-->

Pages

Showing posts with label parenting. Show all posts
Showing posts with label parenting. Show all posts

Sunday, January 31, 2021

Minggu Pagi dan Cinnamon Rolls

Hari ini saya janji ke anak-anak untuk sepedaan minggu pagi ke taman, tapi ternyata pagi ini mendung menggantung, tinggal dikit lagi bisa bresssss, hujan. Terpaksa janjinya dibatalkan. Anak bungsu manyun, kecewa karena dari semalam sudah berangan-angan mau gowes di taman. Saya mengganti janji bersepeda dengan membuat roti dan kentang goreng keju. Mendung-mendung begini, nikmat sekali untuk makan roti hangat ditemani kopi.


Januari, hujan berhari-hari. Dulu sebelum pandemi mungkin kami masih bisa jalan-jalan keluar, ngemall naik mobil di hari hujan. Tapi sejak pandemi Maret tahun lalu, kegiatan ngemall berhenti total. Semua kegiatan main kami ke luar selalu ke tempat-tempat outdoor. Kadang saya heran, ternyata bisa juga ya hidup berbulan-bulan tanpa mall. Rasanya nggak kehilangan juga, I don't miss that fancy places. Cuma masalahnya tempat-tempat outdoor begitu membutuhkan cuaca yang cerah supaya bisa nyaman jalan-jalannya. Nggak lucu juga sepedaan basah kuyup sama anak2. Jadi di bulan Januari yang hujan (literally) sehari-hari ini, praktis emak jadi mager keluar-keluar.


Jadi hari ini agenda kami sementara cuma di rumah. Saya punya janji juga bikin roti. Keluarga kami penggemar bolu dan roti sobek. Termasuk beberapa bolu dan roti sobek kategori jadul jadi resep favorit keluarga kami. Kami kurang tertarik dengan roti-roti kekinian yang fancy. Roti-roti kekinian umumnya multi layer, frosting tebal, dan ekstra manis. Walaupun kadang-kadang beli cake kekinian juga sih, misalnya pas ulang tahun.


Saya sendiri senang baking. Rasanya hepi bisa membuat sesuatu yang enak dari bahan mentah dengan tangan dan usaha sendiri. Apalagi kalau dimakan dengan semangat oleh anggota keluarga yang lain. Resep-resep yang saya coba umumnya resep simpel, dengan alat yang nggak terlalu macem-macem dan bahan yang gampang didapat di toko bahan kue kesayangan depan komplek, yang cukup ditempuh dengan cussssss jalan ke depan sebentar. Tokonya lumayan lengkap, ada butter, ada cream cheese, ada susu evaporasi, cukup lah untuk resep-resep yang saya coba. 


Pagi ini cinnamon roll homemade yang jadi menu sarapan. Roti kayu manis adalah favorit saya. Dulu saya nggak terlalu suka kayu manis, tapi sejak icip-icip cinnamon pretzels, saya jadi suka dengan aroma dan rasa ini. Enak sekali cinnamon rolls ini dimakan sambil ngopi anget-anget, di pagi hari bermendung sambil menulis blog ini. Saya senang mencuri waktu singkat di minggu pagi untuk me time. Kalau di hari yang lain, pagi hari adalah waktu sibuk. Walaupun sekarang sekolah anak-anak dilakukan via zoom, tetap saja pagi hari waktu rempong jaya emak-emak, supaya waktunya masuk zoom anak-anak sudah rapi, sudah sarapan, dan siap sekolah.

Cinnamon rolls yang saya buat ini resepnya pakai resep cinnamon rolls mbak Fitri Sasmaya (terima kasih mbak!), tipenya sobek yang padat tapi lembut. Saya buat tanpa glaze pun sudah enak. Resepnya saya ambil dari cookpad beliau, ijin share ya mbak. Recommended untuk dicoba, enak banget!


💚💚Cinnamon Rolls💚💚

Bahan dough:
230 g tepung terigu protein tinggi
50 g tepung terigu serba guna
1 sdm susu bubuk
50 g gula pasir
1 butir telur
1/4 sdt garam
50 g mentega

Bahan biang:
4 gram ragi instant
1 sdt gula pasir
120 ml air hangat

Filling:
30 gram gula palm
30 g gula pasir
1 sdt bubuk kayu manis /cinnamon powder

Olesan:
30 g butter dicairkan

Langkah:
💙Buat bahan biang, siapkan mangkok beri air hangat masukkan ragi dan gula pasir, aduk rata biarkan 10 menit sampai timbul buih2, tanda ragi aktif.
💙Siapkan mangkok masukkan, tepung terigu, gula, susu bubuk dan telur, tambahkan bahan biang. Uleni sampai setengah kalis dengan tangan.
💙Masukkan mentega dan garam, uleni sampai kalis elastis. 
💙Bulatkan, tutup dengan plastik wrap, biarkan mengembang 2xlipat, sekitar 1 jam. Kempeskan adonan.
💙Gilas dengan rolling pin, oles dengan mentega.
💙Campur gula pasir gula palm dengan bubuk kayu manis.
💙Taburkan secara merata diatas adonan yang telah dioles mentega, gulung.
💙Potong2 menjadi 11 bagian sama besar. Tata kedalam loyang yang telah dioles margarin tipis2. Saya pakai loyang bongkar pasang diameter 20cm. biarkan mengembang lagi, Oles dengan mentega cair.
💙Panggang dengan suhu 180 (oven dipanaskan 10 menit sebelum adonan dimasukkan) panggang selama 20-25menit, pakai api bawah saja, sesuaikan oven masing2. Angkat dan taruh di cooling rack.


Sunday, March 29, 2020

Hari Ke-13 #dirumahaja

Weekend is over. Kami masih wfh kok, belum masuk. Tapi Sabtu-Minggu tetap menjadi hari libur yang ditunggu-tunggu karena tidak ada kelas di rumah. Anak-anak bebas main, saya juga lega karena tanggung jawab harian berkurang drastis. I send my respect to all homeschooling mamas out there. Bukan hal gampang mengajar anak2. Apalagi mendidik. Sampai sekarang saya masih sering kewalahan menjadi guru di rumah. Walaupun sudah lebih terkontrol dibanding hari-hari pertama yang lalu 😁





Weekend ini sempat panen jeruk dari kebun walaupun nggak banyak. Jeruknya tabulampot (tanaman buah di dalam pot), jadi nggak terlalu besar pohonnya. Mudah dipetik walaupun nggak terlalu banyak buahnya, karena tumbuh di pot jadi terbatas.


Hasil panenan kebun

Saya masih menjaga jarak dengan sosial media dan berita. Online tentu saja masih, hanya yang terkait hobi. Weekend ini alhamdulillah punya waktu yang lebih longgar untuk merajut, membaca blog2 yang saya ikuti, menonton tayangan channel favorit di Youtube (mostly about simple living).







Kemarin pesanan tepung gluten free saya tiba, dan paksu yang diet gluten free langsung bikin tempe kemul dengan daun bawang kesukaan kami. Rasanya enak, nggak kalah dengan tepung terigu biasa. Bisa jadi langganan nih. Saya pakai Valitas gluten-free all purpose flour, beli di market place.



Ada kabar di akhir hari tentang rencana karantina wilayah dan penutupan akses jalan masuk/keluar Kota Bogor dan Jakarta. Di satu sisi kami lega karena langkah ini jelas akan membatasi pergerakan penduduk dan mudah-mudahan menekan tingkat penularan. Tapi di sisi lain saya khawatir dengan distribusi kebutuhan pokok dan sekunder.



Belum ada pernyataan lebih lanjut apakah penutupan akan berlaku secara total atau buka/tutup dengan persyaratan, misalnya dibuka untuk truk sembako atau pengiriman jasa kurir. Terus terang di saat2 seperti ini kami banyak mengandalkan belanja online untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat kami peroleh di sekitar daerah rumah.

Kami masih keluar rumah sesekali untuk membeli keperluan tapi hanya ke tempat2 yang dekat, misal minimarket sekitar komplek, ke ATM, atau tukang buah. Kalau pengiriman jasa kurir terkena dampak penutupan, tentunya akan berpengaruh. Kita tunggu saja nanti bagaiamana keputusan pemerintah.


Hari ini saya menemukan tautan ke seri dokumenter Edwardian Farm, film dokumenter sejarah yag mencoba mereplika kehidupan pertanian di masa Edwardian (sekitar 1901-1910). Saya adalah penyuka sejarah jadi dokumenter ini cukup menarik, lumayan untuk ditonton sambil merajut dan rileksasi.

Tetap sehat, tetap sabar, tetap tinggal di rumah.


Friday, March 27, 2020

Hari Ke-11 #dirumahaja

Hari ke-9 di rumah, banyak-banyak memfokuskan diri pada hal-hal positif dan pikiran positif. Di saat seperti ini nggak hanya fisik yang harus sehat, mental juga harus sehat. Fokus di keluarga, jadikan setiap kesempatan kita bersama orang2 tercinta menjadi momen bahagia. 

Stress pasti ada. Perubahan pola keseharian baik bagi kami orang tua maupun anak-anak tentunya memerlukan adaptasi, dan adaptasi itu bisa mulus, bisa juga tersendat-sendat. Yang paling membutuhkan usaha adalah memindahkan sekolah ke rumah. Terus terang saya nggak punya background pendidikan anak, pun stok sabar untuk mengajari anak2 😅 

Momen #dirumahaja kali ini benar2 mengajarkan saya arti pendidikan dan betapa besar jasa para pendidik. Mulai dari daftar tugas sekolah, bagaimana menyampaikan ke anak2, dan apa hasil dari tugas2 itu yg bermanfaat untuk keseharian, sungguh membuat saya memutar otak dan menghela nafas melatih kesabaran berkali2. Terpujilah wahai engkau bapak ibu guru.







Kesibukan sekolah di rumah ini walaupun ada kalanya membikin stres kami sebagai orang tua, namun sisi positifnya juga, waktu untuk nongkrongin berita covid19 jadi banyak berkurang, otomatis healing juga untuk kesehatan mental kami. Karena sungguh berita mencemaskan yang terus-menerus itu nggak sehat untuk psikologis kita.

Usaha makan sehat insyaAlloh masih terus diupayakan. Cara instan versi kami ya via juicer. Slow juicer yang dibeli beberapa waktu lalu sangat bermanfaat. Segala macam stok sayur dan buah sudah coba kami masukkan ke slow juicer, hasilnya enak semua. Tanpa gula tambahan, kadang dibubuhi garam himalaya sedikit agar ada rasa umami.












Saya juga menyelesaikan tas rajut proyekan tempo hari. The state of the world needs bright colors, so I crocheted one. 



Semoga hari-hari kelabu yang meliputi dunia belakangan ini bisa segera berganti dengan hari-hari ceria yang penuh warna kembali. Aamiin. Stay safe, stay healthy, stay at home save lives.

Tuesday, September 24, 2013

Suka Menggambar Tapi Tidak Suka Mewarnai

Najwa, anak saya, 3 tahun 1 bulan, suka sekali menggambar. Tapi, tidak suka mewarnai. Jadi, postingan ini berawal dari kegalauan saya sebagai emaknya, gara-gara hal itu tadi.

Ceritanya, kemarin saat mengantar Najwa sekolah dan sekaligus ketemu dengan guru Kelompok Bermainnya, Bu Guru ini bercerita bahwa Najwa nggak mau mewarnai sama sekali. Iya sih, saya tahu dia tidak suka mewarnai. Ayahnya pernah repot-repot mengunduh dan mencetak berbagai coloring page, tapi Najwa tidak begitu tertarik. Cuma yang bikin galau adalah kali ini dia sama sekali tidak mau mewarnai. Saya lihat buku aktivitas mewarnainya di Kelompok Bermain, kosong blong bin bersih, gak ada coretan sama sekali, padahal punya teman-temannya sudah penuh coretan warna.

Saya pikir, tadinya dia ngadat karena tidak cocok dengan krayon yang dipakai di Kelompok Bermain. KBnya pakai krayon minyak (oil crayon) yang membekas di tangan. Mungkin karena itu dia tidak mau. Kemudian saya ganti dengan krayon lilin (apalah namanya ya, pokoknya itulah), krayon yang licin, tapi tidak membekas di tangan.




Naik kapal selam, sambil melihat-lihat dari jendela


Tapi ternyata, setelah diganti, tetap tidak mau juga. Mulailah emaknya ini galau beliau. Akhirnya bercurhatlah saya ke adik yang kebetulan sekarang sedang pendidikan profesi psikologi. Lumayan konseling gratisan, hahaha. :D

Setelah sesi curhatan tumpah ruah dengan adik dan ayahnya, plus membaca browsang-browsing sampai akhirnya nemu artikel di ini dan ini, akhirnya secercah sinar terang (halah :D) pun menyinari kegalauan saya.



Ayah naik sepeda pakai topi dan tas


Anak umur 3-5 tahun (ya, seumuran Najwa) memang sedang tumbuh ketertarikannya pada kegiatan menggambar dan mewarnai. Karena dua kegiatan itu memberikan kesempatan pada otak anak untuk berimajinasi dan mewujudkan imajinasi itu dalam bentuk gambar/lukisan. Menggambar dan mewarnai merupakan proses kreatif, memberikan wadah bagi anak-anak untuk menuangkan ide-idenya dalam suatu karya.

Dari sisi kreativitas, menggambar memberikan kesempatan untuk berekspresi yang lebih luas daripada mewarnai, karena anak dibiarkan berkreasi sebebas-bebasnya di atas kertas kosong. Mewarnai, walaupun memberikan stimulasi kreativitas juga, namun memiliki keterbatasan pada pola-pola dan garis-garis yang harus diikuti anak.

Dalam cerita Najwa, saya melihat itulah benang merahnya. Dari kecil, Najwa yang suka menggambar memang lebih banyak diajak berkegiatan menggambar. Saya selalu menyediakan setumpuk kertas bekas (dibawa dari kantor) untuk media Najwa mencorat-coret. Seringkali kami melakukannya bersama, saya menggambar sambil bercerita, Najwa memperhatikan dan berkomentar ini-itu. Kebiasaan ini rupanya melekat juga pada Najwa, karena dia punya kebiasaan menggambar sambil bercerita. Nah, saya jarang mewarnai hasil gambar saya. Hanya gambar-gambar sambil cerita begitu, kalau kertas sudah penuh, kami ganti dengan kertas lain.

Mungkin karena terbiasa menggambar, di kertas kosong yang tidak ada batasan-batasan atau aturan-aturan, Najwa jadi enjoy dengan kegiatan menggambar. Ketika disuruh mewarnai, yang mana juga jarang dilakukannya di rumah, dia jadi tidak tertarik. Bisa jadi karena batasan-batasan itu tadi.



Najwa dan Pocoyo memberi makan burung, burungnya bertengger di dahan (maaf gak dirotate, sudah berusaha, tapi pas diupload ternyata miring lagi -___-"


Kata ayahnya, Najwa itu pelukis freestyler. Suka-suka aja dia mau gambar apa. Menurut tantenya si calon psikolog itu :D, biarkan saja imajinasinya bermain. Kalau sukanya gambar, ya biarkan saja dia menggambar. Diajak mewarnai boleh, tapi jangan dipaksa. "Gak perlu dikasi aturan, Bunda. Itu kan berkarya, biarin aja dia bebas berekspresi, individual differences. Kalau aturan yang sifatnya life skill dan social skill, itu yang nggak boleh di-pass."

Sebetulnya, menggambar maupun mewarnai merupakan bahasa rupa anak. Sama-sama merupakan sebuah hasil bereksperimen, pembelajaran, dan penghayatan yang berbuah kreasi. Itulah yang terjadi saat anak menggambar maupun mewarnai dimana anak belajar melalui bermain. Baik menggambar ataupun mewarnai, keduanya dapat meningkatkan kemampuan otak kanan, yang berkaitan dengan berekspresi dan berkesenian. Sering kali kemampuan ini kurang diperoleh dari pelajaran di sekolah yang lebih cenderung menekankan pentingnya otak kiri (menghafal, mengingat). (sebagaimana dikutip dari Tabloid Nakita dalam link tersebut di atas)



Pesta ulang tahun dengan kue ulang tahun dan tiup lilin


Dan lagi, kemampuan menggambar Najwa menurut kami (Ayah dan Bundanya) sudah cukup baik. Dia bisa menggambar tokoh bajak laut anak Jake (dari serial Jake and The Neverland Pirates, Disney Junior channel) lengkap dengan ikat kepala dan rambut "jabrik"nya, sedang berenang pakai kacamata renang.

Kata ayahnya, "Gambar Jake pakai kacamata speedo..berenang..bahkan di filmnya pun belum pernah itu si Jake pakai kacamata speedo.." :D

Jadi kesimpulannya, usah dirisaukan. Menggambar dan mewarnai, bagus. Menggambar saja, juga bagus. Baru mau mewarnai, pun bagus juga. Najwa, sebagaimana setiap anak, punya minat dan kesukaannya masing-masing, dan sepanjang anak menikmati itu, yang harus kami lakukan adalah mendukungnya. Memberinya pujian, komentar, dan pelukan. Dan ikut serta dalam proses kreatif itu, turut menjadi bagian dalam imajinasinya.