-->

Pages

Friday, March 27, 2020

Hari Ke-11 #dirumahaja

Hari ke-9 di rumah, banyak-banyak memfokuskan diri pada hal-hal positif dan pikiran positif. Di saat seperti ini nggak hanya fisik yang harus sehat, mental juga harus sehat. Fokus di keluarga, jadikan setiap kesempatan kita bersama orang2 tercinta menjadi momen bahagia. 

Stress pasti ada. Perubahan pola keseharian baik bagi kami orang tua maupun anak-anak tentunya memerlukan adaptasi, dan adaptasi itu bisa mulus, bisa juga tersendat-sendat. Yang paling membutuhkan usaha adalah memindahkan sekolah ke rumah. Terus terang saya nggak punya background pendidikan anak, pun stok sabar untuk mengajari anak2 😅 

Momen #dirumahaja kali ini benar2 mengajarkan saya arti pendidikan dan betapa besar jasa para pendidik. Mulai dari daftar tugas sekolah, bagaimana menyampaikan ke anak2, dan apa hasil dari tugas2 itu yg bermanfaat untuk keseharian, sungguh membuat saya memutar otak dan menghela nafas melatih kesabaran berkali2. Terpujilah wahai engkau bapak ibu guru.







Kesibukan sekolah di rumah ini walaupun ada kalanya membikin stres kami sebagai orang tua, namun sisi positifnya juga, waktu untuk nongkrongin berita covid19 jadi banyak berkurang, otomatis healing juga untuk kesehatan mental kami. Karena sungguh berita mencemaskan yang terus-menerus itu nggak sehat untuk psikologis kita.

Usaha makan sehat insyaAlloh masih terus diupayakan. Cara instan versi kami ya via juicer. Slow juicer yang dibeli beberapa waktu lalu sangat bermanfaat. Segala macam stok sayur dan buah sudah coba kami masukkan ke slow juicer, hasilnya enak semua. Tanpa gula tambahan, kadang dibubuhi garam himalaya sedikit agar ada rasa umami.












Saya juga menyelesaikan tas rajut proyekan tempo hari. The state of the world needs bright colors, so I crocheted one. 



Semoga hari-hari kelabu yang meliputi dunia belakangan ini bisa segera berganti dengan hari-hari ceria yang penuh warna kembali. Aamiin. Stay safe, stay healthy, stay at home save lives.

Thursday, March 26, 2020

Hari Ke-10 #dirumahaja

We are officially work from home. Tepatnya sejak hari Selasa lalu. Angka penderita positif Covid19 yang terus meningkat membuat pemerintah mengambil keputusan untuk menghentikan kegiatan perkantoran. Anak-anak juga sudah diliburkan dari sekolah, dengan setumpuk penugasan.













Being in the garden calms me down


Situasi yang kurang lebih sama juga terjadi di berbagai negara, makhluk mikroskopis bernama coronavirus ini berhasil mengubah dunia. Pemerintah meminta warga untuk melakukan social distancing untuk menekan laju penularan. Jadi sudah seminggu ini kami semua berkutat di dalam rumah dan keluar hanya untuk hal yang sangat penting. Saya sendiri masih sesekali keluar, untuk membeli sayur, untuk ke supermarket, tapi sebisa mungkin menjaga jarak aman, mengurangi interaksi dan segera membersihkan diri segera sampai di rumah.





Berita yang menggempur setiap hari juga tidak kalah membebani. Grup WA, televisi, media elektronik, semuanya menyampaikan berita yang berpotensi menimbulkan kecemasan, kalau kita tidak pandai-pandai memilah. Satu dua hari saya mencoba mengikuti semua arus pemberitaan, akhirnya kelelahan sendiri dan berdampak buruk pada kesehatan mental saya, jadi akhirnya saya mengambil jarak dari semua update yang bertubi-tubi itu. Hanya mengikuti berita esensial dari sumber yang saya percaya, sesekali saja dalam sehari, dan skip sisanya. 














Setiap insan akan diuji kesabarannya dengan banyak hal, terutama dalam bentuk ketidaknyamanan atau musibah. Ketenangan dalam menghadapinya adalah kunci terbaik yang perlu dimiliki manusia. 


Di sisi lain, menghabiskan waktu di rumah seharian adalah hal yang sangat kami hargai. Saya dan suami dua-duanya bekerja, jadi tidak banyak bisa mendampingi anak-anak di hari kerja. Dengan kami berdua work from home seperti saat ini ada banyak waktu kami untuk menemani anak-anak. Saya bisa fokus membantu anak-anak belajar di rumah, mengobrol, makan bersama, dan mengerjakan proyek-proyek kreatif bersama. 












Saya sendiri fokus pada imunitas keluarga, senjata untuk menghadapi ancaman virus ini. Saya jadi lebih perhatian pada makanan yang kami makan. Frekuensi jajan di luar turun drastis, hampir semua homecooked meal. Buah, sayur, ramuan empon-empon, juga suplemen vitamin adalah menu rutin di rumah. Sejauh ini alhamdulillah anak-anak belum merasa bosan. Saya menggunakan waktu luang untuk merajut, membaca, dan menonton channel Youtube favorit. Alhamdulillah kami memiliki waktu untuk dapat bersama orang-orang tercinta. Doa kami bersama pejuang garda depan Covid19, rekan-rekan petugas kesehatan dan semua yang berupaya menjaga negeri ini di saat-saat sulit seperti sekarang. 




Whatever your situation may be, just know that we are all in this together. Stay safe, stay healthy, stay at home save lives.

Thursday, June 20, 2019

Gardening



Setelah beberapa bulan belakangan hidup bersama tukang 😄 akhirnya rumah kami selesai direnovasi juga. Alasan utama renovasi karena kayu atap dimakan rayap, jadi kami memutuskan mengganti semua rangka atap dengan baja ringan. Selama renovasi, semua koleksi tanaman pot saya dipindahin tukang ke pinggir jalan, dan selama waktu itu pula tanamannya nggak keurus, ketimbun puing, ditumpuk begitu saja sampai ada pot-pot yang pecah 😢 tapi bagaimana lagi, kami nggak punya tempat lain lagi untuk menyimpan.








Kesempatan renovasi kemarin juga kami gunakan untuk mengubah area taman. Tadinya hanya ada satu space taman di halaman depan, sekarang kami punya space taman kedua di samping rumah. Sebagian keramik garasi dan kanopi kami bongkar menjadi area tanah terbuka.  Space kedua ini malah lebih luas daripada taman halaman depan.







Semua tanaman yang terabaikan selama berbulan-bulan saya angkat dan pindahkan kembali ke taman depan. Semua dibongkar dan ditanam ulang (repotting). Pemangkasan, pemberian media tanam baru, pemupukan dan penyiraman selama beberapa minggu saya perhatikan betul untuk memperbaiki kondisi tanaman yang layu/kering/pecah pot karena tertimbun puing. Gelombang cinta (anthurium) saya yang segede gaban menguning semua daunnya karena kepanasan. Jadi selain repotting (buat ngisi potnya aja media tanamnya sampe 5 karung) dan perawatan, harus ditaruh di tempat yang teduh. Lumayan sih effortnya buat momongan pot ini, lumayan bikin kurus, item dan tangan ga pernah mulus karena ngebon melulu 😁



Setelah beberapa lama, taman depan mulai sehat dan hijau kembali. PR berikutnya adalah taman samping yang masih gundul merana, karena koleksi pot udah habis buat ngisi taman depan doang. Angin segar nih, jadi bisa pengadaan pot baru 😁 kalau urusan yang berhubungan dengan belanja taneman begini, respon saya selalu gercep alias gerak cepat 😂

Gazebo di tengah taman di Toko Trubus


Momen ngabuburit Ramadhan kemarin saya pakai untuk berburu tanaman, ke tukang tanaman langganan, ke Toko Trubus (Favorit saya banget ini!!), bahkan sampai ngangkut tanaman dari rumah orang tua waktu mudik kemarin 😁. Saya bahkan beli beberapa tabulampot (tanaman buah dalam pot) di Toko Trubus. Tapi karena space taman samping ini lebih luas dan berawal dari bener-bener kosong melompong, jadi ya masih belum penuh juga. Gak papa, malah justru jadi alasan shopping tanaman lagi 😁.





Taman samping ini ada di depan teras samping yang jadi tempat favorit kami duduk-duduk santai. Anak saya bahkan menyebutnya tempat piknik 😁 Rasanya nikmat banget ngopi-ngopi sambil melihat tanaman, segar dan relaks. Ibu saya bahkan membuatkan rangkaian bunga akrilik untuk menghias meja teras samping 😍



Sekarang saya pingin cari tanaman warna-warni untuk menambah isi taman, dari kemarin yang dibeli ijo-ijo tanaman hias daun dan tanaman buah aja. Mungkin beberapa pot bunga warna-warni bakal membuat suasana lebih semarak. Weekend nanti deh, nyari bunga 😍