-->

Pages

Thursday, November 14, 2013

A Note Before Bed





I think I deserve something beautiful.” ―  Elizabeth Gilbert.

Jam menunjukkan pukul 00:02 WIB ketika saya mengetik artikel ini, di kamar hotel di Bandung, di tengah acara dinas kantor, sesaat setelah meeting bersama rekan-rekan dan mengecek beberapa persiapan untuk acara esok pagi.

Rasanya? Jangan tanya. Capek luar biasa. Apalagi persiapan acara ini menyita waktu dari beberapa minggu sebelumnya. Dan rasa lelah itu masih ditambah kangen bukan alang kepalang, pada keluarga yang ada di rumah. My two precious.

Tapi bukannya tidur, saya malah duduk di sini, membuka laptop dan mulai mengetik. Saya masih punya hutang janji. Hutang yang harus ditepati, karena saya telah sepakat sedari awal untuk memulai, maka teriring pula tanggung jawab untuk melunasi. Rasanya, saya tidak akan bisa tidur sebelum jatah setor tulisan ini selesai. Walaupun sejatinya tidak tahu persis, apa yang akan saya tulis.

Ah... Kali ini biarkan saja jari-jari ini mengetik mengalir apa adanya. Kalau di tema minggu pertama, kedua, dan ketiga kemarin saya masih bisa melakukan riset untuk bahan tulisan, untuk kali ini rasanya saya tak sanggup. Biarlah untuk sekali ini saja, tulisan ini tumpah dengan sendirinya, sesuka tangan ini menulisnya.

Sepertinya belum lama ya, deadline postingan pertama, kedua dan ketiga berlalu. Tiba-tiba saja sudah minggu terakhir. Time flies. Tanpa terasa, waktu turut menderu bersama kita. Ketika kita berlari-lari melintasi hari, dia pun turut berderap di sisi, seringkali tanpa kita sadari.

Kalau diingat-ingat lagi, mengapa saya ikut lomba ini, semuanya berawal dari tweet yang saya baca di timeline hari Senin, 21 Oktober 2013 lalu. Ada lomba blog, katanya. Hadiahnya Acer Aspire E1. Entah bagaimana, tiba-tiba saja tanpa pikir panjang saya mendaftar, beberapa saat sebelum deadline pendaftaran ditutup. Pada saat itu saya tidak menduga implikasi dari urusan daftar-mendaftar ini bisa menjadi rentetan hal yang mendebarkan, melelahkan, sekaligus menyenangkan.

Sungguh, menulis itu tidak semudah kelihatannya. Kecuali anda berhasil membuat playlist musik yang mampu mengorbitkan mood sampai ke langit ketujuh, dan membuat kata-kata terjalin keluar dari kepala begitu saja seperti untaian mutiara. Namun sayangnya, emosi yang mengalun dari lagu-lagu cinta, hanya membantu pada saat menulis cerita fiksi. Bukan untuk artikel seperti ini.

Tapi sungguh pula, ketidakmudahan itu tidak membuat menulis kehilangan daya tariknya, bagi saya. Seperti anak-anak yang menanti gula-gula kapas. Dari bentuk kristal gula pasir, yang dituang ke dalam mesin pemutar, menjadi serat-serat tak beraturan, kemudian dipintal tanpa pola; tanpa kejelasan akan jadi apa nanti benang-benang halus itu. Dan tiba-tiba saja dia sudah menggembung dengan cantiknya, menggoda siapa saja yang melihatnya. Bagi saya, menulis pun begitu. Lebih sering saya tak tahu akan seperti apa hasil akhirnya. Saya hanya mulai saja. Dan kata-kata yang memilih bentuknya sendiri.

"Seperti masih kurang saja maumu ini dan itu, yang kurang itu waktu tidurmu." kata seorang sahabat ketika saya menceritakan rangkaian 30 Hari Blog Challenge ini. Empat deadline tulisan berbeda, dalam empat minggu, dengan tema yang nyaris sama. Fiuhh... Menguras energi. Dengan tema seputar gadget, yang sebenarnya jauh dari genre saya.

Tapi ternyata pilihan saya tidak keliru. Kompetisi ini sungguh menyenangkan. Berada di antara sesama Emak yang aktif, cerdas dan melek teknologi, menularkan aura positif kepada saya. Saya mulai menulis lagi setelah sekian lama pasif karena tenggelam oleh pekerjaan kantor dan urusan rumah tangga. Bersama para Emak yang punya passion menulis, semangat itu hidup lagi, dan ide mulai tumpah ruah di kepala. Pada akhirnya menang atau kalah adalah nomor sekian, yang terpenting adalah berani menantang diri sendiri, sejauh apa saya bisa mencapai, sebaik apa usaha yang bisa saya lakukan, sebesar apa saya bertumbuh, berkembang, dan memperbaiki diri.

But most of all, I write because I love writing.

Tiga minggu telah terlewati dengan cicilan hutang yang terlunasi. Dan kali ini saya pun yakin akan berhasil juga. Walaupun di antara himpitan pekerjaan dalam kehidupan nyata, walau harus mengurangi banyak jatah waktu tidur, walau sebagian besar dari tulisan-tulisan itu dikerjakan lewat tengah malam hingga dini hari ketika saya jauh dari rumah dan keluarga tercinta, walaupun dengan notebook pinjaman suami, karena notebook milik saya terlampau berat dan tebal untuk dibawa pergi kesana kemari. Walaupun dengan galau dan kangen yang campur aduk.

Tapi saya pasti menyelesaikannya. Dan sudah berusaha sebaik yang saya, penulis amatiran ini, bisa lakukan.

Setelah semua kerja keras itu, rasanya saya berhak memberi hadiah dan ucapan terima kasih pada diri sendiri. Dan Acer Slim Aspire E1, yang didukung performa Intel® Processor di dalamnya, akan menjadi hadiah kejutan yang manis. Saya tidak perlu lagi rebutan notebook tipis dengan suami, saya bisa lebih banyak menulis, sekaligus tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya. Setelah hari-hari yang melelahkan dalam pekerjaan, keriuhan kompetisi dan tekanan deadline selama beberapa minggu terakhir ini, adakah kado yang lebih indah?

Saya menelan tegukan terakhir dari cangkir teh yang telah menemani sejam belakangan ini. Tanpa terasa sudah pukul dua dini hari. Masih ada tanggungan laporan yang belum diselesaikan. Tapi kali ini, rasanya sudah benar-benar tak sanggup lagi.

"Slow down mummy, I know you work a lot.
But sometimes mummy, it's nice when you just stop."

Quote R. King yang terpasang di status update seorang teman, membuat saya tersenyum.

Ah... sudahlah. Kali ini mari kita tidur saja, melepaskan penat dan tegang urat kepala, mengistirahatkan mata dan hati. Sembari berharap, esok pagi, mungkin pekerjaan akan menyelesaikan dirinya sendiri.

I think I deserve something beautiful.

--


Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.