-->

Pages

Saturday, December 7, 2013

Book Review : And The Mountains Echoed

"Apa mimpiku malam ini, Baba?" -Pari




Setelah menghabiskan beberapa hari dalam perjalanan pulang pergi menggunakan KRL Commuter Line Jakarta-Bogor, tempat dimana saya menghabiskan waktu dengan membaca, akhirnya selesai juga 512 halaman novel ini.

And The Mountains Echoed (Dan Gunung-Gunung Pun Bergema) adalah tulisan Khaled Hosseini, salah satu pengarang favorit saya. Ini merupakan novel ketiganya setelah The Kite Runner dan And A Thousand Splendid Suns yang sama-sama sukses dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Terbitnya novel ketiga ini berselang enam tahun dari novel keduanya, sehingga kehadirannya sangat ditunggu oleh para penggemar Hosseini, termasuk saya. :D

Sebagaimana novel pertama dan kedua, And The Mountains Echoed masih dilatarbelakangi kehidupan Afganistan yang keras, serta konflik dalam negeri yang memecah belah penduduk, saudara, keluarga.

Cerita diawali dengan Abdullah dan Pari, dua kakak beradik yang seolah tak terpisahkan, yang satu saling bergantung dengan yang lainnya. Pada suatu malam, Baba, demikian mereka memanggil ayahnya menceritakan dongeng kepada mereka. Dongeng itu tentang seorang div, monster bertanduk yang menyeramkan, yang mengambil anak-anak dari rumah-rumah yang atapnya diketuk olehnya. Ketika div mengetuk atap sebuah rumah, maka sang ayah harus menyerahkan satu anaknya untuk sang div, karena bila tidak, maka ia akan mengambil seluruh anak di rumah tersebut. Seruas jari harus dipotong untuk menyelamatkan tangan.

Ternyata dongeng ini merupakan dongeng terakhir yang diceritakan Baba sekaligus merupakan kiasan tentang apa yang terjadi esok harinya. Esok harinya, Baba, Pari dan Abdullah (yang bersikeras untuk ikut walaupun telah dilarang ayahnya), pergi ke Kabul, yang belakangan diketahui Abdullah untuk menyerahkan Pari kepada pasangan keluarga kaya yang tidak memiliki anak. Baba menjual Pari untuk mendapatkan sejumlah uang untuk membeli keperluan musim dingin, untuk menyelamatkan keluarganya. Musim dingin yang brutal di Afganistan telah merenggut nyawa salah seorang adik mereka, karena ketidakmampuan Baba untuk memberikan perlindungan yang lebih baik : makanan, pakaian tebal, dan rumah dengan pemanas untuk menghangatkan udara. Seruas jari harus dipotong untuk menyelamatkan tangan.

Dunia Abdullah limbung tanpa kehadiran Pari. Pari adalah belahan jiwanya, orang yang paling dekat dengannya dan paling dicintainya.

Secara keseluruhan, novel ini berkisah tentang hubungan antara manusia, yang sebenarnya saling mencintai, namun karena berbagai alasan maka orang-orang yang saling mencintai tersebut justru terpisahkan, atau terasa begitu jauh satu sama lain dan tak saling memahami.

Ada kisah antara Pari dan ibu angkatnya (yang Pari anggap sebagai ibu kandungnya selama berpuluh-puluh tahun). Ibunya, Nila Wahdati, penyair berbakat yang selalu merasa tak bahagia. Nila Wahdati membebani Pari dengan harapan-harapan agar putrinya dapat menambal lubang-lubang yang kosong yang dirasakannya, namun Pari dianggapnya gagal melakukan tugasnya, sekalipun Pari tumbuh menjadi anak yang baik dan pintar. Pukulan terkeras bagi Nila Wahdati datang ketika Pari memutuskan untuk menjalin hubungan dengan mantan kekasih ibunya. Nila Wahdati tenggelam dalam depresi yang kian parah hingga akhirnya bunuh diri, membebani Pari dengan rasa bersalah seumur hidupnya. Pari akhirnya berpisah dengan kekasihnya tersebut. Walaupun kemudian Pari menemukan orang yang tepat untuknya, menikah, memiliki anak, pekerjaan yang baik dan membangun hidupnya, Pari selalu merasakan ada bagian yang kosong dalam hatinya, kekosongan akan sesuatu atau seseorang yang penting dalam hidupnya. Dan jauh bertahun-tahun kemudian, melalui pertolongan karakter-karakter lainnya, Pari mengetahui penyebab kekosongan tersebut, dan nasib akhirnya mempertemukan Pari kembali dengan kakak yang sangat dicintainya, belahan jiwanya, Abdullah.

Ada juga kisah tentang Markos Varvaris, dokter bedah kelahiran Yunani yang menjadi sukarelawan internasional di Kabul pada masa setelah perang usai. Markos Varvaris menuturkan kisahnya bersama Thalia, anak perempuan yang pada suatu hari berkunjung ke rumahnya untuk tinggal selama beberapa waktu dengan mereka. Thalia, yang walaupun dikaruaniai kecerdasan mengagumkan dan minat terhadap sains, namun memiliki cacat fisik karena sebagian wajahnya rusak akibat diterkam anjing semasa ia kecil. Cacat fisik tersebut menjauhkan Thalia dari kehidupan normal dan orang-orang. Di rumah Markoslah, bersama dengan ibu Markos yang tegas, Thalia diterima dengan tulus untuk pertama kalinya, sampai akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di rumah itu selamanya. Markos, yang karena ketidakcocokan dengan ibunya, telah memilih untuk meninggalkan rumah, berkelana mengelilingi dunia hingga akhirnya memilih untuk menetap di Kabul, pada akhirnya menyadari bahwa orang-orang terdekat yang paling dicintainya justru adalah orang-orang yang selama ini ditinggalkannya, ibunya dan Thalia.

Ada pula kisah tentang Pari, Pari yang satunya, yang tumbuh besar di Amerika masa kini. Pari yang kehilangan kesempatan untuk masuk sekolah seni dan menikah karena harus mengurus orang tuanya yang sakit. Pari yang akhirnya, menjadi simpul penutup cerita, yang mempertemukan keluarga yang tercerai berai berpuluh tahun lamanya.

Novel ini memiliki banyak karakter utama, yang masing-masing menjadi penutur dalam setiap bab. Setiap karakter memiliki masalah dan pendapatnya masing-masing, dan berada dalam setting yang berbeda-beda baik dalam tempat maupun waktu. Membaca novel ini rasanya kita berada dalam mesin waktu melintasi berbagai negara, berbagai kota, dan dalam berbagai kurun masa.

Dalam setiap babak Hosseini menghadapkan kita pada kepingan-kepingan puzzle yang saling berhubungan, terjalin sedemikian rupa, di antara tokoh-tokoh yang baik jauh maupun dekat saling terkait, hingga akhirnya membentuk satu kerangka kisah.

Saya sudah menduga sejak kisah dibuka, bahwa kisah akan ditutup dengan pertemuan Pari - Abdullah, namun Hosseini menuturkan dengan lincah, melalui mata, mulut dan hati berbagai karakter, cukup untuk membuat kita bertanya-tanya, siapa dia dan apa hubungannya dan bagaimana nanti akhirnya, sehingga terhindar dari kebosanan untuk menyelesaikan 512 halaman novel tebal ini. Memang ada beberapa bagian yang membuat saya sedikit mulai dirayapi kebosanan, di antaranya pada bab Markos Varvaris bercerita. Rasanya penulisan masa muda Markos yang menghambur-hamburkan uang warisan Thalia untuk berkeliling dunia dan melepaskan tanggung jawabnya terlampau panjang, sehingga membuat saya tidak sabar, "Terus kapan nih orang tobatnya?" Tapi tepat ketika kebosanan mulai merayapi, Hosseini memberikan jawaban dan melanjutkan alur cerita.

Dalam novel ini, Hosseini berkisah dengan plot maju mundur yang lumayan sering. Sehingga saya harus benar-benar membaca dan mengingat di awal bab, babak itu diceritakan dalam kurun waktu kapan, agar tidak membuat kebingungan di tengah-tengah bab, karena lompatan jarak waktu yang dibuatnya dengan sebelumnya seringkali begitu jauh.

Satu yang mengganjal bagi saya adalah tersisanya satu teka-teki, satu jari yang masih terpisah dari tangannya, satu keluarga yang masih tercerabut dari lainnya, padahal merupakan salah satu bagian dari karakter utama novel ini. Iqbal, adik tiri Abdullah dan Pari, bersama anak lelakinya Gholam dan anggota keluarganya yang lain, kembali ke Afganistan dari kamp pengungsian mereka di Pakistan. Iqbal dan Gholam menemukan bahwa di atas tanah yang mereka tinggalkan sekian lama, kini dimiliki oleh seorang mantan komandan perang Afganistan yang kaya raya, yang tinggal di sana bersama anak lelakinya, Adel, yang seusia Gholam. Adel dan Gholam dalam waktu singkat menjadi sepasang kawan rahasia.

Cerita berikutnya menuturkan bahwa Iqbal dan Gholam gagal mengambil kembali tanah mereka karena dokumen resmi tanah mereka dimusnahkan oleh hakim yang disuap oleh ayah Adel. Iqbal yang merasa frustrasi kemudian mendatangi rumah ayah Adel dan melemparinya dengan batu, yang membuat mantan komandan berang, kemudian bersama-sama para pengawalnya mereka membawa Iqbal pergi dan tak pernah kembali. Adel, yang sejak saat itu tak pernah lagi melihat Gholam, akhirnya menyadari siapa sebenarnya ayahnya, sang mantan komandan. Sepeninggal Iqbal, Gholam harus menjadi tulang punggung keluarganya dan membawa ibu, adik dan neneknya mencari tempat tinggal baru.

Di sinilah yang menjadi ganjalan bagi saya, sampai akhir tidak dikisahkan bagaimana nasib Gholam dan keluarganya. Hanya disebutkan bahwa Pari sempat berusaha mencari Iqbal dalam suatu perjalanannya ke Afganistan, namun tidak menemukan petunjuk. Rasanya tidak adil membiarkan Gholam tersesat sendirian, sementara unsur-unsur keluarga yang lain satu persatu akhirnya bertemu dan berkumpul kembali.

Tapi inilah hidup, bukan? Tidak semuanya selalu sejalan dengan apa yang kita impikan. Setiap orang harus bertahan dengan caranya masing-masing, demikian pula Gholam. Mungkin, di masa depan nanti, nasib akan mempertemukannya kembali dengan Adel. Mungkin pula, kelak Adel, yang telah memahami siapa sebenarnya ayah kandung yang dibangga-banggakannya, yang tak lain adalah seorang dedengkot penjahat perang dan gembong narkotika, mungkin saja akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki kehidupan sebuah keluarga yang telah dirusak oleh ayahnya.

Setelah menyelesaikan novel ini, saya masih merasakan pesona Hosseini seperti ketika selesai membaca A Thousand Splendid Suns dan The Kite Runner, malah saya lebih bisa menikmati novel ketiganya ini. Banyak review yang mengatakan bahwa novel ketiganya ini bagus, namun tidak secemerlang novel pertama dan kedua. Saya justru merasa paling bisa menikmati And The Mountains Echoed. Mungkin karena pada masa novel pertama dan kedua dulu saya masih muda :D, sehingga belum sabar membaca serta meresapi apa yang coba dituturkan oleh pengarang.

Hosseini adalah pendongeng yang hebat dengan ciri khas penulisan yang kaya detail dan bersuasana muram. Dia gemar menunjukkan hidup dari sisi yang keras, sulit dan penuh lubang. Dia ahli mematahkan hati, jadi siap-siap untuk anda yang punya perasaan sensitif seperti saya :D berisiko sesak di dada. Namun, khas Hosseini, selalu ada titik terang dan senyum di beberapa tempat, yang mencoba menyampaikan kepada kita, bahwa akan selalu ada harapan.

Karena menurut saya novel ini (sungguh) bagus, dan diterjemahkan dengan baik pula, saya memberikan 4 dari 5 bintang.

Hosseini masih favorit saya, dan semoga kita tidak perlu menunggu sampai enam tahun berikutnya (lagi) untuk membaca karya berikutnya.