-->

Pages

Showing posts with label food. Show all posts
Showing posts with label food. Show all posts

Sunday, January 31, 2021

Minggu Pagi dan Cinnamon Rolls

Hari ini saya janji ke anak-anak untuk sepedaan minggu pagi ke taman, tapi ternyata pagi ini mendung menggantung, tinggal dikit lagi bisa bresssss, hujan. Terpaksa janjinya dibatalkan. Anak bungsu manyun, kecewa karena dari semalam sudah berangan-angan mau gowes di taman. Saya mengganti janji bersepeda dengan membuat roti dan kentang goreng keju. Mendung-mendung begini, nikmat sekali untuk makan roti hangat ditemani kopi.


Januari, hujan berhari-hari. Dulu sebelum pandemi mungkin kami masih bisa jalan-jalan keluar, ngemall naik mobil di hari hujan. Tapi sejak pandemi Maret tahun lalu, kegiatan ngemall berhenti total. Semua kegiatan main kami ke luar selalu ke tempat-tempat outdoor. Kadang saya heran, ternyata bisa juga ya hidup berbulan-bulan tanpa mall. Rasanya nggak kehilangan juga, I don't miss that fancy places. Cuma masalahnya tempat-tempat outdoor begitu membutuhkan cuaca yang cerah supaya bisa nyaman jalan-jalannya. Nggak lucu juga sepedaan basah kuyup sama anak2. Jadi di bulan Januari yang hujan (literally) sehari-hari ini, praktis emak jadi mager keluar-keluar.


Jadi hari ini agenda kami sementara cuma di rumah. Saya punya janji juga bikin roti. Keluarga kami penggemar bolu dan roti sobek. Termasuk beberapa bolu dan roti sobek kategori jadul jadi resep favorit keluarga kami. Kami kurang tertarik dengan roti-roti kekinian yang fancy. Roti-roti kekinian umumnya multi layer, frosting tebal, dan ekstra manis. Walaupun kadang-kadang beli cake kekinian juga sih, misalnya pas ulang tahun.


Saya sendiri senang baking. Rasanya hepi bisa membuat sesuatu yang enak dari bahan mentah dengan tangan dan usaha sendiri. Apalagi kalau dimakan dengan semangat oleh anggota keluarga yang lain. Resep-resep yang saya coba umumnya resep simpel, dengan alat yang nggak terlalu macem-macem dan bahan yang gampang didapat di toko bahan kue kesayangan depan komplek, yang cukup ditempuh dengan cussssss jalan ke depan sebentar. Tokonya lumayan lengkap, ada butter, ada cream cheese, ada susu evaporasi, cukup lah untuk resep-resep yang saya coba. 


Pagi ini cinnamon roll homemade yang jadi menu sarapan. Roti kayu manis adalah favorit saya. Dulu saya nggak terlalu suka kayu manis, tapi sejak icip-icip cinnamon pretzels, saya jadi suka dengan aroma dan rasa ini. Enak sekali cinnamon rolls ini dimakan sambil ngopi anget-anget, di pagi hari bermendung sambil menulis blog ini. Saya senang mencuri waktu singkat di minggu pagi untuk me time. Kalau di hari yang lain, pagi hari adalah waktu sibuk. Walaupun sekarang sekolah anak-anak dilakukan via zoom, tetap saja pagi hari waktu rempong jaya emak-emak, supaya waktunya masuk zoom anak-anak sudah rapi, sudah sarapan, dan siap sekolah.

Cinnamon rolls yang saya buat ini resepnya pakai resep cinnamon rolls mbak Fitri Sasmaya (terima kasih mbak!), tipenya sobek yang padat tapi lembut. Saya buat tanpa glaze pun sudah enak. Resepnya saya ambil dari cookpad beliau, ijin share ya mbak. Recommended untuk dicoba, enak banget!


💚💚Cinnamon Rolls💚💚

Bahan dough:
230 g tepung terigu protein tinggi
50 g tepung terigu serba guna
1 sdm susu bubuk
50 g gula pasir
1 butir telur
1/4 sdt garam
50 g mentega

Bahan biang:
4 gram ragi instant
1 sdt gula pasir
120 ml air hangat

Filling:
30 gram gula palm
30 g gula pasir
1 sdt bubuk kayu manis /cinnamon powder

Olesan:
30 g butter dicairkan

Langkah:
💙Buat bahan biang, siapkan mangkok beri air hangat masukkan ragi dan gula pasir, aduk rata biarkan 10 menit sampai timbul buih2, tanda ragi aktif.
💙Siapkan mangkok masukkan, tepung terigu, gula, susu bubuk dan telur, tambahkan bahan biang. Uleni sampai setengah kalis dengan tangan.
💙Masukkan mentega dan garam, uleni sampai kalis elastis. 
💙Bulatkan, tutup dengan plastik wrap, biarkan mengembang 2xlipat, sekitar 1 jam. Kempeskan adonan.
💙Gilas dengan rolling pin, oles dengan mentega.
💙Campur gula pasir gula palm dengan bubuk kayu manis.
💙Taburkan secara merata diatas adonan yang telah dioles mentega, gulung.
💙Potong2 menjadi 11 bagian sama besar. Tata kedalam loyang yang telah dioles margarin tipis2. Saya pakai loyang bongkar pasang diameter 20cm. biarkan mengembang lagi, Oles dengan mentega cair.
💙Panggang dengan suhu 180 (oven dipanaskan 10 menit sebelum adonan dimasukkan) panggang selama 20-25menit, pakai api bawah saja, sesuaikan oven masing2. Angkat dan taruh di cooling rack.


Saturday, April 4, 2020

Hari Ke-19 #dirumahaja

Alhamdulillah, hari ini Kakak sembuh. Demam sudah reda tidak kambuh lagi. Tadi pagi juga sudah bergabung dengan online class les Bahasa Inggrisnya. Sehat2 terus ya anak2.







Seharian tadi kami serumah disibukkan dengan beberes dan bersih2. Beberes kebon, jemur kasur, mencuci gorden tahap I (setengah dulu, setengah lagi besok karena daya tampung mesin cuci terbatas), membuat juice untuk stok di kulkas, dan printilan2 yang lainnya lagi.



Ngopi bareng paksu sambil duduk di teras yang menghadap taman kecil adalah me time favorit saya. Rileks dan tenang banget rasanya tiap melihat yang ijo2, apalagi di waktu2 habis hujan.

Rajutan sweater lumayan nambah beberapa baris. Saya hanya tinggal merajut setengah bagian lengan lagi, dan sweater siap dipakai. Tapi ya itu, progressnya slow motion banget, karena banyak disambi2.

Hari ini sekitar saya dipenuhi dengan orang2 bersemangat yang bergerak untuk melawan covid19. Syukurlah masih banyak warga yang rela membantu dengan ikhlas tanpa pamrih.

Oh iya, bunga bougenville silangan yang saya adopsi dari rumah @kebunnyabinarbumi berbunga untuk pertama kalinya! Bunganya warna magenta cantik sekali.





Hanya itu yang bisa saya ceritakan untuk hari ini. Rasanya mata udah sepet banget karena ngantuk. Hari ini aktivitasnya banyak menguras energi.



Anyway, I hope you are all doing well, hope you have food for yourselves and your families, and more importantly I hope you're staying indoors and keeping safe.


Sunday, March 29, 2020

Hari Ke-13 #dirumahaja

Weekend is over. Kami masih wfh kok, belum masuk. Tapi Sabtu-Minggu tetap menjadi hari libur yang ditunggu-tunggu karena tidak ada kelas di rumah. Anak-anak bebas main, saya juga lega karena tanggung jawab harian berkurang drastis. I send my respect to all homeschooling mamas out there. Bukan hal gampang mengajar anak2. Apalagi mendidik. Sampai sekarang saya masih sering kewalahan menjadi guru di rumah. Walaupun sudah lebih terkontrol dibanding hari-hari pertama yang lalu 😁





Weekend ini sempat panen jeruk dari kebun walaupun nggak banyak. Jeruknya tabulampot (tanaman buah di dalam pot), jadi nggak terlalu besar pohonnya. Mudah dipetik walaupun nggak terlalu banyak buahnya, karena tumbuh di pot jadi terbatas.


Hasil panenan kebun

Saya masih menjaga jarak dengan sosial media dan berita. Online tentu saja masih, hanya yang terkait hobi. Weekend ini alhamdulillah punya waktu yang lebih longgar untuk merajut, membaca blog2 yang saya ikuti, menonton tayangan channel favorit di Youtube (mostly about simple living).







Kemarin pesanan tepung gluten free saya tiba, dan paksu yang diet gluten free langsung bikin tempe kemul dengan daun bawang kesukaan kami. Rasanya enak, nggak kalah dengan tepung terigu biasa. Bisa jadi langganan nih. Saya pakai Valitas gluten-free all purpose flour, beli di market place.



Ada kabar di akhir hari tentang rencana karantina wilayah dan penutupan akses jalan masuk/keluar Kota Bogor dan Jakarta. Di satu sisi kami lega karena langkah ini jelas akan membatasi pergerakan penduduk dan mudah-mudahan menekan tingkat penularan. Tapi di sisi lain saya khawatir dengan distribusi kebutuhan pokok dan sekunder.



Belum ada pernyataan lebih lanjut apakah penutupan akan berlaku secara total atau buka/tutup dengan persyaratan, misalnya dibuka untuk truk sembako atau pengiriman jasa kurir. Terus terang di saat2 seperti ini kami banyak mengandalkan belanja online untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat kami peroleh di sekitar daerah rumah.

Kami masih keluar rumah sesekali untuk membeli keperluan tapi hanya ke tempat2 yang dekat, misal minimarket sekitar komplek, ke ATM, atau tukang buah. Kalau pengiriman jasa kurir terkena dampak penutupan, tentunya akan berpengaruh. Kita tunggu saja nanti bagaiamana keputusan pemerintah.


Hari ini saya menemukan tautan ke seri dokumenter Edwardian Farm, film dokumenter sejarah yag mencoba mereplika kehidupan pertanian di masa Edwardian (sekitar 1901-1910). Saya adalah penyuka sejarah jadi dokumenter ini cukup menarik, lumayan untuk ditonton sambil merajut dan rileksasi.

Tetap sehat, tetap sabar, tetap tinggal di rumah.


Friday, March 27, 2020

Hari Ke-11 #dirumahaja

Hari ke-9 di rumah, banyak-banyak memfokuskan diri pada hal-hal positif dan pikiran positif. Di saat seperti ini nggak hanya fisik yang harus sehat, mental juga harus sehat. Fokus di keluarga, jadikan setiap kesempatan kita bersama orang2 tercinta menjadi momen bahagia. 

Stress pasti ada. Perubahan pola keseharian baik bagi kami orang tua maupun anak-anak tentunya memerlukan adaptasi, dan adaptasi itu bisa mulus, bisa juga tersendat-sendat. Yang paling membutuhkan usaha adalah memindahkan sekolah ke rumah. Terus terang saya nggak punya background pendidikan anak, pun stok sabar untuk mengajari anak2 😅 

Momen #dirumahaja kali ini benar2 mengajarkan saya arti pendidikan dan betapa besar jasa para pendidik. Mulai dari daftar tugas sekolah, bagaimana menyampaikan ke anak2, dan apa hasil dari tugas2 itu yg bermanfaat untuk keseharian, sungguh membuat saya memutar otak dan menghela nafas melatih kesabaran berkali2. Terpujilah wahai engkau bapak ibu guru.







Kesibukan sekolah di rumah ini walaupun ada kalanya membikin stres kami sebagai orang tua, namun sisi positifnya juga, waktu untuk nongkrongin berita covid19 jadi banyak berkurang, otomatis healing juga untuk kesehatan mental kami. Karena sungguh berita mencemaskan yang terus-menerus itu nggak sehat untuk psikologis kita.

Usaha makan sehat insyaAlloh masih terus diupayakan. Cara instan versi kami ya via juicer. Slow juicer yang dibeli beberapa waktu lalu sangat bermanfaat. Segala macam stok sayur dan buah sudah coba kami masukkan ke slow juicer, hasilnya enak semua. Tanpa gula tambahan, kadang dibubuhi garam himalaya sedikit agar ada rasa umami.












Saya juga menyelesaikan tas rajut proyekan tempo hari. The state of the world needs bright colors, so I crocheted one. 



Semoga hari-hari kelabu yang meliputi dunia belakangan ini bisa segera berganti dengan hari-hari ceria yang penuh warna kembali. Aamiin. Stay safe, stay healthy, stay at home save lives.

Sunday, July 22, 2018

Stitch Along (SAL) Harta Karun Juni 2018: Netherlands

When life gives you lemons, make lemonade.
When life gives you hands, make handmade.


Selamat siang, apa kabar semua? Kabar dari sini berhembus agak sedikit kelabu. Yeah, that kind of life-throws-you-curve-but-you-learned-to-swerve things. Enihooo, I finally made to fill my days with things that make me happy, which involved LOTS of crafting, writing and spending time with my dear sweetest little family. I am so very thankful of having them right by my side.

Apa kabar Plastic Free July? Udah berjalan setengah bulan lebih sejak postingan lalu. Masih semangat kok, saya akan tulis lagi tentang event ini di postingan berikutnya ya, kalau nggak lupa 😁😁

Bai de wei baswei, bulan kemarin saya nggak posting progress SAL ya. Karena setoran SALnya baru selesai persis sebelum deadline jam 12 malam berdentang dan kereta kencana Cinderella berubah jadi labu kembali. Nyarissss banget lewat sih, sebenarnya 😁 Untung teman saya yang baik hati dan tidak sombong yang sedang rajin-rajinnya mainan benang tapi males banget ngapdet craft blognya ini, mengingatkan pas malem hari H, "Bulan Juni cuma sampek tanggal 30 mbaak..." di saat saya mengira dengan girang hati bahwa masih ada sehari lagi waktu buat ngelembur setoran SAL.



Akhirnya berhasil setor juga sih, setelah panik berusaha nyelesaiin kristikan dengan kecepatan cahaya, sampek jari ketubles-tubles jarum 😂 Belom selesai bagian backstitch-nya, tapi dimaafkan kok. Yang penting gak telat setoran. Alhamdulillaah... Adminnya galak soalnya 🙈, wahahaha... piss mbak-mbak admin 😆 Di sini kita bisa lihat ya, bahwa backstitch yang sederhana itu (hanya berupa garis hitam saja) punya dampak signifikan dalam mempercantik hasil kristikan akhir.


Tema bulan ini : Netherlands



Lihat ni mbak-mbak Dutch Lady-nya (setelah saya selesaikan semua backstitch-nya), imut sekali yaaa... Soda stich memang paling jago bikin karakter imut ala komik. Sukaaaa banget 😍. Imutnya ini yang bikin saya semangat mengerjakan proyekan ini. Warna di pola Netherlands nggak sebanyak Korea sih, jadi pengerjaannya relatif lebih cepat selesai asal nggak dikerjain mepet waktu deadline.

Tapi yang namanya manusia tiada lepas dari salah dan khilaf mah kagak ada kapok-kapoknya yaaa.. tetep juga buat setoran SAL saya baru mulai buka kitnya hari belakangan ini 😁 Semoga kali ini nggak perlu Bandung Bondowoso buat mendatangkan seribu jin untuk lembur semaleman di malem hari H yak 😁.


Kembali ke our quote of the day :




.................. I chose to make Lemon Drizzle Cake.



Jadi intinya, bersemangatlah kita semua! Sampai jumpa di postingan berikutnya!


Friday, June 29, 2018

Home at June

Bulan ini bulan mudik. Saya, Mr. Coffeeholic dan anak-anak jelas mudik setiap tahun, karena orang tua kami tinggal di kota yang berbeda dengan tempat kami tinggal saat ini. Jadi ya kami selalu menjadi bagian dari rombongan besar arus pemudik negara ini. Sebelum lebaran mudik dari ibukota ke kampung halaman, dan setelah lebaran kembali lagi ke ibukota. Jam-jam yang dihabiskan untuk bermacet ria di jalan juga mau tidak mau sering kami alami dalam perjalanan menuju dan kembali dari kampung. Manteppp pokoknya. Pun tahun ini, nggak kalah top macetnya 😅. Pokoknya sampai rumah pingin nyari tukang pijet aja rasanya 😁.



Nggak banyak foto yang bisa diposting, sebenarnya hari-hari hanya dihabiskan dengan silaturahmi, makan masakan mama, muter-muter kota tempat dibesarkan, serta nguber-nguber balita yang sekarang sudah makin mirip sama gasing, muterrrr terus nggak bisa diem 😃. Wis pokoknya boro-boro bisa lama megang hape, emaknya ini sibuk diajak olahraga lari sana-sini sama adek.

Saya nyaris nggak bawa macam2 printilan craft selama mudik. Kami packing seringkas mungkin karena biasanya nanti barang-barang bawaan akan "beranak-pinak" di kampung. Misalnya nih, setiap pulang hampir pasti mama akan membawakan sekarung beras. Sekarung beras lumayan memenuhi bagasi mobil mungil kami, jadi untuk memastikan tempatnya aman buat karung beras (dan berbagai jajanan khas kampung halaman yang pasti bakal dibawa juga), kami berusaha nggak bawa banyak bagasi dari rumah. Saya hanya bawa WIP rajutan simpel, yang gak selesai juga di sana wong banyak mondar mandirnya daripada duduk diem 😁.

Tapi eh dasar kebanyakan hobi, sampai sana tetep juga pingin ini itu. Berhubung di kampung susah banget nyari toko craft (atau saya yang nggak tau karena kudet), jadi paling banter untuk happy happy shopping saya ngacir ke toko buku. Hasil dari ngacir ke toko buku itu adalah buku Kamus Rasa-nya Sarah Diorita. Belakangan baru saya tahu kalau mbak Sarah Diorita adalah istrinya Eross gitaris Sheila on 7, band yang mengiringi masa galau gundah gulana saya (ketahuan angkatannya yak?! 😂) Tapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk mengambil bukunya. Saya udah jatuh hati sejak melihat tampilan covernya di rak toko buku. Gambar ilustrasi keluarga dengan tema memasak. I do loooooove any books with cooking, food, or family theme. Gak mikir dua kali langsung angkut. Daaaan... ternyata saya sukaaaa banget dengan bukunya. Empat bintang deh! Nanti kalau ada waktu saya review di blog sebelah yang khususon urusan perbukuan yaak..




Selama di kampung, saya juga belajar hal baru dari mama. Belajar bikin sambel terasi jos mantep ala mama. Harusnya dari dulu sih, tapi namanya anak pemalas mah baru belajar belakangan ketika sudah kepepet dan didesak sama Mr. Coffeeholic yang pingin makan sambel terasi enak macam di kampung 😁. Karena tau menantunya ini pemalas, jadi mama ngajarin langsung large cooking batch, masak sambel porsi besar jadi bisa untuk stok yang disimpen di kulkas. Jadi ngga perlu bikin every single day. Dan satu lagi jalan pintas yang dikasi khususon buat saya: blender aja. Mungkin mama gak sanggup melihat saya ngulek, yang ada bukannya ngulek, malah sibuk ngambilin potongan cabe ama bawang yang lompat dari cobek karena kehantam ulekan 😂 Udahlah diblender aja!




Dengan modal ikut workshop sambel selama di kampung, sampe rumah kemarin saya langsung recook. Dan woohooo! Jos mantep, berhasil berhasil berhasil horee! Nampak jelas dari Mr. Coffeeholic happy tongue and tummy 😍. Oh, dan sambel terasi ini sungguh mempermudah urusan menyiapkan makanan. Sambel terasi enak itu meng-upgrade menu sederhana. Tinggal bikin lauk goreng dan sayur simpel, siapkan sambel, menunya langsung "naik kelas". Apalagi buat Mr. Coffeeholic yang lidahnya seratus persen Sunda. Dipakai untuk bumbu nasi goreng juga praktis dan enaaak... gak perlu lagi pake bawang. Kayanya saya bakal rajin nyetok nih 😁.




Oh iya, saya juga sempet bikin coret-coretan di jurnal karena terinspirasi ilustrasi lucu-lucu di buku Kamus Rasa. Rasanya menyenangkan dan puas ya melihat hasil corat-coret sendiri, semoga punya lebih banyak waktu deh untuk melakukan journaling lagi.



Sekarang libur sudah usai, dan sudah kembali ke rutinitas normal. Ketemu kantor dan KRL lagi. Tapi lebih fresh karena sudah recharge, ganti suasana pas mudik kemarin. Jaga kesehatan yaa semua, apalagi cuaca masih nggak menentu begini. Dan tidak lupa kami sekeluarga mengucapkan :


"Taqabbalallahu minna wa minkum
Selamat hari raya Idul Fitri 1439 H
Mohon maaf lahir dan batin"

Wednesday, December 27, 2017

Panen Sayuran, Resep Cake Gandum Oatmeal dan Cake Gandum Madu

Wiken ini sungguh wiken nan mantap jaya. Mantap panjang liburannya. Cocok banget buat jalan-jalan piknik. Nah, piknik kemana dong kita? Ke dapur. :D Tadinya sih sempat berencana mau jalan-jalan yang agak jauhan, suer. Tapi ada kebutuhan primer yang lebih mendesak, jadinya ya apa mau dikata. Dari kemarin mau nyari tukang bangunan buat ngerapiin rumah gak dapet-dapet. Lha kok pas libur jejer-jejer begini baru dapet. Yaaa sudahlah. Kalau nggak sekarang dicicil, susah lagi nanti nyari tukang. Yes, we are slowly renovating our house. Pelan-pelan tambal sulam dikit di sana dan di sini. Pinginnya suatu hari nanti jadi rumah yang nyaman sesuai harapan.



Lagipula mau kemana-mana juga macet (alesan sih). Tiap libur panjang begini udah kebayang aja bentuk Bandung, Bogor dan Puncak, pasti wewww... muacehehehet... (tetep alesan sih) :D Jadi yaaa.. kita liburan di rumah aja. Bersih-bersih, cuci-cuci gorden, jemur-jemur. Daaan wisata kuliner. Di rumah. :D

Beneran. Saya ngedapur melulu dari kemarin. Hidup berputar antara kompor, rak perkakas, rak bahan makanan, kulkas, sama tempat cucian piring. Rasanya kemarin masak melulu sama cuci piring melulu :D Tapi memasak untuk keluarga saat liburan (kalau hari kerja mah, suka nggak sempattt...) selalu membawa kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Memasak dengan cinta ♥♥.


Biasanya nih, penyakit libur panjang adalah tukang sayur keliling ikut libur. Suka malas keluar komplek ke warung sayur. Pagi di hari libur itu adalah waktu sakral buat mager. Jadi ya kemarin kita berdayakan apa yang ada aja. Apa yang ada di jemuran hidroponik saya. :D Paaas banget kebetulan tanamannya udah bisa dipanen, horeeeee... Tempo hari udah dibuat postingan tentang hidroponik ini ya. Di atas itu foto tumis tempe pokcoy hasil panenan kemarin. ENAK. Seriyes. Renyah krenyes-krenyes.



Hidroponik ini lebih daripada sekadar kebon ringkes buat yang kepingin jadi petani kota, tapi juga sebuah lingkungan ekosistem. Selain tanaman, ada satu ekor ikan cupang yang hidup di tempat penampungan air hidroponik untuk membersihkan jentik-jentik nyamuk. Saya juga sering menemukan belalang hinggap di tanaman hidroponik. Kadang-kadang malah ulat. Kalau ulat pasti langsung saya buang. Makan daun yang lain aja yaaa, jangan makan daun sayuran sayaaa...


Pagi beberapa hari belakangan ini saya modal baskom, pisau sama gunting, trus ke teras depan. Cekres cekres cekres. Panen. Udah deh, dapat bahan buat menu hari itu. Hari pertama, kangkung. Sempat panen sedikit bayam, tapi kami memutuskan untuk memasak tumis kangkung hari itu, jadi panen bayam tidak dilanjutkan.



Tumis kangkung belacan dengan terasi yang murah hati. Saya sukaaa harum terasi hmmm... :) Cuma saya nggak suka ngulek sambelnya. Karena kemarin blendernya mau dipakai untuk blender makanan adek, dan saya males nyuci blender dua kali (apalagi bekas terasi, adek pasti ngga mau makanannya bau terasi), terpaksa saya keluarkan perkakas andalan bibik. Ulekan. Hasilnya? Sambelnya enak. Tapi saya kapok. Saya amatir banget kalau udah soal ulekan. Selalu berantakan kemana-mana dan lama banget dapat tekstur yang dimaui. Pegel book... salut sama ibu-ibu yang bisa efektif efisien dan bersih rapi memakai ulekan *salim satu-satu*. Besok-besok jelas pakai blender saja. Saya punya rasa cinta dan kasih sayang yang besar pada blender saya yang selama ini selalu menggantikan peran ulekan. Ada yang bilang lain rasanya bumbu blenderan dan ulekan. Buat saya mah sama saja. :D Mr. Coffeeholic juga nggak masyalah. Daripada bete perkara ngulek, bisa-bisa batal jadi masakan penuh cinta. :D


Tumis kangkung terasi nyam nyam. Kata temen ini lebih cocok jadi bobor kangkung daripada tumis kangkung saking banyak airnya :D Tadinya ya nggak begini. Ini berhubung udah tinggal sisa karena kangkungnya udah diambilin :D Saking lapernya pada langsung ngambil dan makan, lupa belom dipoto haha... Lauknya ditemenin stok kulkas: telor asin. Nyam nyam.


Hari kedua kami panen bayam, ada bayam merah dan bayam hijau. Yang simpel-simpel aja, andalan sepanjang masa, pecel. Berhubung nggak ada tukang sayur, males keluar, dan kangkung udah abis dipanen kemarin, jadi bayamnya cuma ditemenin bahan yang tersisa di kulkas aja : taoge. Pecel simpel bin ngirit :D Yang penting enakk..


Untuk lauknya, rikuwes Mr. Coffeeholic minta tempe bacem. untungnya tetangga kami pengrajin tempe, jadi cukup ngesot aja kami sudah bisa dapat tempe. Tempe dibeli sehari sebelumnya pas baru saja dibuat, jadi masih bentuk kacang kedelai yang belum tumbuh jamur. Didiamkan semalam, paginya sudah berwarna putih cantik dan siap dimasak.


Dan tadi pagi kami panen pokcoy. Saya menemukan ulat di daun pokcoy yang membuat beberapa daun berlubang kecil-kecil. Tapi tak apalah, memang non pestisida kan, wajar kalau ulat nangkring di situ, enak dan aman dimakan soalnya :D


Tumis lagi. Bosen makan tumis pokcoy ala chinese food, jadinya dibikin tumis terasi (lagi) :D :D Anti mainstream ini namanya. Ah, saya jadi ngeces lagi nih bikin postingan ini. No no no, tak boleh makan lagi, sudah melewati batas waktu makan, kecuali kalau mau sukarela nambah kilogram berat badan (lagi).



Udah itu aja? Belooom... Itu baru main course :D Belom cemilan. Libur 4 hari nggak ada cemilan garing juga. Jadi sekalian kemarin nggak cuma cooking-cooking, tapi baking juga. Memberdayakan tepung gandum yang masih sisa banyak dari Cake Zucchini tempo hari. Karena nggak punya stok zucchini, jadi pakai resep lain. Trus ngeliat resep Cake Gandum Oatmeal ini bagus reviewnya, dan easy peasy. Wah, cocok nih. Saya males kalau baking yang susah-susah, sadar bukan ahlinya, ntar malah bantat gak jadi makan cake.


Bahannya kebetulan ada di rumah semua, jadi praktis tinggal cemplung-cemplung. Resepnya menggunakan takaran cup/teaspoon/tablespoon. Dan saya males (lagi) konversi ke ukuran gram, jadi saya keluarkan measuring cup/spoon sakti andalan untuk resep-resep US macam begini. Tinggal sendok, cemplung, sendok, cemplung. Praktisss... Ini ada link tentang measuring cup/spoon, monggo yang mau membaca lebih lanjut.


Resepnya sendiri mirip-mirip dengan Cake Zucchini tempo hari. Kuenya mengembang sempurna walaupun banyak menggunakan bahan yang berbeda dari resep cake pada umumnya. Mentega diganti dengan olive oil. Gula diganti dengan madu. Bahkan pengocokan juga seadanya saja dengan whisk, nggak menggunakan mikser listrik.


Hasilnya? Menurut Mr. Coffeeholic wuenak. Nggak berhenti nyemil tuh. Teksturnya cenderung kasar tidak selembut cake yang dibuat dengan tepung terigu serba guna. Oatmeal membuat kue jadi berasa nutty, kacang-kacangan gitu. Saya juga bingung, kok oatmeal kalau dipanggang jadi cake begini rasanya nutty? Rasa nutty oatmealnya inilah yang bikin kue ini enak.


Selera Mr. Coffeeholic yang jelas rendah lemak, rendah gula, rendah kalori sebenarnya kurang pas dengan selera saya. Dan kebetulan masih ada sisa tepung gandum yang jumlahnya pas banget untuk bikin satu resep lagi. Dan liburnya juga kan lama, butuh banyak cemilan :p Akhirnya gelar loyang lagi bikin satu cake lagi yang pake margarin, gula, sama susu: Cake Gandum Madu.


Yang ini baru cocok dengan saya :D Penggunaan madu dikombinasikan dengan gula memberikan cita rasa klasik untuk kue ini. Kalau yang kurang cocok dengan kue manis, bisa mengurangi takaran gula/madu dalam resepnya. Cake yang manis, legit, dan pas untuk teman minum kopi. Anybody?

Wuih.. Banyak juga ya hasil ngedapur liburan ini *lap keringet*. Membicarakan tentang makanan, apalagi makanan rumahan, selalu memberi perasaan nyaman yang menyenangkan. Membayangkan suasana rumah, berkumpul bersama keluarga dan makan masakan yang dibuat dengan penuh cinta. Ah, saya sangat bersyukur karenanya. Dan di akhir liburan, jemuran hidroponik saya sudah habis dipanen. Waktunya menyemai kembali.

♥♥ CAKE GANDUM OATMEAL ♥♥

Resep diadaptasi dari Genius Kitchen

Bahan :
2 cup tepung gandum
1 cup cooking oatmeal
2 teaspoon baking powder
1 teaspoon baking soda
1 teaspoon pala bubuk
1⁄2 cup madu
1⁄4 cup extra virgin olive oil
1 cup lemon juice (dari fresh lemon yang diperas airnya)
1 tablespoon ekstrak vanilla
3 butir telur ayam

Cara Membuat :

  • Panaskan oven (saya pakai oven tangkring tanpa indikator suhu, jadi azas kira-kira aja, api sedang agak kecil).
  • Lapisi loyang loaf dengan margarin agar cake tidak lengket, sisihkan.
  • Dalam mangkok besar, campurkan extra virgin olive oil dan madu. Kocok lepas dengan whisk sampai tercampur rata. 
  • Masukkan telur, kocok dengan whisk, sampai telur tercampur rata dengan adonan olive oil dan madu.
  • Masukkan lemon juice, baking powder, baking soda, vanilla, dan pala bubuk, kocok dengan whisk sampai tercampur.
  • Ganti whisk dengan sendok kayu besar, masukkan tepung gandum, aduk rata. Selanjutnya masukkan oatmeal, aduk rata.
  • Tuangkan adonan ke loyang.
  • Panggang selama kurleb 50 menit, sampai tes tusuk gigi keluar dari cake dalam kondisi bersih.
  • Biarkan cake mendingin dalam loyang selama 15 menit, baru keluarkan dari loyang dan dinginkan sempurna.


♥♥ CAKE GANDUM MADU ♥♥

Resep diadaptasi dari Joy The Baker

Bahan :
2 1/4 cup tepung gandum
2 teaspoon baking powder
3/4 teaspoon garam
12 tablespoon margarin
1 cup gula pasir
1/2 cup madu
2 teaspoon ekstrak vanilla
3 butir telur ayam
1 cup yoghurt plain

Cara Membuat :

  • Panaskan oven (sama kaya di atas lah, azas kira-kira :D)
  • Olesi loyang dengan margarin dan taburi tepung. Karena adonan ini jadinya banyak, nggak cukup pakai loyang loaf, jadi saya pakai loyang bolu yang berbentuk lingkaran dengan lubang di tengah.
  • Campurkan bahan kering: tepung gandum, baking powder dan garam dalam mangkuk, sisihkan.
  • Dalam mangkuk mikser, kocok margarin, gula dan madu sampai ringan dan mengembang. Tambahkan ekstrak vanilla. Tambahkan telur, satu-persatu, kocok sekitar satu menit untuk tiap telurnya. 
  • Turunkan kecepatan mikser. Tambahkan bahan kering dan yoghurt dalam tiga tahap, mulai dan akhiri dengan bahan kering. Kerok sisi mangkuk dengan spatula bila perlu agar semua adonan teraduk sempurna. 
  • Tuangkan adonan ke loyang.
  • Panggang selama kurleb 55 menit, sampai tes tusuk gigi keluar dari cake dalam kondisi bersih.
  • Biarkan cake mendingin dalam loyang selama 15 menit, baru keluarkan dari loyang dan dinginkan sempurna.

Oh, I love holiday baking, especially the big mug of milk coffee and cake that follows.