi. Tapi siapa sangka, saat saya pulang kampung ternyata Ibu memiliki beberapa behel gamaguchi yang belum dipasang bodi dompet, bahkan ada beberapa ukuran. Langsung saja beberapa behel itu pun berpindah tangan. :D Thanks Mom, love you so much!

Setelah behel didapat, langkah berikutnya adalah perburuan pola. Setelah beberapa waktu browsang-browsing dan panteng sana-sini, saya menemukan pola dengan foto hasil akhir dompet yang sepertinya cocok dengan selera saya. Kemudian saya mulai merajut pola tersebut. Merajut gamaguchi adalah proyek yang cepat dan menyenangkan. Secara umum pola tersebut mudah diikuti, masalah hanya muncul saat harus memasang rajutan yang sudah berfuring ke dalam behel dompet. :D Yah, perlu kesabaran dan ketelatenan lah. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya saya berhasil. Untuk percobaan pertama, hasilnya lumayan cantik menurut saya :D. 



Bagi yang berminat ingin mencoba merajut gamaguchi, pola aslinya saya ambil dari sini, thanks a lot Mònica Cifuentes Ogando (witchnofret) for the pattern!

Pola Dompet Rajut Gamaguchi

Material : 
Benang Poly Cherry coklat tua
Hakpen 3 mm
Behel untuk dompet koin ukuran 8 cm

Pola :

1. Magic ring dengan 6 single crochet (sc). Untuk tutorial single crochet bisa dilihat di sini. Tutorial magic ring bisa dilihat di sini atau melalui video Youtube di sini.

2. 6 increment (inc). Total ada 12 sc. Increment adalah melakukan dua sc dalam satu lubang, tutorial increment bisa dilihat di sini.

3. * 1 sc, 1 inc *, ulang dari tanda * ke * sebanyak 6 kali. Total 18 sc.

4. * 1 inc, 2 sc *, ulang dari tanda * ke * sebanyak 6 kali. Total 24 sc.

5. 2 sc, * 1 inc, 3 sc *, ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 1 sc. Total 30 sc.

6. 1 sc, * 1 inc, 4 sc * ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 3 sc. Total 36 sc.

7. 4 sc, * 1 inc, 5 sc * ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 1 sc. Total 42 sc.

8. 1 sc, * 1 inc, 6 sc * ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 5 sc. Total 48 sc.

9. 5 sc, * 1 inc, 7 sc * ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 2 sc. Total 54 sc.

10. 2 sc, * 1 inc, 8 sc * ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 6 sc. Total 60 sc.

11. 7 sc, * 1 inc, 9 sc * ulang dari tanda * ke * sebanyak 5 kali, 1 inc, 2 sc. Total 66 sc.

12. Ulang pola baris ke-11 sampai mencapai 32 baris.


Setelah selesai baris ke-32, selanjutnya adalah memasang furing dan memasangkannya ke dalam behel. Proses memasang ke dalam behel juga suatu perjuangan tersendiri karena harus dijahit tangan :D bagian paling sulit adalah membuat jahitan tangannya tetap rapi :D.



Contoh karya-karya cantik rajutan dompet gamaguchi bisa dilihat di blog mbak Rosa, saya juga mupeng melihatnya, manis-manis sekaliii.....

Masih ada sisa beberapa behel yang belum dipasangi rajutan. Saya ingin membuat lagi, mungkin bereksperimen dengan model stitch yang lain atau aplikasi. Well, let's see. :D