-->

Pages

Wednesday, April 10, 2019

2019 : A Journey to Less Waste

Dari dulu saya punya ketertarikan dengan green life style, sustainable living, minimalism, dan sebangsa tema-tema ramah bumi lainnya. Mungkin karena saya dibesarkan oleh orang tua yang suka berkebun dan memelihara hewan (kalkun, ayam, kelinci, marmut, hamster, ikan - yang terakhir ini malah countless saking udah ngga keitung jumlahnya mulai dari akuarium toples, akuarium gede, akurarium built-in di tembok sampai kolam). Hobi berkebon dan gemar sama yang ijo-ijo itu menurun juga pada saya. Hobi itu lalu meluas menjadi ketertarikan pada gaya hidup hijau.

Emang seberapa hijaunya? Belomlah apa-apa sodara2 😁 masih bagaikan remah-remah tepung terigu yang hilang tertiup angin. Saya udah pernah cerita di postingan yang ini kan ya, waktu ikutan Plastic Free July dan sampe pertengahan gagal. Mostly karena di bulan itu ada banyak rapat di kantor, yang artinya banyakkk snack rapat 😁 dalam bentuk kopi, makan siang, dan cemilan yang rata-rata diplastikin/dikerdusin biar gampang dibawa peserta kalau selesai acara dan balik ke tempat masing-masing. Padahal semangat Plastic Free July kan avoiding single use plastic ya, hiks...

Waktu baca bukunya oma Rhonda Hetzel tempo hari yang membahas Simple Living (ada di postingan yang ini), oma Rhonda juga menekankan pentingnya awareness terhadap lingkungan, salah satunya melalui gaya hidup ramah bumi dengan mengurangi sampah yang kita hasilkan, baik secara langsung (sampah yang kita buang) atau tidak langsung (sampah yang dihasilkan dari rantai produksi barang-barang yang kita gunakan, mulai dari proses menghasilkan bahan baku, pengolahan sampai barang jadi, pengiriman sampai akhirnya tiba di tangan kita).

Lalu kemarin, di IG saya lihat postingan tentang buku Erin Rhoads The Rogue Ginger yang baru launching tahun lalu "Waste Not : Make a Big Difference by Throwing Away Less". Sampulnya cantik, reviunya bagus, dan temanya pas dengan ketertarikan saya, so langsung saja saya search di Google Play Book, dan ADA!

Saya baru membaca sebagian buku ini (belum selesai, masih berproses), tapi saya sudah jatuh hati dengan tulisan Erin. Erin menulisnya dengan sangat baik dan mudah dipahami, tapi tidak mudah dilewatkan begitu saja. It's thought-provoking. Yes we know that plastic bags pollute our land and water and they never break down. Tapi yang paling menyesakkan adalah cerita tentang bagaimana plastik mengancam kehidupan laut.

Sumber : Instagram @hijau_id

Plastik mengancam kehidupan laut bukanlah hal baru. Banyak satwa laut yang mati karena laut tercemar oleh plastik. @hijau_id menulis dalam postingan akun Instagramnya tentang paus yang ditemukan mati dengan 22 kilogram sampah plastik di dalam perutnya, berupa kabel listrik, piring plastik, kantong plastik, jaring pancing, dan plastik bungkus deterjen. @hijau_id juga menulis dalam postingannya, bahwa Indonesia mendapat peringkat ke-133 dari 136 negara dalam Environmental Sustainability Index 2018 oleh World Economist Forum, menyedihkan bukan?


Plastik sangat sulit terurai di alam, bisa memakan waktu ratusan hingga ribuan tahun. Plastik yang diklaim ramah lingkungan pun tetap membutuhkan waktu lama untuk terurai, dan selama itu tetap akan menjadi sampah. Bayangkan dalam sehari berapa plastik yang kita buang, mulai dari bungkus makanan, tas kresek, dan bungkus-bungkus lainnya, dan di setiap lembar plastik yang kita buang ke tempat sampah berkonsekuensi ratusan bahkan mungkin ribuan tahun "tetap menjadi sampah" yang memenuhi bumi kita.

Rasanya kalau melihat fenomena di atas, tidak ada pilihan lain bagi kita selain berusaha mengurangi sampah plastik, paling tidak dari diri dan rumah kita sendiri. Kalau belum bisa zero waste, ya paling tidak mengupayakan untuk less waste. Mengurangi sampah memang perlu usaha dan kemauan keras, saya juga masih jauh dari berhasil. Masih ada sampah plastik yang saya hasilkan sehari-hari karena belum menemukan alternatifnya, salah satunya adalah sampah bungkus kopi sachet. Setahu saya belum ada kemasan kopi instan campur gula dan susu (macam coffeemix itu lah) yang ada dalam bentuk kardus (bukan bungkusan kecil per porsi). Atau ada yang bisa memberi tahu saya dimana saya bisa membelinya? Less waste is a journey, saya masih harus banyak belajar, tapi paling tidak saya sudah berupaya memulai.

Wednesday, December 5, 2018

Busy Here, As Always...

Hari ini blog yang saya follow, Diary of a stay at home mom, menulis tentang rutinitas sehari-harinya yang sibuk. Rutinitasnya seputaran perkara masak, nyuci, bersih-bersih, nganterin anak, dan hal-hal lain khas ibu-ibu. Tapi, nggak habis-habis dan memakan waktu. Tau-tau aja matahari sudah tenggelam dan hari akan berganti, menyisakan badan yang capek setelah dipaksa bergerak kesana kemari. Ibuibu pasti ngerti deh, yang namanya kerjaan dan urusan rumah itu gak ada habisnya. Diselesaiin satu eh muncul lagi seribu.


Saya jadi inget, tempo hari saya baca storynya mbak-seleb-IG-paporit @nenglita tentang pertemanan yang berakhir (atau nggak melulu berakhir kali ya, merenggang aja). Salah satunya karena growing different path, as simple as that. Well, it makes me think of myself too.



Saya jadi ingat di masa-masa single dulu (masa-masa semangat 45 jiwa muda belia bebas merdeka πŸ˜ƒ), things were much simpler. Mau pergi kemanapun, hayuk. Diajak jalan di last minute, bisa langsung caww. Pergi cuma bawa tas kueciiil atau malah ga bawa sama sekali karena dompet sama hape bisa disakuin. Bahkan mau pergi yang memakan waktu berhari-hari (saya pernah duty trip dua bulan full dan nggak pulang sama sekali), no problemo. Masa-masa anti ribet sedunia.



Trus begitu sekarang menikah dan punya buntut 😁 hidup berubah jauh bok. Saya bekerja kantoran dengan jam kerja standar (ya over2 banyak dikit lah kalo pas deadline πŸ˜ƒ), kebayang kan weekday banyak tersita buat kerjaan. Asisten rumah kami, karena terinspirasi nyonya, kerjanya juga weekday and office hour. Kalo saya pulang, ya dia pulang juga πŸ˜†. It means I do all homeworks by myself when I am home. Jadi sampe rumah masih ngurusin tetek bengek mulai dari megang anak-anak, nyuci, masak, bebersih. Itu baru yang rutinitas harian, belum rutinitas wiken. Nganterin ekskul atau jalan-jalan, belanja bulanan atau sekedar di rumah aja berkebon, atau foodprep, atau bikin kue, atau merajut. My days are always busy.








Saya terkenal susah diajak jalan, ketemuan, atau reunian, atau sebangsa ngumpul kopdar-kopdar lainnya. Nggak cuma satu dua temen yang punya pendapat begini, tapi lumayan banyak. Ngga mau kopdaran? Mau lah, sebenernya. Kangen juga kan ngumpul sama teman-teman, ngobrol hosip hosip terkini 😁 Tapi setelah ditimbang-timbang lagi tiap mau kopdar, manfaat sama mudharatnya πŸ˜„ ujung-ujungnya sering berakhir nggak jadi ikut. Misalnya nih, kalau mau jalan habis jam kantor, kasian anak-anak karena waktu family time ngumpul rame-rame jadi berkurang. Jangankan mau jalan, lha wong jalan macet dan pulangnya telat setengah jam aja anak-anak bisa berkali-kali nelpon "Udah sampe manaaaa?" Nah, kalau nggak jalan di hari kerja, berarti jalan pas wiken. Jalan wiken = jalan bawa anak-anak sekalian. Ini termasuk perkara yang butuh pertimbangan seksama πŸ˜ƒ.

Saya bukan aliran hidup sederhana (baca: bawaan ringkes) kalau harus jalan bawa anak-anak. It has to be (very) well planned. Mau berangkat jam berapa, pulang jam berapa, mau makan dimana, mau bekal apa (anak bontot picky eater banget, nggak bisa easy peasy mampir makan seketemunya warung), kira-kira hujan apa enggak, kira-kira perlu baju ganti apa enggak, kira-kira toiletnya gampang diakses dan bersih nggak. Selamat datang di masa paling ribet sedunia. Jadi karena itu, kalau tujuannya nggak mudah diakses nih, atau nggak strategis dari sudut pandang ibuibu, atau setelah dipikir-pikir lebih banyak manfaatnya diem di rumah atau pergi yang deket-deket aja daripada nekat bertualang nan jauh ke sana, sering berakhir nggak jadi pergi juga. πŸ˜„

Yang paling susah dari semua itu sebenernya adalah menjelaskan ke pihak-pihak pertemanan kenapa kita nggak bisa/nggak jadi pergi. Not everyone understand, though. Saya di masa-masa single dulu juga nggak pernah bisa mengerti kenapa ibuibu bawaannya pengen pulang melulu, ribet banget, banyak alasan, susah diminta ini itu endebre endebre.... And now I am here, part of them. πŸ˜ƒ



Saya nggak menyesal sih. Saya juga tidak berharap semua pihak akan mengerti. Ada teman yang sangat travel-able walaupun sudah menikah dan punya anak, keren, dan saya salut banget. Tapi bagi kami, yang paling nyaman dan cocok untuk kami saat ini ya seperti ini. Every family has their own way. Setelah hari yang sibuk dan rauwis-uwis, akhirnya momen terbaik adalah ketika kami semua berkumpul, entah itu sekedar nonton tivi sambil usel-uselan di sofa, atau duduk di meja makan untuk makan sama2.



"Life is not always perfect, things don't always go as you would like, but it's moments like these that make me sigh with contentment.

I'm an easy girl to please, I don't ask for much but to be surrounded by those I love the most.

I'm sitting now, tired from being on the go all day, but it's a good kind of tired, it's the kind that comes with a sense of accomplishment.

And so, though my routines and schedules are going to be very much different for a while, I embrace it because it keeps be on my toes, and it keeps me busy and gives me a renewed sense of purpose."

Sandra, you said it beautifully. I can't agree more.


Wednesday, September 12, 2018

Granny Square Day 2018

Hooray, August is granny square day!

Granny square doodle dari buku The Tiny Book of Tiny Pleasures


Eh, udah September yak?!?!

Lah maaak... ini postingan nongkrong di draft sejak bulan Agustus tapi mak mimin teu sempettt ngedit 'n publish, ujug-ujug udah Septemberrr....

Ah yasutralah.. udah ada di draft ya sayang-sayang amat yak kalo ngga dilanjut πŸ˜‚. Mari kita anggap ini masih bulan Agustus πŸ˜‚.

Wokei, apakah para pembaca sudah tahu apa itu granny square? Granny square adalah helai rajutan berbentuk kotak/ bujursangkar, umumnya dibuat dengan teknik crochet, tapi tidak menutup kemungkinan menggunakan teknik lain juga seperti knitting atau weaving. Granny square day dimulai tahun 2014 oleh Susan Regalia (@suregal27), ”I had just learned to crochet and was enamoured with the cheerful little granny square, and the idea of having a Grannysquare Day was born.”

Pola grafik rajutan granny square sederhana


Aturan granny square day sederhana saja, setiap tanggal 15 Agustus, upload satu foto granny square motif apa saja ke Instagram, crop/potong pinggiran foto sehingga satu foto hanya berisi satu granny square penuh tampak depan/flat lay. Jangan lupa gunakan hashtag #grannysquareday2018!



Tahun ini saya diingatkan oleh teman sesama perajut di waktu luang berbasis mood nyaris menjelang tenggat waktu upload (ini mau ngetag website handsy craftsy-nya si teman, ternyata website lamanya gak sengaja kedelet πŸ˜“ dan saya gak apal alamat website barunya). Untung punya stok granny square di tumpukan rajutan, langsung difoto. Ya mohon dimaapkan kalo burem, motretnya juga malem2 😁




Granny squares made by saya 😁


Hal paling keren di granny square day adalah bila kita mengecek hashtag #grannysquareday2018 di Instagram, berbagai macam square yang diupload akan membentuk kolase, menjadi virtual granny square blanket! Coba deh lihat betapa cantiknya beberapa skrinsyutan hashtag #grannysquareday2018 yang saya upload di bawah :



Beautiful virtual granny square blanket dari hashtag #grannysquareday2018

Granny square dari idola saya sepanjang masa, Lucy Attic 24 (@attic24)

Weaving squares dari Susan (@suregal27)

Cantik-cantik yaa.... Granny square day is a great source of inspiration and a brilliant community project. Senang bisa bergabung dengan #grannysquareday2018 tahun ini, dan semoga bisa bergabung kembali di tahun-tahun berikutnya!