-->

Pages

Wednesday, January 15, 2014

Book Review : The Kitchen House

Akhirnya selesai juga buku pertama di tahun 2014. Butuh sekitar 9 hari untuk membacanya, hoho. Lama yaa.. :D Tapi untunglah selesai. Saya sendiri bahkan tadinya nggak yakin bisa menyelesaikan buku ini, karena udah lamaaa sekali nggak baca buku bahasa Inggris. Terakhir baca buku bahasa Inggris ya Eat, Pray, Love-nya Elizabeth Gilbert, jaman dahulu kala waktu masih lajang. Sementara sekarang udah punya buntut yang udah sekolah dan ceriwis pisan. Bertaun-taun yang lalu berarti yak.

Sebenernya nggak niat mengawali Reading Challenge taun ini dengan buku ini. Ceritanya, pas lagi pacaran jalan-jalan sama Mr. Coffeeholic ke Gramedia, bengonglah saya di depan rak buku impor. Tadinya maksudnya cuma lihat-lihat aja, eh tetiba Mr. Cofeeholic (yang mungkin kasihan melihat saya bengong) mencetuskan pertanyaan retorik, "Mau?"

Hah?? Nanya saya mau apa enggak?
Lah ya jelas mauu.. pakek nanya :D :D 
Tanpa banyak ba bi bu lagi dengan riang gembira pun saya langsung nyaut The Kitchen House, yang sudah membuat kepincut hati dari sejak pertama bengong di depan rak buku impor. 

Membaca halaman-halaman awal buku ini lumayan penuh perjuangan karena udah lama nggak baca novel bahasa Inggris, jadi perlu adjustment karena belum terbiasa. Setelah satu bab terlewati baru mulai terbiasa, mulai enak mengalir bacanya, dan seterusnya sampai selesai.

Ok, enough chit chat :D 
Sekarang mari kita mulai tujuan utama postingan ini, yaitu mereview buku The Kitchen House.



Judul : The Kitchen House
Pengarang : Kathleen Grissom
Bahasa : Inggris
Penerbit : Touchstone

Tebal : 365 halaman
Diterbitkan pertama kali : Februari 2010

Format : Paperback
Target : Dewasa

Genre : Historical fiction
Beli di : Gramedia








Sinopsis :
When a white servant girl violates the order of plantation society, she unleashes a tragedy that exposes the worst and best in the people she has come to call her family. Orphaned while onboard ship from Ireland, seven-year-old Lavinia arrives on the steps of a tobacco plantation where she is to live and work with the slaves of the kitchen house. Under the care of Belle, the master's illegitimate daughter, Lavinia becomes deeply bonded to her adopted family, though she is set apart from them by her white skin.

Eventually, Lavinia is accepted into the world of the big house, where the master is absent and the mistress battles opium addiction. Lavinia finds herself perilously straddling two very different worlds. When she is forced to make a choice, loyalties are brought into question, dangerous truths are laid bare, and lives are put at risk.


Review :

"Abinia," he said, pointing toward the chickens, "you look at those birds. Some of them be brown, some of them be white and black. Do you think when they little chicks, those mamas and papas care about that?"

Hal pertama yang membuat saya jatuh hati dan memilih buku ini adalah kavernya. Kenapa kavernya? Karena kavernya menggambarkan setting yang melatarbelakangi sepanjang jalan cerita The Kitchen House, yaitu Amerika pada akhir abad ke 18 dimana perbudakan masih merupakan hal yang lazim. Novel dengan setting yang khas seperti ini, apalagi melibatkan sejarah di masa lalu, sungguh merupakan my-cup-of-tea genre.

The Kitchen House mengisahkan tentang Lavinia, gadis kecil berusia 7 tahun yang menjadi yatim piatu dalam perjalanan berlayarnya dari Irlandia ke Amerika. Setelah kapal berlabuh di Amerika, kapten kapal membawa Lavinia pulang ke rumah besarnya di sebuah perkebunan tembakau di Virginia, dan menempatkan Lavinia sebagai pembantu di rumah dapur (the kitchen house). The kitchen house yang digunakan para budak untuk memasak makanan bagi penghuni rumah besar berada di bawah pengawasan seorang gadis berdarah campuran negro dan kulit putih bernama Belle. Belle sebenarnya adalah anak yang tidak diakui hasil hubungan antara kapten dengan salah satu budak negro wanitanya. Cerita The Kitchen House dituturkan dari sudut pandang dua orang tokoh utama yaitu Lavinia dan Belle. 

The Kitchen House menceritakan kehidupan sehari-hari Lavinia, Belle dan para tokoh lainnya. Lavinia, gadis berkulit putih tersebut, kemudian tumbuh besar bersama keluarga barunya, para negro kulit hitam budak Kapten pemilik rumah besar. Lavinia mencintai keluarga negronya, namun status mereka sebagai budak kulit hitam telah menorehkan garis pembatas dengan dirinya yang berkulit putih. Novel ini mengungkap sisi gelap perbudakan, perbedaan harga seorang manusia hanya karena warna kulitnya, sekaligus juga mengungkap sisi humanis melalui cinta yang tulus dalam keluarga.

Sebagaimana dikatakan Lavinia :

"...but the day I was awakened to a new realization and made aware of a line drawn in black and white."

Selain setting yang kuat dalam penggambaran lokasi, kostum, kebiasaan maupun makanan yang berasal dari kitchen house yang merupakan keseharian pada masa itu, setting yang kuat dan menarik dibangun pula dari bahasa yang digunakan para budak negro. Jika diperhatikan, gaya bahasa budak negro ini berbeda dengan bahasa yang digunakan Lavinia. Bahasa negro menggunakan kalimat-kalimat sederhana yang tidak menggunakan grammar dengan seksama.  Iyalah, namanya juga budak. Mana ada sekolah bahasa untuk budak. Kemampuan membaca dan menulis saja merupakan barang mewah bagi mereka. :D

Contohnya pada dialog Mama Mae, budak negro yang bijak dan turut membesarkan Lavinia bersama Belle :
"this I know. What the color is, who the daddy be, who the mama is don't mean nothin'. We a family, carin' for each other. Family make us strong in times of trouble. We all stick together, help each other out. That the real meanin' of family. When you grow up, you take that family feelin' with you."

Tokoh antagonis dalam cerita ini adalah Marshall, anak lelaki kapten, pewaris tunggal perkebunan tembakau Tall Oaks yang temperamen dan alkoholik. Marshall menganggap para budaknya tidak lebih berarti dari kuda-kudanya. Ia melakukan hal-hal keji dan sewenang-wenang, yang menjadi awal konflik di Tall Oaks hingga berlarut-larut dan mencapai puncaknya dengan kematian orang yang sangat dicintai dan dihormati Lavinia.

Plot The Kitchen House berjalan lambat. Bagi yang suka cerita dengan plot cepat dan dinamis, cara bertutur The Kitchen House mungkin bisa jadi membosankan. Pada separuh jalan cerita pertama, konflik masih cenderung datar tidak meruncing, setiap konflik yang muncul tak lama kemudian  selalu memiliki jalan keluar. Baru pada separuh cerita terakhir konflik mencapai klimaksnya. Tapi bagi saya ini adalah keuntungan, karena di awal cerita kita bisa menikmati dan membayangkan kehidupan di Virginia pada masa akhir abad 17 tanpa perlu ngelap keringat karena bombardir masalah yang bertubi-tubi. Di separuh awal novel saya rasanya seperti berjalan-jalan di masa kehidupan Little Missy (yang angkatan 90-an mungkin tahu serial Little Missy, telenovela klasik yang tayang di TVRI setiap hari Minggu. Little Missy juga berlatar belakang masa-masa perbudakan.)



Salah satu adegan dalam Little Missy. Picture taken from here.


Yah, kurang lebih saya membayangkannya seperti di atas lah. :D

Tokoh favorit saya adalah Mama Mae tentunya, karena bijak sekali, so wise lah pokoknya, cekatan, dan sepertinya apa-apa bisa. :D Ia yang mendidik dan membesarkan hampir semua tokoh dalam The Kitchen House dan mengajarkan mereka berbagai hal. Saya membayangkan Mama Mae seperti Whoppie Goldberg. :D

Tuu...pantes kan? Picture taken from here.

Kalau tokoh yang kurang saya sukai, malah pemeran utamanya sendiri, Lavinia. Duh mbak Lavinia, jadi cewek kok ya lemah dan rapuh amat. Bukan salah Lavinia sepenuhnya sih, mungkin karena merasa tidak punya siapa-siapa, maka Lavinia tumbuh besar dengan merasa bahwa bila ia ingin diterima maka ia harus selalu berusaha menyenangkan orang lain, kadang tanpa mempertimbangkan perasaan sendiri. Tapi bagi saya rasanya Lavinia ini nggak-saya-banget. Setiap orang punya hak untuk berjuang, mengungkapkan pendapat dan berbahagia. Pasrah nrimo tanpa berbuat apa-apa padahal di dalam hati sangat tertekan sampai depresi, bukannya malah menyiksa diri sendiri? Rugi amat ya. Lho, kok malah jadi saya yang emosi.. :D :D :D

Secara keseluruhan saya menikmati buku ini. Kalau ada beberapa kritik ya pada beberapa scene yang plotnya rasanya lambat, walaupun ini termasuk wajar karena novel ini mengisahkan kehidupan keseharian seorang gadis sampai dia dewasa, and Kathleen Grissom do pay attention to the details.

Di Goodreads sendiri rating buku ini cukup bagus, yaitu 4.14. Saya sendiri memberikan rating 4 bintang untuk buku ini. Karena walaupun tokoh utamanya tidak terlalu saya sukai, tapi genre novel ini adalah genre saya sekaliii...jadi membacanya pun mengalir menyenangkan. :D

Dengan selesainya novel The Kitchen House ini, saya jadi pede untuk membaca buku bahasa Inggris lagi. Dan moga-moga kali ini ada lagi yang menawarkan diri dengan sukarela untuk menjadi donaturnya. *lirik Mr. Coffeeholic*